Sabtu, 05 June 2010 - 19:02:43 WIB Category: Informasi, Pendidikan dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat - Read: 129 times

Para penggiat konservasi orangutan di Indonesia dan seluruh dunia boleh berlega hati, karena kini kesadaran untuk bekerja sama antara seluruh pemangku kepentingan telah mencapai peningkatan yang positif. Hal ini terungkap dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh OCSP (Orangutan Conservation Services Programme) dan USAID berjudul “Common Ground: Orangutans, People and The Forest” bertempat di Hotel Nikko, Jakarta, 3 Juni lalu.
Selain menghadirkan pejabat pemerintah—Ibu Listya Kusuma Wardhani, MS, Direktur Bina Pengembangan Hutan Alam, Dirjen Bina Produksi Kehutanan—dan pelaku industri terkait—Suseno Kamadibrata, GM Kesehatan, Keselamatan & Lingkungan PT Bumi Group—seminar ini juga mendatangkan tokoh masyarakat yang dinilai berjasa besar dalam upaya konservasi orangutan dan habitatnya, seperti Let Djie Taq (Kepala Adat Wehea. Kab. Kutai Timur, Kalimantan Timur ,peraih penghargaan Kalpataru 2009 dan Bintang Jasa Prata atas darma baktiinya di bidang lingkungan hidup), dan para akademisi yang membaktikan seluruh ilmunya demi konservasi orangutan dan habitatnya seperti Dr. Sri Suci Utami Atmoko, yang juga salah satu anggota Scientific Advisory Board Yayasan BOS.
Dalam seminar yang dipandu oleh Putri Indonesia 2008, Zivanna Letisha Siregar—Duta Orangutan— terungkap bahwa keempat pemangku kepentingan dalam upaya konservasi orangutan dan habitatnya, yaitu pemerintah, pelaku swasta—perusahaan pertambangan dan pengusaha kebun kelapa sawit, lembaga swadaya masyarakat, dan anggota masyarakat, tidak bisa bertindak sendiri-sendiri. Kerja sama erat di antara keempat elemen ini dibutuhkan untuk mencapai keinginan bersama: melepas kembali orangutan ke habitat aslinya, dan mencegah kembali terjadinya semua tindakan manusia yang merusak alam dan habitat orangutan, seperti pembalakan, pembukaan lahan liar, kebakaran hutan, dan perburuan.
Yayasan BOS yang diwakili oleh Prof. Bungaran Saragih sebagai Ketua Dewan Pembina yayasan, menjabarkan berbagai pengalamannya sebagai akademisi, pejabat pemerintah, pengusaha, dan pelaku kegiatan swadaya masyarakat. Pemaparannya berujung pada sebuah kesimpulan yaitu bahwa keempat pemangku kepentingan tersebut harus menggalang kerja sama erat untuk bisa sukses dalam melestarikan orangutan dan habitatnya. Pandangan itu diamini oleh seluruh peserta, dan hal ini sangat sesuai dengan tujuan diselenggarakannya seminar itu sendiri, yaitu membangun sebuah common ground, sebuah dasar pemufakatan, atau titik tolak yang disepakati, dalam upaya konservasi orangutan dan habitatnya.
Masalah yang dihadapi oleh orangutan saat ini adalah tidak adanya tempat hidup yang ideal bagi mereka. Sebagai satwa liar yang habitat idealnya adalah di hutan hujan tropikal Sumatera dan Kalimantan, orangutan bukanlah satwa domestik seperti layaknya kucing atau anjing yang bisa hidup harmonis dengan manusia. Kenyataannya, manusia adalah musuh terbesar orangutan. Oleh karena itu, menyediakan habitat ideal dengan merestorasi hutan yang tak lagi produktif adalah prioritas dalam upaya konservasi orangutan dan habitatnya. Di sisi lain, masyarakat di sekitar hutan juga perlu diberdayakan agar mereka tidak menganggap hutan sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Hal ini juga harus didukung oleh bisnis berbasis lingkungan. Inilah common ground yang harus dicapai agar upaya konservasi bisa berhasil, menurut Prof. Bungaran.
Comment :
|
|
![]() |









