Senin, 31 October 2011 - 11:49:12 WIB Category: Berita Nyaru Menteng - Read: 526 times

Cheetah, salah satu orangutan kandidat pelepasliaran, patah tulang yang cukup parah pada bahunya. Keterbatasan keahlian bedah tulang khusus binatang
Cheetah adalah orangutan betina berusia 12 tahun di Program Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng. Sejak 2006, dia telah dinyatakan lulus dari semua tahapan rehabilitasi “Sekolah Hutan” dan sejak itu pula dia menetap di salah satu pulau sungai di Nyaru Menteng. Keberadaannya di pulau merupakan tahap akhir dari proses rehabilitasi, sebelum dia dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Di pulau-pulau ini, para orangutan hidup bebas selayaknya di hutan yang ada di dalam batas-batas pulau tersebut. Para teknisi (animal caretakers) hanya memberikan suplemen makanan setiap hari, sebagai tambahan atas makanan yang tersedia di hutan.
Pada minggu kedua bulan Oktober, para teknisi melapor kepada tim medis bahwa Cheetah tampak kesulitan menggunakan lengan kirinya; sepertinya dia mengalami cedera di bagian siku. Cedera ringan hingga moderat merupakan hal yang biasa terjadi pada orangutan yang sepanjang hari menghabiskan waktunya di dahan-dahan pepohonan. Dan biasanya, orangutan memiliki kemampuan alami yang luar biasa yang menyebabkan mereka dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi, setelah tiga hari diobservasi, tidak ada tanda-tanda perbaikan yang terlihat pada lengannya, sehingga adanya kemungkinan cedera yang lebih serius tidak bisa diabaikan begitu saja. Maka pada tanggal 15 Oktober, tim medis memutuskan untuk membawanya ke klinik, agar kondisinya bisa diperiksa dengan cermat dan dirawat dengan baik.
Seperti kebanyakan orangutan dewasa yang tinggal di pulau-pulau tersebut, membujuk Cheetah untuk turun dari pohon dan memintanya dengan sukarela diajak ke klinik adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Cheetah harus dibius terlebih dahulu – dan proses pembiusan orangutan yang berada di ketinggian pepohonan tidaklah mudah. Selain tingkat kesulitan untuk membidik target bergerak dengan senjata bius, setelah mereka berhasil ditembak bius pun para orangutan ini cenderung malah memanjat lebih tinggi, lalu tertidur di salah satu dahan saat obat biusnya mulai bekerja. Pulas tertidur, pegangannya pun akan mengendur, sebelum akhirnya terjatuh mereka ke tanah dari dahan tinggi tersebut.Untuk mengantisipasi hal itu, tim penyelamat yang membius Cheetah memasang jaring pengaman setinggi pinggang. Namun terlepas dari upaya terbaik mereka, Cheetah tetap mendarat pada posisi yang janggal.
Cheetah dibawa ke klinik Nyaru Menteng untuk pemeriksaan dan perawatan. Luka di lengan kirinya ternyata cukup dalam dan otot-otot pada bagian tersebut bengkak dan meradang, meskipun tidak terlihat ada kerusakan yang parah. Selain mengobati dan membalut lukanya, tim medis juga memberikan Cheetah antibiotik dan obat-obatan pengurang rasa sakit, serta menginfusnya.
Setelah dimonitor selama beberapa hari, mulai terlihat jelas bahwa Cheetah sangat kesakitan di sekitar bahu kanannya, padahal lukanya ada di lengan kiri. Tim medis lalu melakukan x-ray pada tanggal 19 Oktober, yang hasilnya memperlihatkan patah tulang yang cukup parah pada humerus (lengan bagian atas) pada bagian sambungan bahu, yang kemungkinan besar terjadi pada saat dia jatuh dari pohon. Pada binatang apapun yang seukuran Cheetah, jenis patah ini sangat sulit diperbaiki; terlebih bagi orangutan yang amat memerlukan lengannya untuk menopang beratnya ketika berayun di antara dahan pepohonan di hutan, penyembuhan luka ini akan menjadi sangat menentukan bagi masa depan Cheetah. Jika tulangnya tidak berhasil disembuhkan dengan baik, lengannya harus diamputasi; dan itu artinya Cheetah akan kehilangan kesempatannya untuk dikembalikan ke alam bebas.
Demi keberhasilan penyembuhannya, Cheetah memerlukan ahli bedah tulang (ortopedis) yang sangat berpengalaman, beberapa plat yang dimodifikasi khusus agar pas dengan tulang-tulang Cheetah, serta sebuah operasi rumit yang harus dilakukan dalam jangka waktu dua minggu setelah kejadian, sebelum tulang-tulangnya berusaha memperbaiki diri pada posisi yang salah. Kami sangat beruntung atas kehadiran seorang ahli bedah tulang terkemuka, seorang putra Indonesia, Dr. Endrotomo, yang dengan murah hati terbang dari Jakarta ke Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, dan menyumbangkan waktu, keahlian, serta peralatan bedah yang diperlukan untuk mengoperasi bahu Cheetah.
Dengan sangat bersyukur kami laporkan bahwa pada hari Sabut, 29 Oktober 2011 lalu, Dr. Endrotomo didampingi satu orang asistennya, telah datang ke Kalimantan untuk mengoperasi Cheetah, dibantu oleh tim dokter hewan dari Nyaru Menteng. Meski kini Cheetah masih dalam perawatan intensif menuju kesembuhannya, namun kondisinya cukup stabil dan operasi tersebut selesai dengan sukses. Cheetah telah dipasangi plat titanium (disponsori secara pribadi oleh Dr. Endrotomo sendiri) pada bahu kanannya, yang diharapkan dapat menyatukan tulang-tulang bahunya seperti sedia kala.
Kini, diperlukan waktu penyembuhan minimal dua bulan – dan kesabaran dari pihak Cheetah sendiri – sampai tulang-tulangnya tersambung satu sama lain dan sembuh kembali. Kami semua di Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo berdoa untuk keberhasilan operasi dan kesembuhan Cheetah, agar betina muda yang cantik ini dapat segera kembali berayun-ayun riang di pepohonan.

Sampai saat ini, perawatan Cheetah adalah berkat donasi dermawan berupa perlengkapan medis dan obat-obatan dari WSPA, Boehringer, Abaxis dan Ibu Barbel Kohler; untuk itu BOS Nyaru Menteng sangat bersyukur atas bantuan Anda semua. Kisah tentang Cheetah ditulis oleh Rosalie Dench.
BOS Foundation beroperasi atas donasi-donasi – baik individu maupun perusahaan – dan dana lain yang terkait dengan kegiatan konservasi. Donasi Anda sangat membantu memastikan keberhasilan program rehabilitasi bagi semua orangutan.Kami masih membutuhkan dana dan keperluan lainnya demi keberhasilan perawatan pasca-operasi untuk Cheetah. Jika Anda tergerak untuk membantu kami menyediakan perawatan terbaik bagi Cheetah dalam masa penyembuhannya, maupun membantu semua orangutan lainnya, silakan hubungi kami melalui website www.orangutan.or.id atau email Rini Sucahyo (rini@orangutan.or.id).
vina
16 November 2011 - 15:48:13 WIB
bisa tolong kasih tau cara untuk mengadopsi?
<script>alfa omega</script>
30 December 2011 - 17:21:46 WIB
di jakarta ya ?
Comment :
|
|
![]() |









