Borneo Orangutan Survival Foundation

BOSF

Search

[SIARAN PERS] Yayasan BOS Buka Pulau Pra-Pelepasliaran Baru dan Lepasliarkan Lebih Banyak Orangutan ke Habitatnya


Demi menyukseskan kampanye #OrangutanFreedom yang dicanangkan di tahun 2017 ini, Yayasan BOS hari ini meresmikan sebuah pulau pra-pelepasliaran orangutan yang bertempat di Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari dan melepasliarkan 7 orangutan ke habitat alaminya di hutan

DSC08411-kecil

Samboja, Kalimantan Timur, 11 Juli 2017. Yayasan BOS di Samboja Lestari hari ini akan kembali memindahkan sejumlah orangutan yang telah menuntaskan masa rehabilitasi di Sekolah Hutan ke sebuah pulau pra-pelepasliaran baru berukuran sekitar 3 hektar bernama “Pulau 8”. Pemanfaatan pulau ini bertujuan untuk memperlancar siklus pelepasliaran orangutan dari pusat rehabilitasi ke hutan alami.

Sejak tahun 2012 lalu, Yayasan BOS bekerja keras untuk melepasliarkan kembali orangutan yang telah lama berada di pusat rehabilitasi, dan sejauh ini telah berhasil melepasliarkan total 282 orangutan di Kalimantan, 68 di antaranya di Hutan Kehje Sewen, Kutai Timur. Program pelepasliaran yang ekstensif ini sangat bergantung pada kesinambungan proses rehabilitasi, yang pada gilirannya menentukan kesiapan orangutan untuk sepenuhnya hidup liar dan mandiri di hutan. Tahap lanjutan dari Sekolah Hutan yang memberikan keleluasaan untuk mengasah dan mempertajam ketrampilan hidup liar bagi para orangutan rehabilitasi adalah tahap pra-pelepasliaran di pulau, sebelum mereka dilepasliarkan di hutan.

Yayasan BOS di Samboja Lestari sebelumnya telah memiliki 7 pulau pra-pelepasliaran yang luasnya hanya sekitar 3,5 hektar. Penambahan pulau-pulau baru berukuran lebih besar yang saat ini tengah diupayakan, merupakan terobosan bagi program rehabilitasiorangutan Yayasan BOS.

Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Pada tahun ini kami fokus pada #OrangutanFreedom, dan Yayasan BOS menargetkan pelepasliaran 100 orangutan ke hutan alaminya, baik dari pusat rehabilitasi di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Timur. Ini berarti kita harus melakukan berbagai upaya dan pendekatan yang lebih intensif untuk bisa memenuhi target tersebut. Salah satunya adalah membangun atau menyiapkan pulau-pulau pra-pelepasliaran baru. Di Samboja Lestari, kita sedang menyiapkan 4 pulau buatan baru untuk tempat orangutan melatih kemampuan hidup alami mereka. Kita juga tengah siapkan pulau pra-pelepasliaran di tempat lain, bekerja sama dengan pihak luar. Saya selalu tekankan bahwa konservasi ini kerja bersama semua pihak. Mustahil bagi kami jika kami bekerja keras menyelamatkan orangutan, namun hutan tetap dialihfungsikan dengan kecepatan yang luar biasa. Kami membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk membantu melestarikan orangutan dan rumah mereka, hutan. Kita semua butuh udara bersih, air bersih, dan keseimbangan iklim. Itu artinya kita membutuhkan orangutan untuk memelihara hutan kita yang tersisa, dan kita semua wajib bekerja sama dalam mewujudkan hal ini.”

Selain memindahkan orangutan ke pulau pra-pelepasliaran, di hari yang sama, Yayasan BOS juga akan kembali melepasliarkan 7 orangutan ke Hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur. Ketujuh orangutan yang akan dilepasliarkan hari ini terdiri dari 3 jantan dan 4 betina. Mereka semua dinilai telah menyelesaikan proses rehabilitasi yang panjang melalui sistem Sekolah Hutan dan tahap pra-pelepasliaran, dan telah siap untuk hidup mandiri di alam liar. Ketujuh orangutan akan dilepasliarkan di bagian selatan Kehje Sewen, dan diberangkatkan melalui jalur darat dari Samboja Lestari sore ini. Selama di perjalanan yang berlangusng sekitar 20 jam, tim kami akan berhenti setiap dua jam di jalan untuk memberi makan dan minum serta memeriksa kondisi para orangutan.

Dr. Aldrianto Priadjati, Direktur Konservasi PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) menjelaskan, “Kegiatan pelepasliaran orangutan cukup intensif di Hutan Kehje Sewen. Selama 6 tahun berjalan, kami telah melakukan 12 kali pelepasliaran dengan melepasliarkan 68 orangutan. Oleh karena itu, kami harus dengan bijak memanfaatkan daerah hutan yang tersedia. Kami tidak bisa melepasliarkan orangutan di titik yang sama karena akan berdampak pada timbulnya persaingan atas sumber pakan yang tersedia. Kita harus membuka akses ke sejumlah daerah baru untuk memberi kesempatan terbaik bagi orangutan untuk berkembang. Ini berarti peningkatan biaya operasional karena kami harus membangun kamp baru, menambah jumlah staf monitoring, dan membuka lebih banyak lagi transek monitoring. Kami masih butuh hutan yang lebih luas lagi untuk bisa mengakomodasi lebih dari seratus orangutan lain yang saat ini masih direhabilitasi di Samboja Lestari.”

Kehje Sewen merupakan kawasan hutan hujan seluas 86.450 hektar di Kalimantan Timur yang dikelola dalam skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) oleh PT. RHOI, perusahaan yang didirikan Yayasan BOS di tahun 2009. Di tahun 2010, PT. RHOI memperoleh izin pemanfaatan Hutan Kehje Sewen, terutama untuk tempat pelepasliaran orangutan Samboja Lestari yang telah direhabilitasi, dan program pelepasliaran dimulai di tahun 2012. Berdasarkan survey, hutan ini mampu menampung sekitar 150 orangutan rehabilitasi, dan saat ini telah mengakomodasi hampir separuhnya. Sejauh ini, tercatat ada dua kelahiran alami orangutan di Kehje Sewen, yang menunjukkan indikasi positif bahwa hutan ini merupakan habitat yang cocok untuk reintroduksi orangutan dan konservasi jangka panjang.

Ir. Sunandar Trigunajasa N., Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, mengatakan, “BKSDA Kalimantan Timur sangat menghargai kerja sama yang selama ini dijalin dengan Yayasan BOS. Seperti yang disebutkan Yayasan sebelumnya, kami juga tidak bisa bekerja sendiri. Kami sangat butuh dukungan dan kerja sama dari pemerintah daerah, masyarakat setempat, organisasi, dan pihak swasta untuk melestarikan lingkungan secara umum, dan orangutan secara khusus di Kalimantan Timur. Kita semua tahu bahwa hutan yang berkualitas tak lagi banyak tersisa. Oleh karena itu, mari kita sama-sama jaga yang masih ada, sekaligus bantu pulihkan habitat alami yang sudah terlanjur rusak. Siapapun bisa bantu lapor kepada kami jika Anda lihat penyelewengan atau upaya perusakan alam. Lapor jika ada orang yang memelihara binatang yang dilindungi. Jika Anda punya satwa yang dilindungi, serahkan kepada kami. Berhenti menangkap, membunuh, dan memelihara binatang-binatang yang dilindungi adalah langkah penting yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian alam kita."

Dr. Elisabeth Labes, Co-founder, Head of International Projects and Partner Relations dari BOS Swiss menyatakan, “Setiap tahun, Yayasan BOS menyiapkan sejumlah orangutan untuk hidup bebas di luar kompleks mereka di pusat rehabilitasi. Semakin lama mereka berada di sana, semakin banyak keterampilan yang pupus. Saat ini kita berada dalam situasi yang menuntut kita untuk mempercepat proses pelepasliaran. Atas nama BOS Swiss, salah satu mitra Yayasan BOS, kami sangat senang bisa berkesempatan membantu pendanaan dalam pembuatan pulau-pulau baru di Samboja Lestari termasuk Pulau #8 sekaligus mendukung pelaksanaan pelepasliaran yang ke-13 ke Hutan Kehje Sewen. Pulau-pulau baru ini akan menyediakan lingkungan yang alami bagi orangutan yang berada di pusat rehabilitasi, dan kita semua tentu berharap para orangutan yang dilepasliarkan akan segera membentuk generasi baru orangutan liar di hutan.” 

Inge Setiawati, Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA mengatakan “PT. Bank Central Asia Tbk., mengucapkan selamat atas peresmian pulau pra-pelepasliaran orangutan, di Samboja Lestari. Kami merasa terhormat bisa ambil bagian dalam program yang bertujuan untuk memperlancar siklus pelepasliaran orangutan dari pusat rehabilitasi ke hutan alami ini. Dukungan ini bukanlah yang pertama bagi BCA. Sejak tahun 2012, BCA telah mendukung kegiatan kepedulian terhadap pelestarian habitat satwa yang dilindungi salah satunya orangutan di Kalimantan (Pongo pygmaeus). BCA selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan CSR terkait lingkungan hidup bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki kepedulian dan kapabilitas dalam hal tersebut.”

Pemanfaatan pulau pra-pelepasliaran orangutan dan kegiatan pelepasliaran orangutan ke hutan kali ini terlaksana berkat kerja sama dengan BKSDA Kalimantan Timur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Daerah di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, serta masyarakat Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Yayasan BOS secara khusus berterima kasih atas dukungan moral dan finansial yang diberikan oleh BOS Swiss untuk kedua kegiatan; PT. Narkata Rimba dan PT. Bank Central Asia Tbk. (BCA), untuk dukungan pada kegiatan pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen, serta donor perorangan, dan mitra serta organisasi konservasi di seluruh dunia yang peduli dengan konservasi orangutan di Indonesia.

 

*****************

Kontak:

Paulina Laurensia

Spesialis Komunikasi

Email: pauline@orangutan.or.id

 

Suwardi

Staf Komunikasi Samboja Lestari

Email: ardy@orangutan.or.id

 

*****************

 

Catatan Editor:

Tentang Yayasan BOS

Didirikan pada 1991, Yayasan BOS adalah sebuah organisasi non-profit Indonesia yang didedikasikan untuk konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerja sama dengan masyarakat setempat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan organisasi mitra internasional.

Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 650 orangutan dengan dukungan 440 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.

 

Tentang RHOI

PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) adalah perusahaan yang didirikan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) pada tanggal 21 April 2009, untuk sebuah tujuan spesifik, yaitu untuk mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu untuk Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) bagi pelepasliaran orangutan.

Sebagai sebuah LSM, Yayasan BOS tidak bisa secara legal mendapatkan izin ini. Karena itulah Yayasan BOS membentuk sebuah perusahaan, yaitu RHOI, sebagai sarana untuk mendapatkan izin tersebut. IUPHHK-RE memberikan RHOI otoritas dalam penggunaan dan pengelolaan sebuah area konsesi—dalam hal ini hutan—yang sangat dibutuhkan untuk melepasliarkan orangutan.

Pada 18 Agustus 2010, RHOI berhasil mendapatkan IUPHHK-RE dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, atas lahan hutan seluas 86,450 hektar di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Lahan konsesi ini menyediakan habitat yang layak, terlindungi dan berkelanjutan bagi para orangutan, selama 60 tahun, dengan opsi perpanjangan selama 35 tahun lagi. Dana untuk membayar izin tersebut, sebesar sekitar 1,4 juta dolar Amerika, didapatkan dari para donor Yayasan BOS yang berasal dari Eropa dan Australia.

RHOI menamakan lahan konsesi ini Hutan Kehje Sewen, mengadopsi bahasa lokal Dayak Wehea di mana ‘kehje sewen’ berarti orangutan. Jadi Kehje Sewen adalah hutan bagi para orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website www.theforestforever.com.

ORANGUTAN GOES TO SCHOOL

Hari Bumi Bersama Siswa BCU

Tim kami di Nyaru Menteng, bersama dengan para siswa dan guru dari Sekolah Bina Cita Utama (BCU) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, merayakan Hari Bumi 2017

Selengkapnya

BOSF Media Channel