Apakah kamu member?

[PRESS RELEASE] YAYASAN BOS DI SAMBOJA LESTARI MELEPASLIARKAN 3 ORANGUTAN REHABILITAN

Sehubungan dengan peringatan Hari Bumi, pada hari ini Yayasan BOS melalui programnya di Samboja Lestari melepasliarkan 3 Orangutan rehabilitan setelah lebih dari satu dekade kegiatan pelepasliaran tidak dapat direalisasikan karena ketiadaan hutan yang aman dan sesuai sebagai habitat Orangutan.

Samboja, Kalimantan Timur, 22 April 2012. Pelepasliaran ini melibatkan kolaborasi para pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, serta masyarakat Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.

Ketiga Orangutan – yaitu Casey, Lesan dan Mail – akan dibawa dengan helikopter dari Program Reintroduksi Orangutan dan Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari di Kalimantan Timur ke Hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara pada tanggal 22 April 2012, dan akan dilepasliarkan pada tanggal 24 April 2012 setelah dua hari berada di kandang aklimatisasi sebagai upaya penyesuaian pada lingkungan yang baru.

Hutan Kehje Sewen merupakan hutan yang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) dikelola oleh PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), sebuah perusahaan yang didirikan oleh Yayasan BOS pada tanggal 21 April 2009. Dengan Izin ini, pengelola dapat menggunakan kawasan hutan yang sangat dibutuhkan untuk melepaskan Orangutan rehabilitan dari pusat reintroduksi Orangutan Yayasan BOS di Kalimantan Timur.

Selain dana dari mitra Yayasan BOS yang berada di luar negeri – antara lain Vier Pfoten, BOS Australia dan BOS Swiss – pelepasliaran ini juga didukung oleh kemurahan hati dari Kaltim Prima Coal (KPC), EcoDynamics dan Bank Central Asia (BCA), yang menunjukkan bahwa sinergi yang positif antara sektor swasta dan konservasi memang perlu dilakukan untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan. Dalam mendukung operasi pelepasliaran ini, KPC dan BCA mengatakan bahwa mereka senang bisa bermitra dengan Yayasan BOS dalam menyediakan dukungan logistik untuk pelaksanaan pelepasliaran yang aman bagi Orangutan. Terlaksananya kegiatan pelepasliaran ini juga didukung oleh tersedianya helikopter TNI AU jenis NAS-332 Super Puma dari Skuadron Udara 6 lanud Atang Sendjaja Bogor, TNI Angkatan Udara Republik Indonesia. Penerbangan tersebut dipimpin oleh pilot Mayor Pnb Henri Badawi dan Lettu Pnb Nugroho Tri W.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa didampingi oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup, secara resmi akan menerima Orangutan dan mengirim mereka ke hutan. “Saya sangat bangga melihat Orangutan kita akhirnya akan kembali ke habitatnya, tempat dimana mereka seharusnya berada. Saya sangat senang dapat menyaksikan hari ini, bahwa para Pemangku Kepentingan telah menunjukkan kemauan untuk memberikan kontribusi untuk konservasi keanekaragaman hayati dan berharap bahwa kolaborasi yang lebih besar antar Para Pemangku Kepentingan, termasuk LSM dan Dunia Usaha, akan terus berlangsung untuk mengeksplorasi cara untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan mengidentifikasi praktek-praktek manajemen yang lebih efektif dan berkelanjutan. Hatta juga menambahkan bahwa Pemerintah tetap menjaga keseimbangan kebijakan dalam pembangunan di bidang ekonomi, lingkungan, dan sosial; serta berupaya agar tidak terjadi konflik antara pembangunan ekonomi dan lingkungan,” ungkap Hatta Rajasa.

Selain Hatta Rajasa, hadir pula Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Awang Faroek Ishak, Bupati Kutai Timur Rita Widyasari dan Bupati Kutai Timur Isran Noor.

Menyambung pernyataan Hatta Rajasa, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga menyatakan akan terus mengajak sektor swasta untuk ikut berpartisipasi dalam program pelepasliaran Orangutan ini. “Proses pelepasliaran orangutan di Kalimantan Timur ini akan dilakukan di areal restorasi. Restorasi merupakan kebijakan pemerintah untuk mendukung perbaikan lingkungan dan saat ini kita bisa melihat bagaimana HPH Restorasi digunakan sebagai areal pelepasliaran. Kedepan kita berharap pemerintah daerah juga mendukung kebijakan pengembangan restorasi hutan di wilayah masing-masing. Kita menyadari bahwa proses rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan adalah hal yang tidak murah. Masalah pendanaan, saya akan berada di depan untuk mengajak para pengusaha untuk menjadi sponsor kegiatan pelepasliaran orangutan. Tidak adil juga jika kita menolak bantuan yang mereka berikan. Maka inilah saatnya kita harus bersama-sama mencari solusi yang terbaik,” ungkap Zulkifli Hasan.

Selanjutnya, Menteri Kehutanan menjelaskan bahwa Orangutan merupakan penyebar benih yang efektif. Orangutan dapat melakukan perjalanan hingga 20 kilometer dalam satu hari dan di saat mereka melakukan perjalanan, mereka menyebar benih di seluruh hutan melalui kotoran mereka. Mereka juga membuka kanopi setiap kali mereka membangun sarang, yang memungkinkan sinar matahari untuk menembus ke lantai hutan, yang pada akhirnya dapat memicu benih untuk tumbuh. “Jadi Anda dapat melihat bahwa Orangutan memainkan peranan penting sebagai regenerator hutan. Itulah mengapa kita menyebutnya “spesies payung”. Sebuah populasi Orangutan yang sehat biasanya akan menciptakan hutan yang sehat serta ekosistem yang lengkap dan seimbang,” pungkas Zulkifli Hasan. Menteri Kehutanan bersama dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Lingkungan hidup juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mendukung program rehabilitasi lahan Samboja Lestari dengan penanaman pohon sekaligus sebagai peringatan Hari Bumi.

Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya juga mengatakan, “Sudah saatnya semua pihak benar-benar menyadari pentingnya Orangutan dan mengapa kita melindungi mereka. Sementara dunia sedang berjuang untuk menemukan solusi jangka panjang terhadap pemanasan global dan perubahan iklim, dan menggunakan beruang kutub sebagai ikon untuk masalah ini. Kita harus menyadari bahwa Indonesia dapat memberikan solusi dengan melindungi Orangutan dan habitatnya, hutan.”

Mengenai permasalahan kebutuhan habitat untuk Orangutan, Dr. H. Awang Faroek Ishak menyatakan, “Upaya dan penyediaan lahan merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi bekerjasama dengan pemerintah kabupaten terkait. Upaya tambahan sedang dilakukan bersama kami dengan mengalokasikan hutan untuk konsesi restorasi ekosistem yang dapat digunakan sebagai tempat untuk melepasliarkan Orangutan, terutama Orangutan yang ada di Samboja Lestari. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan Kaltim Green.”

Selain itu, upaya konservasi Orangutan membutuhkan komitmen yang tinggi dan kerjasama dari semua pemangku kepentingan dalam penegakan hukum tentang perlindungan Orangutan. “Jika konflik tidak dapat dihindari, jangan bertindak sendiri, karena melanggar hukum. Silakan bekerja sama dengan Yayasan BOS dan BKSDA Kalimantan Timur untuk bekerja sama dan menemukan solusi,” tambah Gubernur.

Operasi pelepasliaran Orangutan tidak akan berhenti di sini. “Masih ada sekitar 160 Orangutan di Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari yang sedang menunggu untuk dilepaskan kembali ke habitat alami mereka dan sekitar 70 lebih yang tidak bisa dilepaskan karena sakit atau cedera, menunggu untuk mencari dan mengalokasikan daerah suaka sehingga mereka juga bisa hidup di alam liar. Jika ada lebih banyak lahan yang sesuai sebagai habitat Orangutan tersedia, target pelepasliaran Orangutan dapat dicapai pada tahun 2015, sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017,” kata Aschta Boestani Tajudin, Manajer Program Samboja Lestari. Rencana Aksi ini dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007, yang menyatakan bahwa semua Orangutan di pusat rehabilitasi harus dikembalikan ke habitatnya paling lambat pada tahun 2015.

Direktur Jenderal PHKA Kementerian Kehutanan, Ir. Darori, MM menambahkan, “Semua Orangutan sehat dan mampu di pusat-pusat rehabilitasi harus dikembalikan ke habitat alami mereka paling lambat tahun 2015. Pelepasliaran ini akan terus berlanjut sampai semua Orangutan kembali ke habitatnya.”

Ditambahkan oleh CEO Yayasan BOS, Dr. Jamartin Sihite, “Setelah melepasliarkan tiga Orangutan, di awal Mei Yayasan BOS akan melepasliarkan tiga lagi dari Samboja Lestari. Hal ini harus didukung dengan ketersediaan hutan yang layak. Peran dan dukungan dari Pemerintah Daerah, terutama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi sangat penting dalam hal ini.”

 

Dr. Sihite menambahkan, “Pelepasliaran pertama di Kalimantan Timur ini telah direncanakan secara matang dengan koordinasi dari seluruh pemangku kepentingan dan selaras dengan IUCN serta pedoman nasional. Proses perencanaan yang rinci dan menyeluruh serta pelepasliaran Orangutan kami yang pertama ini akan menjadi dasar yang kuat untuk program pelepasliaran yang masih akan berjalan hingga beberapa tahun ke depan di Kalimantan Timur. Peristiwa hari ini adalah sebuah langkah awal setelah hampir 10 tahun kita tidak bisa melepasliarkan Orangutan.”

Kegiatan pelepasliaran Orangutan ini juga didukung oleh mitra media, yang berkomitmen untuk membantu penyadartahuan masyarakat mengenai konservasi Orangutan dan mendorong terjadinya aksi nyata dari semua pemangku kepentingan.

Kontak:

Communications Specialist

Borneo Orangutan Survival Foundation

Email: rini@orangutan.or.id

HP: 08111.800.741

 

Communications Officer

PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia

Email: ajeng@orangutan.or.id

HP: 0812.8613.1319

Editors Note :

TENTANG BOS FOUNDATION

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo atau Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berbasis di Bogor, Jawa Barat, Indonesia, yang berkomitmen untuk menyelamatkan, merehabilitasi, dan melepasliarkan Orangutan Kalimantan ke habitat aslinya, serta mengedukasi masyarakat lokal dan meningkatkan kesadartahuan publik mengenai konservasi Orangutan.

Didirikan sejak tahun 1991, BOSF bermitra erat dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan didukung oleh donor-donor internasional, serta juga organisasi pendukung lainnya, di mana saat ini BOSF dipimpin oleh Prof. Bungaran Saragih selaku Ketua Dewan Pembina. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.



KAMI JUGA MENYARANKAN

EMPAT ORANGUTAN BORNEO KEMBALI KE ALAM LIAR DI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAY

Kalimantan Tengah – Empat individu orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) akan dilepasliarkan di alam liar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Selasa (3/4). Pelepasliaran yang dilakukan merupakan bagian da

PERINGATAN KEMERDEKAAN INDONESIA DENGAN MELEPASLIARKAN ORANGUTAN KE-100 DI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA

Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival Foundation), peraih World Branding Award untuk Animalis Edition tahun 2017 lalu, bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBB

KE-2 KALINYA DALAM SEMINGGU, PENYELAMATAN ORANGUTAN DI LOKASI YANG BERDEKATAN

Kedua Kalinya dalam Seminggu di Lokasi yang Berdekatan, Yayasan BOS Kembali Selamatkan Orangutan di Desa Tumbang Tanjung, Kalimantan Tengah.

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup