Apakah kamu member?

SEPULUH ORANGUTAN DITERBANGKAN KE HUTAN

Setelah satu tahun tidak melakukan pelepasliaran orangutan akibat pandemi global, BOS Foundation bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur di tanggal 16 dan 18 Februari 2021, melepasliarkan 10 orangutan. Tujuh di antaranya kami lepasliarkan ke Hutan Lindung Bukit Batikap di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, sementara 3 sisanya lainnya ke Hutan Restorasi Ekosistem Kehje Sewen, Kalimantan Timur.

Seperti diketahui, pandemi COVID-19 telah mempengaruhi kehidupan manusia di mana pun, termasuk pekerjaan kami dalam melestarikan orangutan Kalimantan dan habitatnya. Untuk mengatasi pandemi, di bulan Maret 2020 tim kami menerapkan protokol kesehatan ketat untuk membantu kami melanjutkan kegiatan pelestarian. Ini mencakup penutupan pusat rehabilitasi dari pengunjung, relawan, dan peneliti dan membatasi kegiatan yang membutuhkan mobilitas kelompok, termasuk pelepasliaran orangutan.

Setelah kami menyiapkan sejumlah protokol baru yang mengatur semua aspek pekerjaan kami yang berisiko, kami putuskan ini saatnya kembali melepasliarkan orangutan ke hutan-hutan di Kalimantan Tengah dan Timur. Dua pelepasliaran ini dilaksanakan dalam protokol kesehatan ketat, mencakup tiga aspek: tes dan cek kesehatan, penggunaan baju hazmat saat menangani orangutan, dan menjaga jarak.

Semua orangutan yang dilepasliarkan kami tes PCR untuk memastikan bebas dari virus COVID-19. Semua staf BOSF dan pihak luar yang terlibat juga harus menjalani rapid tes antigen 24 jam sebelum pelepasliaran. Namun meski begitu, hanya staf tertentu yang diperbolehkan berada di dekat orangutan dan mereka harus mengenakan APD lengkap. Terakhir, kami berupaya keras menghindari pemukiman, dengan cara membawa orangutan langsung ke bandara tempat helikopter siap menerbangkan mereka ke tempat pelepasliaran. Saat perjalanan darat, kami biasanya butuh waktu berhari-hari dan melewati banyak desa, tetapi dengan adanya helikopter, perjalanan itu bisa dikurangi menjadi hanya kurang dari satu jam.


KALIMANTAN TENGA

Pelepasliaran orangutan yang ke-36 di Kalimantan Tengah adalah operasi dua hari yang dilaksanakan pada tanggal 15 dan 16 Februari. Di hari pertama, orangutan dibius terlebih dulu sebelum melakukan perjalanan, sekitar pukul 2 siang waktu setempat. Ketujuh orangutan yang terdiri dari lima jantan (Bali, Hugus, Noel, Strada, dan Deijo) dan dua betina (Nenuah dan Disha).

Hutan Lindung Bukit Batikap terletak di jantung hutan Kalimantan, sangat jauh dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. Menggunakan jalur darat dan air, kami biasa harus menempuh perjalanan selama 3 hari 2 malam untuk mencapai kamp di hutan. Sementara dengan transportasi udara, waktu total perjalanan ini dapat dipersingkat menjadi kurang dari 24 jam.

Ketujuh orangutan diangkut di malam hari menggunakan mobil bak terbuka milik Pusat Rehabilitasi Orangutan BOSF Nyaru Menteng langsung ke Bandara Sangkalemu di Kuala Kurun, ibukota Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Perjalanan sejauh 180 kilometer ditempuh selama beberapa jam, dengan tim berhenti setiap 2 jam untuk memeriksa kondisi orangutan.

Keesokan paginya di Bandara Kuala Kurun, helikopter dari Hevilift telah siap menerbangkan orangutan langsung ke Kamp Totat Jalu di jantung Hutan Lindung Bukit Batikap. Setelah mengudara selama sekitar 1 jam, helikopter yang membawa orangutan telah mencapai sasaran, 133 km jauhnya.

Hari Selasa siang, sekitar tengah hari, ketujuh orangutan telah diturunkan di helipad di belakang Kamp Totat Jalu, Hutan Lindung Bukit Batikap. Helikopter melakukan 2 perjalanan bolak-balik untuk mengangkut ketujuh orangutan. Dari helipad di belakang kamp, tim membawa orangutan menggunakan perahu menuju titik pelepasliaran yang telah ditentukan, untuk segera menikmati hidup bebas di rumah baru mereka!

PELEPASLIARAN DI KALIMANTAN TIMUR

Setelah pelepasliaran di Hutan Lindung Bukit Batikap rampung, keesokan harinya helikopter yang sama mendarat di Juq Kehje Swen, pulau pra-pelepasliaran yang terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kalimantan Timur. Di sana, helikopter memberi dukungan untuk pelepasliaran kedua, melibatkan tiga orangutan dewasa, dua jantan dan satu betina, yang dibawa dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari melalui jalan darat sehari sebelumnya.

Di hari Kamis tanggal 18 Februari, perjalanan ketiga orangutan dari Samboja Lestari memasuki tahap akhir. Setelah paginya rombongan tiba di Juq Kehje Swen, perjalanan akhir menuju hutan harus menanti awan mendung tebal menipis terlebih dulu. Sekitar pukul 2 siang, cuaca membaik, dan tim segera menerbangkan Freet, Juve, dan Britney langsung ke lokasi drop point di sisi utara Hutan Kehje Sewen, tempat kandang ketiganya akan dibuka secara bersamaan. Perjalanan tersebut, yang biasanya membutuhkan waktu 24 jam lewat darat, hanya memakan waktu 30 menit lewat udara!

Akhirnya kesepuluh orangutan berhasil dilepasliarkan dan merasakan kebebasan yang sejati di habitat alami mereka setelah sekian lama menjalani proses rehabilitasi. Melihat kepercayaan diri dan kemampuan mereka dalam memilih pakan alami, kami yakin mereka akan senang tinggal dan menjelajah di rumah baru mereka.

Memandang helikopter yang melayang pergi dengan suara gemuruh yang semakin sayup mengangkut kandang yang telah kosong, membuat dada kami sesak karena haru. Perjuangan melatih dan membawa kembali para orangutan ini ke hutan telah usai. Kini tugas tim PRM untuk mengumpulkan data pengamatan perilaku dan melakukan patroli wilayah untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan mereka di hutan.

Dengan sepuluh orangutan berhasil dilepasliarkan, tim pelepasliaran kini bisa mengalihkan fokus kepada orangutan lain yang masih menanti pelepasliaran di pusat-pusat rehabilitasi orangutan BOS Foundation!

Tak sabar kami ingin segera melepasliarkan orangutan lagi ke hutan tahun ini!




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup