Empat tahun lalu tepatnya pada 14 Mei 2010, seorang warga dari Desa Hampalit, Kabupaten Katingan, menyerahkan satu individu orangutan yang telah dipeliharanya secara ilegal selama beberapa tahun kepada Nyaru Menteng.
Ayu, orangutan betina berusia sekitar 5-6 tahun ini berada dalam kondisi yang sangat lemah. Terkulai dalam sebuah kotak kayu sempit, orangutan cantik berambut panjang ini mengalami lumpuh mulai dari bagian pinggul ke bawah. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, Ayu hanya bisa menyeret tubuhnya dengan bertumpu pada tangannya. Wajahnya selalu memancarkan ketidakpercayaan dan rasa takut terhadap orang-orang di sekelilingnya.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh drh. Fransiska Sulistyo menunjukkan bahwa Ayu juga mengalami malnutrisi. Berat badannya hanya 14 kilogram, terlalu kurus untuk orangutan seusianya. Kedua mata Ayu terindikasi rabun, kaki dan tangannya memanjang secara tidak proporsional, dan seluruh ruas jari-jari di kedua kakinya tertekuk ke dalam secara tidak wajar.
Menurut Tim Medis Nyaru Menteng kondisi Ayu yang seperti itu disebabkan karena dia telah terlalu lama terkurung dalam kandang sempit tanpa ada kesempatan keluar. Hal ini kemudian menyebabkan atropi (otot mengecil) di bagian tungkai bawah kedua kakinya.
Pada tanggal 17 Mei 2010, nama Ayu diganti menjadi “Aya” dan sejak saat itu ia memulai kehidupan barunya di Nyaru Menteng. Dia menghabiskan hari-harinya di klinik untuk menjalani perawatan intensif untuk memulihkan kondisinya.
Semangat Hidup Aya
Tim Medis berupaya keras melakukan perawatan untuk Aya. Aya menerima terapi pijat pada otot-otot bagian kaki dan ruas jari-jarinya dan nutrisi yang cukup. Namun semua usaha ini akan sia-sia belaka tanpa semangat hidup Aya yang menakjubkan.
Awalnya Aya sangat minder bergabung dengan teman-temannya di area karantina. Aya selalu menyendiri dan menyeret tubuhnya ketika berpindah tempat, membuat setiap babysitter yang melihatnya merasa sedih. Tim Medis dan para babysitter yang mengasuhnya berusaha keras untuk memulihkan kondisi fisik serta kepercayaan diri Aya.
Tanggal 2 Agustus 2010 merupakan tonggak kehidupan Aya. Aya mulai masuk Sekolah Hutan dan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Tim Medis dan para babysitter-nya. Aya terlihat sangat aktif dan menunjukkan semangat hidupnya. Pola makannya yang berangsur baik dan keinginannya yang besar untuk belajar, menciptakan perkembangan yang positif bagi kesehatannya. Secara perlahan, Aya memanjat pohon hingga ketinggian 5-7 meter. Ia memanjat pohon dengan cara mengangkat tubuhnya ke atas menggunakan kedua tangannya dan menjepit batang pohon di antara kedua pahanya.
Bulan demi bulan hingga berganti tahun Aya lalui dengan penuh semangat. Setiap hari Aya berlatih bersama orangutan sebayanya di Sekolah Hutan, ditemani babysitter dan tim medis.
Transformasi Aya
Sepanjang tahun 2011, Aya menjalani terapi pemijatan dari Tim Medis untuk memulihkan otot-otot kakinya. Dengan keterbatasannya, Aya semakin menunjukkan kemajuannya dalam memanjat pohon. Kadang Aya terjatuh, namun ia tidak pernah berhenti mencoba.
Mulai Januari 2012 Aya bergabung bersama beberapa orangutan lain di Grup 1 karena Aya semakin pandai bersosialisasi. Meskipun lebih lambat dibanding teman-temannya, dia pergi ke Sekolah Hutan setiap hari, dan seperti orangutan lainnya, dia memanjat dan bermain. Kenakalan kecilnya pun bahkan mulai tumbuh. Setiap hari ia selalu pulang lebih awal dari Sekolah Hutan dibanding teman-temannya untuk menuju playground. Terkadang ia pergi ke Baby House dan berusaha membuka pintu kandang. Jika pintu berhasil terbuka, Aya segera masuk ke kandang yang dipenuhi dengan daun segar dan empuk untuk tidur siang.
Aya Tak Pernah Menyerah (Kredit foto: Indrayana)
Aya Tak Pernah Menyerah (Kredit foto: Indrayana)
Aya Tak Pernah Menyerah (Kredit foto: Indrayana)
Aya Tak Pernah Menyerah (Kredit foto: Indrayana)
Sepanjang 2012 terapi pemijatan untuknya masih terus berlanjut. Berat badan Aya mulai normal dan ia jarang mengalami sakit. Hingga pertengahan tahun 2013, perhatian khusus terus diberikan untuk Aya, agar kondisi kesehatan dan kepercayaan dirinya segera pulih. Hasilnya sungguh menakjubkan.
Kini berat badan Aya 28 kg dan sudah tidak terlalu minder. Aya telah bertransformasi menjadi orangutan yang percaya diri dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dia berinteraksi dengan baik dengan orangutan lain dan di bawah asuhan para babysitter Aya kini terampil memanjat pohon dan lincah bergelayut di antara akar dan liana. Ia senang duduk di salah satu dahan sambil kedua kakinya menjuntai ke bawah dengan tangan berpegangan di dahan atau ranting. Jika sedang asyik bermain dan didekati oleh orangutan lain atau babysitter, ia akan menyeringai memperlihatkan giginya dan melempar ranting tanda tak suka. Meskipun demikian Aya sangat senang bersahabat dan bermain dengan orangutan kecil. Ia memang masih belum bisa membuat sarang, namun melihat kemandiriannya yang luar biasa kami yakin suatu saat Aya akan mampu melakukannya.
“Aya mengalami atropi kronis yang sangat sulit disembuhkan. Namun dengan segala upaya yang dilakukan Tim Medis bersama babysitter dan teknisi, serta yang paling utama adalah semangat hidup Aya sendiri, kini Aya mampu melakukan aktivitas hariannya tanpa mengalami kesulitan. Melihat hal ini kami yakin, bagi Aya kekurangan fisik yang dialaminya tidak akan menjadi hambatan besar yang menghalangi kehidupannya di masa depan.” Ujar drh. Agus Fachroni, salah satu dokter hewan yang terlibat langsung dalam perawatan Aya sejak awal kedatangan Aya di Nyaru Menteng.
Inspirasi bagi Tim Yayasan BOS: Merawat dengan Penuh Dedikasi
Aya bukanlah satu-satunya orangutan dengan keterbatasan fisik yang kami rawat. Ada banyak orangutan di pusat rehabilitasi kami baik di Nyaru Menteng maupun di Samboja Lestari dengan keterbatasan fisik seperti buta, kehilangan anggota tubuh, atau mengalami kelumpuhan. Namun mereka semua terbukti mampu melakukan aktivitas sehari-hari layaknya orangutan yang sehat. Semangat hidup mereka menginspirasi banyak orang, khususnya Tim Yayasan BOS, untuk bekerja lebih giat lagi dalam merawat mereka, memberi mereka kehidupan dan rasa aman di tengah-tengah tantangan mewujudkan konservasi orangutan dan habitatnya.