Kegiatan pengambilan data fenologi di kawasan Sungai Lembu bulan April lalu tertunda karena cuaca yang buruk dan sungai yang selalu banjir. Kegiatan yang seharusnya dilakukan tanggal 24-25 setiap bulannya tersebut harus tertunda sampai seminggu. Setelah tiba di sana pun, hujan deras kembali mengguyur dan kami hanya sempat mendirikan tenda. Kegiatan fenologi di hari pertama itu terpaksa ditunda lagi, dan kami hanya bisa berteduh di dalam tenda menunggu hujan reda.
Barulah pada tanggal 4 Mei, hujan benar-benar berhenti dan kami bisa memulai kegiatan pengambilan data fenologi.
Banyak pohon yang mulai berbuah, dan karenanya banyak sekali lebah. Beberapa pohon yang mulai berbuah diantaranya: Aporosa benthamiana, Garcinia sp., Gardenia sp., Baccaurea tetrandra, Polyalthia sumatrana, dan masih banyak lagi. Ada juga beberapa pohon yang sedang berbunga, dan tidak lama lagi akan berbuah. Pengambilan data hari itu berjalan lancar dan kami juga bertemu dengan seekor kijang.
Tanggal 5 Mei, saat matahari belum lagi terbit sekitar pukul 05.20 pagi, kami dikejutkan dengan kehadiran satu individu orangutan di dekat kami. Samar-samar kami melihat dia pun baru terbangun dan akan memulai aktivitasnya. Kami harus menunggu sampai hari mulai terang untuk mengidentifikasinya.
Matahari pun terbit, dan akhirnya kami dapat melihat orangutan tersebut dengan jelas. Ternyata “tamu” kami pagi itu adalah Juminten, orangutan betina dewasa yang dilepasliarkan tahun 2013 lalu. Beberapa dari kami memutuskan untuk mengambil data Juminten selama dua jam, sementara anggota tim fenologi yang lainnya menyiapkan sarapan.
Fenologi Lembu dan Perjumpaan dengan Juminten (Kredit foto: Jafar)
Fenologi Lembu dan Perjumpaan dengan Juminten (Kredit foto: Jafar)
Fenologi Lembu dan Perjumpaan dengan Juminten (Kredit foto: Agus)
Fenologi Lembu dan Perjumpaan dengan Juminten (Kredit foto: Agus)
Setelah dua jam, kami selesai melakukan pengamatan dan menyimpulkan bahwa Juminten dalam kondisi baik, sehat dan aktif. Dia banyak beraktivitas pindah dari satu pohon ke pohon lainnya, dan banyak makan, khususnya buah kedondong hutan. Kami senang sekali bertemu dengan dia karena Juminten adalah salah satu orangutan yang jarang kami temui. Dia berhasil hidup mandiri dengan sangat baik di hutan selama lebih dari satu tahun setelah dilepasliarkan.
Setelah perjumpaan singkat dengan Juminten, kami melanjutkan pengambilan data fenologi. Awan gelap menutupi langit sepanjang hari, tapi beruntung hujan baru turun saat sore menjelang. Kami juga sempat bertemu dengan babi hutan, rusa, burung rangkong, dan beberapa jenis burung. Syukurlah, saat hujan mulai turun, kami sudah menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke Camp Lesik.