Apakah kamu member?

PROFIL KANDIDAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN KE-9 NYARU MENTENG

Dalam waktu dekat, akan ada 12 orangutan lagi yang akan tinggal di Hutan Lindung Bukit Batikap. Mereka adalah orangutan dari Pusat Reintroduksi Orangutan di Nyaru Menteng yang akan dilepasliarkan ke hutan pada tanggal 19 dan 20 April 2014. Inilah profil mereka.
 

REHABILITAN

Rehabilitan adalah para orangutan yang diselamatkan pada usia yang sangat muda dan/atau pernah menjadi peliharaan manusia. Orangutan seperti ini belum memiliki atau sudah kehilangan sebagian besar kemampuan untuk hidup mandiri di hutan, dan karenanya harus terlebih dahulu melalui proses rehabilitasi (Sekolah Hutan dan tahap pra-pelepasliaran di pulau/hutan singgah); sebuah proses yang memakan waktu selama rata-rata 7 tahun.
 

1. SLAMET
Slamet tiba di Wanariset, Kalimantan Timur, pada 23 Januari 1999 setelah disita dari seorang warga Palangka Raya yang menjadikannya hewan peliharaan. Pada bulan November 1999, Yayasan BOS membuka Program Reintroduksi Orangutan di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, dan pada 17 Desember 1999 Slamet masuk ke Nyaru Menteng untuk melanjutkan proses rehabilitasinya. Saat tiba di Nyaru Menteng, orangutan jantan ini masih berusia 3 tahun dengan berat badan 12 kilogram.

Setelah lulus dari Sekolah Hutan, Slamet masuk ke Pulau Palas untuk menjalani tahap akhir proses rehabilitasinya pada 2004. Slamet tumbuh menjadi orangutan jantan dominan yang aktif dan tidak lagi suka dengan kehadiran manusia. Ia memiliki rambut panjang berwarna coklat gelap dan kulit berwarna hitam dengan bantalan pipi yang kini mulai tumbuh menghiasi wajahnya.

Kini usia Slamet 18 tahun dengan berat badan 65 kilogram. Setelah 15 tahun menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng, tak lama Slamet yang gagah siap menjelajah rumah sejatinya di Hutan Lindung Bukit Batikap.
 

2. KIKI
Kiki tiba di Nyaru Menteng pada 18 April 2001 setelah disita dari seorang warga di Ketapang, Kalimantan Barat yang menjadikannya hewan peliharaan. Saat itu orangutan betina ini baru berusia 6 tahun dengan berat badan 18,5 kilogram. Selain tiba dalam keadaan kurus, kiki juga mengalami atrophi (kaku otot) akibat terlalu lama dipelihara dalam kandang sempit. Ia tidak bisa berdiri dan selalu menunjukkan ekspresi takut. Setiap hari Tim Medis melakukan pemijatan untuk mengembalikan fungsi otot kakinya hingga pulih dan membimbingnya memanjat pohon.

Kiki lulus dari Sekolah Hutan dan mendiami  Pulau  Palas  pada  tahun 2005. Kiki dikenal sebagai orangutan yang ramah terhadap orangutan lain dan gemar menjelajah. Pada 24 Oktober 2006, Kiki melahirkan putri pertamanya di Pulau Palas dan diberi nama Hardi. Kiki dan si kecil Hardi termasuk salah satu bintang film dokumenter “Orangutan Island” bersama dengan Bonita, Kacio, dan Mego.

Kini Kiki memasuki usia 20 tahun, dengan berat badan 61 kilogram. Kiki yang memiliki rambut panjang berwarna coklat kehitaman ini telah menjadi induk orangutan yang mandiri. Kiki dan putrinya Hardi, telah siap untuk menjalani hidup sebagai orangutan liar sejati di Hutan Lindung Bukit Batikap.
 

3. HARDI
Hardi merupakan anak pertama dari orangutan betina bernama Kiki, yang lahir di Pulau Palas pada 24 Oktober 2006. Hardi mendapat pengasuhan langsung dari induknya sehingga ia tumbuh menjadi anak orangutan liar yang mandiri. Si kecil Hardi bersama dengan ibunya Kiki menjadi salah satu bintang film dokumenter “Orangutan Island”.

Karena sifatnya yang liar dan sangat aktif, kemampuan Hardi cepat berkembang. Ia pintar mengenali pakan alaminya, membuat sarang, dan banyak beraktivitas di pepohonan. Layaknya orangutan liar, Hardi sangat menggemari buah hutan dan tidak menyukai kehadiran manusia. Di Pulau Palas Hardi tidak terlalu banyak bergaul dengan orangutan lainnya. Ia hanya berteman dengan orangutan betina yang berperilaku lembut dan menjauhi orangutan jantan dewasa yang dominan.

Kini di usia 8 tahun, Hardi yang lincah dengan berat badan 26 kilogram ini siap pulang ke Hutan Lindung Bukit Batikap bersama induknya untuk menjadi orangutan liar remaja yang mandiri.
 

4. KACIO
Kacio disita dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan, saat usianya masih 3 tahun dengan berat badan 7 kilogram. Orangutan betina berambut panjang dan tebal ini masuk ke Nyaru Menteng pada 13 Mei 2002 dalam kondisi telah kehilangan jari tengah dan jari manis pada kaki kirinya yang diakibatkan semacam benda tajam.

Kacio yang terampil mencari pakan alami seperti buah hutan, daun, hingga kulit kayu, lulus dari Sekolah Hutan dan melanjutkan pembelajarannya di Pulau Palas pada 2006. Kacio yang lembut dan mudah bergaul, berperilaku baik dengan hampir semua orangutan dan berteman dekat dengan Kiki dan Olympia yang akan dilepasliarkan bersamanya dan juga Yasmine. Kacio yang mandiri tidak terlalu sering muncul di feeding platform karena ia lebih tertarik untuk menjelajah pulau. Kacio juga merupakan salah satu bintang film dokumenter “Orangutan Island”.

Dua belas tahun sudah Kacio menjalani proses rehabilitasi di Nyaru Menteng. Kini di usia 15 tahun dengan berat badan 56 kilogram, orangutan cantik bermata bulat ini akan pulang ke Hutan Lindung Bukit Batikap untuk menjadi orangutan liar sejati.
 

5. OLYMPIA
Olympia masuk ke Nyaru Menteng pada 27 Maret 2002 setelah disita dari seorang warga di Desa Tumbang Samba, Kabupaten Katingan. Saat itu orangutan betina ini berusia 2 tahun dengan berat badan 7,5 kilogram dan sifat liar masih ada pada dirinya.

Sebelum dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran, Olympia belajar di Nursery Group dan Sekolah Hutan. Ia lulus pada tahun 2006 dan ditempatkan ke Pulau Palas. Salah satu sahabat baik yang sudah dikenalnya sejak di Sekolah Hutan dan akan dilepasliarkan bersamanya adalah orangutan betina bernama Kacio.

Olympia berperilaku lembut dan bersahabat dengan orangutan lainnya. Kini Olympia berusia 15 tahun dengan berat badan 53 kilogram. Setelah 12 tahun belajar di Nyaru Menteng, akhirnya orangutan betina yang menggemari buah hutan dan pakan alami ini siap membuktikan kemampuannya di Hutan Lindung Bukit Batikap.
 

6. TROLD
rold yang saat itu berusia 1 tahun dengan berat badan 4,8 kilogram tiba di Nyaru Menteng pada 28 Februari 2002 setelah disita dari seorang warga Desa Tumbang Talaken, Kabupaten Gunung Mas, yang menjadikannya hewan peliharaan. Anak orangutan liar ini datang dalam kondisi terluka pada jari tangan dan kakinya.

Lulus dari Sekolah Hutan pada tahun 2006, Trold mengasah kemampuan bertahan hidupnya di alam liar di Pulau Palas. Trold yang memiliki rambut tebal pada bagian lehernya ini dikenal sebagai penjelajah handal dan terampil memilih pakan alami. Ia juga merupakan orangutan betina yang suka bergaul dengan orangutan lainnya dan tidak menyukai kehadiran manusia.

Trold telah belajar di Nyaru Menteng selama 12 tahun. Kini di usianya yang ke-14 tahun dengan berat badan 41 kilogram, Si cantik Trold siap menjalani hidup baru sebagai orangutan liar sejati di Hutan Lindung Bukit Batikap.
 

7. BONITA
Bonita tiba di Nyaru Menteng setelah disita dari warga di Tumbang Samba pada 11 Januari 2003 saat usianya masih 2 tahun dengan berat badan 5,1 kilogram. Orangutan liar ini kemudian ditempatkan di Nursery Group. Bonita belajar di Sekolah Hutan dan bersahabat dekat dengan Saturnus, namun sahabatnya ini meninggal karena sakit pada tahun 2011. Bonita lulus dengan predikat sebagai murid yang pintar sehingga ditempatkan di Mid Way (Nyaru Menteng II), Pada 9 Desember 2006, Bonita dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran di Pulau Palas. Di film dokumenter “Orangutan Island”, Bonita kerap diganggu oleh “The Bandit Boys”.

Ketika tinggal di pulau pra-pelepasliaran, Bonita pernah menghilang selama 2 bulan lebih. Pencarian dilakukan oleh para teknisi dengan menyisir seisi pulau, hingga suatu hari ia muncul kembali dalam kondisi sehat. Kemampuan alami Bonita berkembang dengan cepat. Ia terampil memilih pakan alami seperti daun muda dan rayap, serta senang bergaul dengan orangutan lainnya.

Orangutan cantik dengan rambut coklat tua yang menawan ini kini berusia 14 tahun dengan berat badan 53 kilogram. Pengalaman yang ia dapatkan selama 11 tahun di pusat rehabilitasi menjadi bekalnya untuk menjelajah rumah sejatinya di Hutan Lindung Bukit Batikap.
 

8. SELLA
Sella disita oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dari seorang warga di Kota Palangka Raya. Sella masuk ke Nyaru Menteng pada tanggal 13 April 2002 saat usianya masih 3 tahun dengan berat badan 11 kilogram.

Sella lulus dari Sekolah Hutan pada 2005 dan ditempatkan di Pulau Palas. Orangutan yang berambut tebal namun tidak terlalu panjang ini senang bergaul dengan orangutan lainnya dan tidak menyukai kehadiran manusia. Kemampuan Sella mencari pakan alami berkembang dengan baik. Sella yang cukup disegani di Pulau Palas, sangat gemar mencari rayap di pulau.

Kini 12 tahun sudah Sella menjalani proses rehabilitasi. Di usia 15 tahun dengan berat badan 59 kilogram, orangutan yang memiliki ekspresi wajah marah ini segera berangkat ke Hutan Lindung Bukit Batikap untuk menjalani hidup barunya sebagai orangutan liar sejati.
 

9. MISS OWEN
Miss Owen disita dari seorang warga di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada tanggal 29 November 1998 orangutan betina ini dikirim ke Wanariset di Kalimantan Timur untuk menjalani rehabilitasi, karena saat itu Wanariset merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan. Setelah fasilitas rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng dibuka pada November 1999, barulah orangutan asal Kalimantan Tengah ini masuk ke Nyaru Menteng saat usianya masih 2 tahun dengan berat badan 6,5 kilogram pada 17 Desember 1999 untuk melanjutkan proses rehabilitasinya.

Miss Owen mengikuti Sekolah Hutan dan bersahabat dekat dengan Noor, orangutan pertama di Nyaru Menteng yang kini telah tinggal di Hutan Lindung Bukit Batikap. Miss Owen lulus dari Sekolah Hutan dan masuk ke Pulau Palas pada 2004. Di pulau pra-pelepasliaran, Miss Owen termasuk orangutan yang baik dan mudah berteman dengan para orangutan. Orangutan yang terkadang terlihat menyendiri ini dulu pernah sangat dekat dengan orangutan jantan bernama Reno yang kini telah menghuni Bukit Batikap.

Kini 15 tahun sudah Miss Owen menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng. Ia telah tumbuh menjadi orangutan betina dewasa berusia 17 tahun dengan berat badan 40 kilogram. Dengan pengalamannya tinggal di Pulau Palas, Miss Owen telah siap hidup di Hutan Lindung Bukit Batikap sebagai orangutan liar sejati.
 

10. OMEGO (MEGO)
Omego (Mego) disita dari Jakarta dan masuk ke Nyaru Menteng pada 31 Mei 2001 saat usianya masih 3 tahun dengan berat badan 8 kilogram. Saat disita terdapat bekas penyakit kulit yang telah mengering di bagian tubuh depan, paha, dan pada lipatan lengannya. Setelah mendapatkan perawatan hingga penyakit kulitnya sembuh, Mego yang memiliki rambut tebal berwarna coklat ini masuk ke Sekolah Hutan.

Mego yang memiliki mata bulat ini lulus dari Sekolah Hutan dan menjalani tahap pra-pelepasliaran pada 2005 di Pulau Palas. Mego adalah orangutan jantan dominan dengan bantalan pipi yang kini mulai tumbuh menghiasi wajahnya.

Pengalaman yang Mego dapatkan setelah 13 tahun belajar di Nyaru Menteng cukup sebagai bekalnya bertahan hidup di habitat alaminya. Mego yang gagah kini berusia 17 tahun dengan berat badan 72 kilogram. Ia telah siap pulang ke rumah sejatinya di Hutan Lindung Bukit Batikap dan menjadi orangutan liar.
 

SEMI-LIAR

Semi-Liar adalah orangutan yang, pada saat diselamatkan, masih berperilaku alami (liar), dan secara konsisten memperlihatkan bahwa ia telah memiliki kemampuan yang cukup untuk hidup mandiri di hutan.
 

11. WARDAH
Wardah tiba di Nyaru Menteng pada 21 Oktober 2006 setelah diselamatkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan Tim Rescue Yayasan BOS. Saat itu bayi orangutan liar yang diselamatkan dalam kondisi tanpa induk dari sebuah kawasan hutan kecil yang tersisa di areal perkebunan kelapa sawit di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur ini masih berusia 3 tahun dengan berat badan 7 kilogram.

Wardah termasuk kategori orangutan semiliar. Ia pun dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran di kandang karantina di Kompleks Nyaru Menteng 3.

Sudah 8 tahun Wardah menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng dan ia masih menunjukkan perilaku liarnya. Kini usia Wardah sudah 11 tahun dengan berat  badan 43 kilogram. Tak lama lagi Wardah akan menikmati kebebasannya menjelajah Hutan Lindung Bukit Batikap untuk menjalani hidupnya sebagai orangutan liar sejati.
 

12. CUPLIS
Cuplis masuk ke Nyaru Menteng pada tanggal 29 Desember 2005 setelah diselamatkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan Tim Rescue Yayasan BOS dari seorang pawang ular yang menjadikannya hewan peliharaan di Satuan Pemukiman 4 (SP 4) Transmigrasi Desa Padas, Parenggean. Saat itu Cuplis yang berambut panjang dan tebal ini masih berusia 2 tahun dengan berat badan 10 kilogram. Cuplis diselamatkan dengan kondisi kurus dan memiliki bekas luka yang mengering akibat rantai besi di lehernya.

Semasa belajar di Sekolah Hutan, Cuplis yang aktif terkenal cerdik dan pandai melarikan diri dari sekolah dan menghilang selama berhari-hari. Karena sifatnya yang semiliar, kemampuan Cuplis di Sekolah Hutan cepat berkembang. Ia pun dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran dan dipindahkan ke kandang karantina di Kompleks Nyaru Menteng 3.

Kini Cuplis yang aktif dan suka menjelajah di Sekolah Hutan ini sudah berusia 12 tahun dengan berat badan 52 kilogram. Cuplis yang mandiri sudah 9 tahun belajar di Nyaru Menteng dan siap menjalani hidup barunya di rimba yang sesungguhnya.
 


Bersamaan dengan kegiatan pelepasliaran ini, lima orangutan dari pusat rehabilitasi Yayasan BOS di Samboja Lestari, Kalimantan Timur akan dipindahkan ke Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Kelima orangutan yang belum lama dites DNA dan diketahui merupakan orangutan Kalimantan Tengah (Pongo pygmaeus wurmbii) ini akan menjalani tahap akhir proses rehabilitasi di salah satu pulau pra-pelepasliaran di Nyaru Menteng sebelum akhirnya dilepasliarkan ke habitat alami mereka di Kalimantan Tengah.
 

1. FRISKA
Friska disita oleh Tim Yayasan BOS Wanariset dari seorang warga yang menjadikannya hewan peliharaan di Tegal, Jawa Tengah, pada 19 Maret 2001. Saat itu orangutan betina ini masih berusia empat tahun dengan berat badan 17 kilogram.

Friska bergabung di Sekolah Hutan pada tahun 2001 hingga 2005, kemudian mengembangkan keterampilannya di Halfway House. Di sinilah ia dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran, berkat kemampuan belajarnya yang cepat dan perilakunya yang aktif. Friska kini telah tumbuh menjadi orangutan betina dewasa berusia 17 tahun dengan berat badan 40 kilogram.

Friska memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii, yang secara alami tersebar di bagian tengah Pulau Kalimantan, sehingga harus dikembalikan ke habitat alaminya. Ia akan belajar untuk sementara waktu di Yayasan BOS Nyaru Menteng sebelum pulang ke kampung halamannya di rimba Kalimantan Tengah.
 

2. FARUDZ
Farudz adalah orangutan jantan yang tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 16 Oktober 2002 sebagai orangutan semiliar berusia enam tahun dengan berat badan 30 kilogram. Ia diserahkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta kepada Yayasan BOS setelah disita dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Farudz langsung ditempatkan di kandang sosialisasi karena masih berperilaku liar. Ia lebih menyukai pakan alami dan tidak suka minum susu. Farudz kini telah tumbuh menjadi orangutan jantan dewasa berusia 18 tahun dengan berat badan 75 kilogram. Orangutan yang berpostur gempal, gemuk, dan pendek ini berperilaku dominan dan tidak menyukai kehadiran manusia.

Farudz akan pulang ke Kalimantan Tengah bersama Saswoko, salah satu temannya di kandang sosialisasi, karena memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Setelah 12 tahun belajar di Kalimantan Timur, ia akan belajar untuk sementara waktu di Yayasan BOS Nyaru Menteng sebelum dilepasliarkan di belantara Kalimantan Tengah.

 

3. SASWOKO
Saswoko tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 4 Agustus 2002 setelah diserahkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Denpasar, Bali, yang menyitanya dari seorang warga yang menjadikannya hewan peliharaan. Saat pertama kali tiba di Wanariset, orangutan jantan ini masih berusia 4 tahun.

Karena termasuk orangutan yang pintar, Saswoko dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran dan ditempatkan di Halfway House pada tahun 2002 hingga 2004. Kini ia telah tumbuh menjadi orangutan jantan sub-adult berusia 16 tahun dengan berat badan 70 kilogram. Ia sangat pintar mengenali pakan alaminya dan membuat sarang.

Bersama sahabatnya Farudz yang ia kenal di kandang sosialisasi, ia akan dipulangkan ke Kalimantan Tengah karena memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Ia akan melanjutkan pembelajarannya di Yayasan BOS Nyaru Menteng untuk sementara waktu sebelum menjelajah rimba Kalimantan Tengah bersama Farudz.


Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan ke-9 Nyaru Menteng (Kredit foto: BOSF 2014)

Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan ke-9 Nyaru Menteng (Kredit foto: BOSF 2014)

Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan ke-9 Nyaru Menteng (Kredit foto: BOSF 2014)

Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan ke-9 Nyaru Menteng (Kredit foto: BOSF 2014)

Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan ke-9 Nyaru Menteng (Kredit foto: BOSF 2014)

4. INOU 
Inou tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 2 Mei 1998 saat berusia dua tahun dengan berat badan enam kilogram. Ia disita oleh Wanariset dari seorang warga di Pontianak, Kalimantan Barat, yang menjadikannya hewan peliharaan.

Di Sekolah Hutan, Inou bersahabat dengan Maduri, orangutan betina yang telah dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, pada bulan Maret 2014 lalu. Lulus dari Sekolah Hutan, ia dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran di Halfway House pada tahun 2001 hingga 2006. Inou yang sangat dekat dengan babysitter-nya di masa kecilnya telah tumbuh menjadi orangutan jantan yang dominan, aktif, dan tidak menyukai kehadiran manusia. Kini usianya sudah 18 tahun dengan berat badan 60 kilogram.

Inou akan pulang ke kampung halamannya di Kalimantan Tengah, karena ia diketahui memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Sebelum menikmati kebebasannya di rimba Kalimantan Tengah, ia akan melanjutkan rehabilitasinya di Yayasan BOS Nyaru Menteng.
 

5. NIKEN
Niken tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 13 Juli 1999 setelah diserahkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Banjarmasin. Saat itu orangutan betina ini masih berusia dua tahun dengan berat badan delapan kilogram.

Semasa belajar di Sekolah Hutan, Niken bersahabat dekat dengan Leke, yang sejak bulan Maret 2014 telah menikmati kebebasannya di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. Keduanya merupakan teman sepermainan dan membentuk ‘geng’ dominan di antara teman-teman sebaya mereka.

Setelah mengenyam pendidikan di Sekolah Hutan antara tahun 2000 hingga 2005, Niken dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran di Halfway House mulai 2005 hingga 2008. Ia merupakan orangutan yang pintar, aktif dan memiliki keterampilan bertahan hidup di hutan yang baik. Kini usianya sudah 17 tahun dengan berat badan 50 kilogram.

Niken akan pulang ke rumah sejatinya di Kalimantan Tengah, karena memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Sebelum menikmati kebebasannya di belantara Kalimantan Tengah, ia akan melanjutkan rehabilitasinya di Yayasan BOS Nyaru Menteng. Meski harus berpisah dengan sahabatnya Leke, ia akan menyusul Leke, menjalani hidupnya sebagai orangutan liar sejati.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup