MEMAHAMI KESEHATAN MENTAL ORANGUTAN
Ketika orang berbicara tentang kesehatan mental, kebanyakan orang berpikir tentang trauma, depresi, kehilangan, orang, dan proses pemulihan. Namun, bagaimana jika orangutan menghadapi situasi serupa?
Kabut pagi masih menggantung tipis di atas kanopi hutan ketika tim Post-Release Monitoring (PRM) memulai patroli rutin mereka di daerah aliran Sungai Bemban, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).
Di sela-sela kegiatan tersebut, tim juga memeriksa beberapa titik yang sering digunakan sebagai jalur pergerakan orangutan hasil pelepasliaran. Salah satu nama yang kerap menjadi pembicaraan adalah Otan, orangutan jantan yang dilepasliarkan pada November 2025. Sejak pelepasliarannya, Otan sangat jarang terlihat secara langsung. Seolah-olah ia menghilang ke dalam lebatnya hutan TNBBBR.
Namun pagi itu, hutan menghadirkan kejutan yang menyenangkan.
Saat tim berjalan menyusuri transek, tepat di titik 0 meter dekat tepian Sungai Bemban, mereka melihat sosok yang tidak asing. Di antara cabang-cabang pohon, Otan tampak santai menikmati sarapannya.
Ia sedang memetik dan memakan buah sangkuang, terlihat tenang dan tidak terganggu oleh kehadiran para pengamat yang memperhatikannya dari kejauhan.
Melihat Otan dalam kondisi sehat dan aktif tentu menjadi kabar yang menggembirakan. Tim pun segera menyesuaikan rencana kegiatan hari itu. Fokus mereka beralih untuk mengikuti aktivitas Otan dan mendokumentasikan bagaimana ia menjalani kehidupannya di alam liar.
Pada pukul 09.10 WIB, pengamatan penuh dimulai. Sejak saat itu, Otan menunjukkan betapa baiknya ia telah beradaptasi dengan lingkungan hutan. Ia tampak memiliki pemahaman yang kuat terhadap sumber pakan yang tersedia di sekitarnya. Pada hari itu, makanannya cukup beragam, mulai dari buah sangkuang, ficus, lunuk dango liau, hingga bagian tumbuhan lain seperti anggrek, kulit kayu, dan rebung rotan muda.
Perilaku Otan juga menunjukkan perkembangan yang menarik. Pada masa awal setelah pelepasliaran, ia lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Kini, ia terlihat jauh lebih dinamis. Sepanjang hari, Otan beberapa kali turun ke lantai hutan dan berjalan mengikuti jalur-jalur alami di bawah kanopi. Pergerakannya tampak mantap dan penuh percaya diri.
Dari lokasi pertama kali ditemukan di dekat Sungai Bemban, Otan menempuh jarak sekitar 1.200 meter pada hari itu. Ia melintasi semak belukar, batang pohon tumbang, dan lantai hutan dengan penuh keyakinan. Hal ini menjadi indikasi bahwa ia mulai memahami wilayah jelajahnya dengan sangat baik.
Sambil melakukan pengamatan, tim PRM juga melanjutkan kegiatan patroli lainnya, seperti mendata keberadaan pohon pakan, mengamati tanda-tanda keberadaan satwa liar lainnya, serta memastikan kawasan tersebut tetap aman dari gangguan manusia. Kegiatan-kegiatan ini merupakan bagian penting dalam upaya menjaga habitat yang aman bagi satwa liar yang hidup di hutan.
Menjelang sore, setelah seharian menjelajah dan mencari pakan di sepanjang Sungai Bemban, Otan mulai memperlambat pergerakannya. Naluri alaminya membimbingnya mencari tempat untuk beristirahat pada malam hari. Ia mulai membangun sarang malam dari ranting dan dedaunan di atas pohon yang tinggi. Perlahan, sarang itu pun terbentuk. Di bawah kanopi hutan yang semakin redup diterpa cahaya senja, Otan bersiap mengakhiri harinya dengan tenang.
Bagi tim PRM, pertemuan hari itu lebih dari sekadar keberuntungan. Melihat Otan bergerak bebas, menemukan makanannya sendiri, dan membangun sarang di hutan merupakan bukti nyata bahwa proses pelepasliaran yang dijalani telah berhasil.
Otan bukan lagi penghuni pusat rehabilitasi. Kini, ia telah menjadi bagian dari hutan sebagai penjelajah sejati dari hulu Sungai Bemban, hidup mandiri di rumah alaminya.