Salah satu pengalaman paling menyenangkan saat berpatroli bagi tim Post Release Monitoring (PRM) adalah bertemu kembali dengan orangutan yang telah lama menghuni hutan tersebut. Sangat menyenangkan kembali bertemu dengan “teman lama”, dalam kondisi sehat, menjelajah hutan. Siapa gerangan orangutan yang kali ini ditemukan oleh tim PRM kami di Kehje Sewen, Kalimantan Timur?
Di suatu pagi di bulan Oktober lalu, tim PRM kami di Kamp Lesik, sisi Utara Hutan Kehje Sewen berangkat seperti biasa untuk melakukan patroli. Tim kami melangkahkan kaki ke transek Yosi, tempat yang telah dua tahun tidak kami kunjungi. Transek ini berbatasan langsung dengan Hutan Lindung Telen Soh, dan salah satu transek terjauh dari kamp.
Kami berusaha agar bisa mencapainya sebelum tengah hari, berjalan berurutan dalam jarak beberapa meter satu sama lain. Salah seorang dari kami mencoba memancing perhatian orangutan yang mungkin ada di sekitar dengan meniru long call orangutan jantan. Tak lama, terdengar sahutan balasan disusul munculnya anggota tim kami yang berjalan paling depan.
“Cepat! Aku bertemu orangutan baru dan aku gak tahu itu siapa.” Tanpa banyak bertanya, serempak kami bergegas mencari sumber suara sahutan, untuk melihat lebih jelas orangutan tersebut.
Orangutan jantan kami temukan tak jauh dari situ, tapi saat kami hendak memotretnya lebih banyak, ia segera pergi ke arah lerengan yang curam. Kontur yang berbahaya membuat kami tak bisa mengejarnya dan tak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain mengidentifikasinya dari foto yang kami ambil.
Setibanya di kamp, kami segera melakukan identifikasi foto, yang ternyata tidak mudah, karena kami tidak berhasil menemukan kemiripan dengan satu pun orangutan di database kamp. Namun, foto tersebut mengindikasikan bahwa ia adalah jantan muda yang telah memiliki bantalan pipi atau cheekpad.
Kami berdiskusi dengan rekan-rekan termasuk seorang teknisi senior dari Samboja Lestari yang kebetulan membantu kami di kamp, Imam Ghozali atau yang akrab kami panggil Pak Cik. Berkat pengalaman bertahun-tahun bekerja dengan orangutan di Samboja Lestari, ia dengan mudah mengenali orangutan tersebut sebagai Bajuri, jantan yang kami lepas liarkan delapan tahun lalu. Bajuri juga tercatat terakhir kami amati di tahun 2015. Tak heran kami mengalami kesulitan mengenalinya!
Kami sangat bersyukur mendapati Bajuri yang terlihat dalam kondisi sehat dan memiliki pergerakan yang cepat. Setelah bertemu Bajuri, kami menjadi bersemangat untuk mencari orangutan lain yang juga sudah lama tak teramati.
Sebulan kemudian, di bulan November, pengalaman itu pun terulang. Kali ini, kami menemukan Casey, betina yang dilepasliarkan tahun 2012 dan terakhir kali teramati di tahun 2015.
Saat itu, kami tengah berpatroli di daerah yang terbilang jauh dari kamp, yaitu Muara Soh. Ketika tiba di Muara Soh, kami tidak menemukan keberadaan orangutan, namun kami melihat buah pepaya yang sebagian habis dimakan dan sebuah sarang lama.
Salah seorang dari tim merasa penasaran, dan berkeliaran sendiri saat yang lain beristirahat. Tak lama kemudian, ia muncul dan mengatakan bahwa dia menemukan orangutan. Kami pun segera mengikuti untuk mengidentifikasi orangutan itu sebelum menghilang ke dalam hutan.
Saat kami melihatnya, kami segera bisa mengenalinya, itu adalah Casey! Betapa bahagianya kami bisa bertemu Casey yang telah lama tak kami amati. Kami sempat mengamati Casey beberapa saat sebelum ia turun ke lerengan yang curam dan kami tak bisa lagi mengikutinya. Selama pengamatan, Casey bermain-main di akar liana yang dia ikat menjadi sebuah gumpalan dan membuat kipas menggunakan daun kering. Ia tampak sangat sehat.
Kedua kesempatan tersebut memberikan kami pengalaman luar biasa karena bisa berjumpa dengan dua penghuni lama Kehje Sewen yang berada dalam kondisi sehat dan aktif selama pengamatan.
Betapa gembiranya bisa bertemu mereka dalam patrol. Samoga kami bisa berjumpa dengan orangutan-orangutan lama lainnya!