PELEPASLIARAN YANG BERHASIL DAN MARET YANG SIBUK BAGI TARZAN
Di tanggal 28 Februari lalu, empat orangutan (Mentos, Compost, Dewi, dan Jatihan) dilepasliarkan kembali ke alam liar Hutan Lindung Bukti Batikap. Orangutan jantan Jatihan sempat mencicipi kehidupan liar sampai usia sekitar 2 tahun. Akibatnya, para betina merasa ingin tahu dengan keberadaan manusia dan cenderung mendekati saat diamati, sementara Jatihan selalu berusaha menjaga jarak ketika dipantau semenjak ia dilepasliarkan.
Di hari pertama setelah pelepasliaran, Mentos dan Jatihan tampak suka berduaan, kendati terkadang ditemani Noor – betina yang dilepasliarkan tahun lalu – terlepas dari fakta bahwa Noor dan Mentos pernah berkelahi tepat begitu Mentos keluar dari kandangnya. Jatihan berusaha keras mendekati kedua betina itu, dengan berkali-kali menyentuh, mencium, namun keduanya menolak berhubungan seks dengan Jatihan. Jatihan dan Mentos berkeliaran di dekat titik pelepasliaran, seakan enggan menjauhi pantai berbatu tempat kandang mereka didaratkan saat itu.
Sementara itu, Dewi dan Compost secara terpisah bergerak menjauhi sungai ke arah Selatan. Di hari kedua para orangutan tinggal di alam liar, pemantau Yayasan BOS di Batikap, Purnomo dan Sumarno mengamati Dewi, mulai mendengar seruan panjang (longcall) dari kejauhan saat tengah hari. Sebuah seruan panjang adalah rangkaian suara cegukan kuat yang diikuti oleh suara seperti berkumur bergetar dan bernada rendah, hanya dihasilkan oleh orangutan jantan dominan yang memiliki bantalan pipi atau cheekpad. Kantung tenggorokannya yang besar menghasilkan suara bergetar, dan diperkuat oleh bantalan pipi yang berfungsi seperti megafon serta meluncurkannya ke arah yang dituju. Seruan ini bisa berlangsung selama beberapa menit dan terdengar dari jarak beberapa kilometer jauhnya, meski di tengah hutan yang padat dan rimbun.
Dewi seketika tertarik mendengar suara itu (betina memilih untuk berpasangan dengan jantan yang memiliki bantalan pipi), dan berusaha mendekati sumber suara. Seruan panjang kembali terdengar, kali ini lebih dekat, dan pada pukul 13:50 Dewi menemukan jantan itu, Tarzan, yang telah ditemani Compost. Tarzan adalah jantan berbantalan pipi yang termasuk dalam kelompok pertama pelepasliaran di Batikap tiga tahun lalu. Ia terakhir terlihat lebih dari setahun lalu, pada bulan Desember 2013.
Dengan latar belakang kehidupan liarnya, wajar apabila Tarzan sanggup bertahan hidup dengan baik di Batikap. Ia bertambah besar, gemuk, dan membuat jeri yang melihatnya. Kedua betina mengikuti Tarzan sepanjang hari itu, dan Dewi berkopulasi dengan Tarzan dua kali. Selama itu, Compost tampak kesal, terus-menerus mengeluarkan suara kiss-squeak, kemungkinan lantaran cemburu.
Pelepasliaran yang Berhasil dan Maret yang Sibuk Bagi Tarzan (Kredit foto: Purnomo)
Pelepasliaran yang Berhasil dan Maret yang Sibuk Bagi Tarzan (Kredit foto: Purnomo)
Hari berikutnya, giliran Compost yang kami amati tengah berkopulasi dengan Tarzan, bukan di atas pohon, namun di atas tanah. Kali ini Dewi yang menunjukkan kecemburuannya; ia mendekati pasangan itu untuk memisahkan mereka, namun didorong menjauh oleh ayunan tangan yang besar dan kuat milik Tarzan. Mungkin tertarik mendengar seruan yang kerap ia dengar, Noor ikut muncul di tengah hari. Meski begitu, saat Tarzan mencoba mendekatinya, Noor menjauh. Dewi dan Compost masih mengikuti Tarzan sepanjang hari itu.
Compost berpisah di hari berikutnya, sementara Dewi masih setia menemani Tarzan. Tanggal 5 Maret mereka berkopulasi tiga kali, selalu setelah Tarzan mengeluarkan seruan panjangnya, dan setelah itu Dewi kembali mengajak Tarzan untuk kopulasi, namun Tarzan terlalu lelah.
Setelah mengikuti setiap orangutan setiap hari selama seminggu pasca pelepasliaran mereka, kami merasa puas meninggalkan mereka untuk sementara dalam kondisi sehat dan makan secara teratur. Saat kami melakukan pemantauan dua minggu setelahnya, Tarzan masih bersama Dewi, kini diikuti juga oleh Mentos. Compost ditemukan dua hari kemudian, tidak jauh dari ketiganya. Sementara Jatihan, tidak terlihat maupun terdengar sinyal radionya setelah beberapa kali upaya pelacakan. Hal ini tidak terlalu mengejutkan karena setelah mendengar beberapa kali seruan Tarzan yang kuat, Jatihan sebagai jantan yang belum tumbuh sebesar Tarzan merasa kehadirannya tak diinginkan di sana. Ia lebih baik menjaga jarak dengan Tarzan. Kami akan terus mencoba mencari tahu di mana ia menetap.