Beberapa minggu lalu, warga Pelangsiran, sebuah desa transit kecil di perbatasan hutan Kehje Sewen, melaporkan keberadaan satu individu orangutan. Sehari kemudian, dua anggota tim PRM (Post Release Monitoring) kami, Handoko dan Gunawan, segera bertolak menuju lokasi untuk mengecek kebenaran informasi tersebut.
Setibanya di Pelangsiran, kami mendeteksi sinyal kuat yang datang dari Berlian, satu individu orangutan betina yang dilepasliarkan bulan April 2012 lalu. Ia tengah bersantai di tepi Sungai Telen, tidak jauh dari Pelangsiran. Ketika melihat kami, Berlian tampak ketakutan dan segera menjauh. Melihat hal ini, Handoko dan Gunawan memutuskan untuk menginap di Pelangsiran dan mencoba mengevakuasi Berlian keesokan harinya.
Tiga hari berselang namun Handoko dan Gunawan belum juga berhasil mendekati Berlian untuk melaksanakan upaya evakuasi. Keduanya sudah mencoba berbagai cara yang mereka ketahui untuk membujuk Berlian, namun Berlian tak tertarik mendekati kedua teknisi itu sama sekali. Handoko dan Gunawan lantas memutuskan untuk kembali ke Camp Lesik untuk meminta saran dari tim lainnya sembari menunggu keputusan lebih lanjut.
Keesokan harinya, di hari keempat, tim Fenologi kami yang terdiri dari Agus, Bowo, dan Jafar kembali dari tugas pengumpulan data Fenologi bulanan di wilayah hutan sebelah selatan Pelangsiran. Mereka berhenti di Pelangsiran untuk beristirahat dan tak sengaja melihat Berlian tengah asyik makan buah di atas pohon. Tanpa diduga siapapun, Berlian mendadak berhenti makan, lalu turun dari pohon dan mendekati tim yang baru saja tiba tersebut. Ternyata, ia mengenali salah seorang anggota tim kami, Agus. Agus berusaha mengajak Berlian masuk ke dalam kandang transport yang telah disiapkan oleh Handoko dan Gunawan sebelum mereka kembali ke Camp Lesik. Namun Berlian hanya bersedia masuk apabila ditemani Agus di dalam kandang.
Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, Agus akhirnya menggendong Berlian di punggungnya. Tim memutuskan untuk segera mengevakuasi Berlian bagaimanapun caranya, karena semakin lama Berlian berada di Pelangsiran, akan muncul konflik antara manusia-orangutan. Mereka memutuskan untuk merelokasi Berlian ke daerah Sungai Lembu, beberapa kilometer di sebelah utara Camp Lesik. Namun tidak ada kendaraan yang membawa tim itu ke Camp Lesik, sehingga mereka memutuskan untuk berjalan kaki dengan Agus tetap menggendong Berlian.
Berlian dan Agus (Kredit foto: Agus)
Berlian dan Agus (Kredit foto: Jafar)
Selama di perjalanan kembali ke Camp Lesik, Berlian hanya mau digandeng atau digendong oleh Agus. Kami tidak tahu persis alasannya, yang penting bagi kami adalah Berlian bersedia kami bawa. Mencapai sepertiga jarak menuju Camp Lesik, Agus mulai merasa lelah. Menggendong orangutan seberat 60 kg yang tidak mau diam di gendongan membuatnya sulit berjalan dan lebih cepat kehabisan tenaga. Di daerah Muara Soh, Agus dan tim memutuskan untuk berisitirahat sejenak. Namun Berlian tampaknya tidak menyukai hal ini. Ia mulai menunjukkan sikap protes dengan menarik-narik tangan Agus berusaha mengajak mereka untuk tetap berjalan. Kesal karena keinginannya tidak dituruti, Berlian meninggalkan mereka.
Berlian memanjat sebatang pohon di daerah tebing yang menanjak dan segera bergegas pergi. Tim kami mencoba mengejar, namun mereka kehilangan jejaknya. Mereka berusaha mencari Berlian, namun tanpa membawa peralatan radio telemetri, karena mereka baru kembali dari survey Fenologi, mustahil melakukan hal itu.
Tim kami lantas memutuskan untuk meninggalkan lokasi. Muara Soh adalah daerah yang kerap dikunjungi oleh orangutan yang kami lepasliarkan, jadi kami merasa yakin Berlian akan baik-baik saja. Apalagi mengingat Berlian adalah salah satu dari enam orangutan pertama yang kami lepasliarkan di Kehje Sewen dan telah menetap di hutan ini selama tiga tahun. Kami hanya berharap ia tidak muncul kembali di daerah Pelangsiran. Jaga dirimu baik-baik, Berlian!