Kematian dan kelahiran berlaku bagi seluruh makhluk hidup di alam semesta. Inilah lingkaran kehidupan. Kematian pasti akan datang dan merupakan suatu akhir yang wajar, serta harus dihadapi setiap makhluk. Sementara itu, kehidupan ini kembali diisi oleh generasi baru, lahirnya anak-anak ke dunia.
Dengan rasa duka yang mendalam, keluarga besar Yayasan BOS mengumumkan kematian Mogok, orangutan jantan yang telah dilepasliarkan pada bulan Februari 2013 lalu ke Hutan Lindung Bukit Batikap. Di saat yang sama kami ingin membagi kabar gembira menyambut bayi orangutan baru yang telah lahir pada bulan September. Bayi orangutan ini lahir dari induk orangutan Monic, yang dilepasliarkan pada 28 Februari 2012 lalu.
RIP Mogok
Dengan kesedihan mendalam kami melaporkan kematian pertama dari orangutan yang dilepasliarkan di Batikap. Mogok meninggal pada 12 September setelah dua minggu berjuang melawan penyakit akibat infeksi parasit yang berat.
Mogok pertama kali tiba di Nyaru Menteng sebagai yatim piatu saat masih berusia dua tahun pada tahun 2002, setelah disita dari seorang warga yang menjadikannya binatang peliharaan. Dia menghabiskan waktu di Sekolah Hutan sebelum pindah ke Pulau Palas sebagai orangutan remaja berusia tujuh tahun , di mana ia belajar bagaimana untuk hidup mandiri di hutan. Saat ia dilepasliarkan di usia 14 tahun, ia mulai tumbuh menjadi orangutan dewasa besar. Kami melepaskannya di Hutan Lindung Bukit Batikap pada Februari 2013 dengan sekelompok orangutan rehabilitan lainnya. Mogok terlihat dapat mengatasi dengan baik lingkungan barunya. Dia menghabiskan banyak waktu dengan Isis, orangutan betina yang dilepasliarkan bersama dengannya. Kami menyaksikan dia bepergian menembus kanopi hutan dan terampil memilih makanan alami yang bervariasi. Terakhir kali kami memantaunya, kami merekam data tentang kegiatan sehari-harinya pada bulan Juli. Dia terlihat sangat sehat dan kami senang melihat kemajuannya.
Kami kembali memantau Mogok pada bulan Agustus sebagai bagian dari kegiatan pengamatan rutin dan pengumpulan data pada semua orangutan yang dilepasliarkan. Asisten kami menemukan Mogok dalam kondisi lemah dan hampir tidak bergerak di pohon ara di tepi sungai. Kami segera menghubungi koordinator pemantauan dan dokter hewan. Mereka mengamati Mogok selama sehari dan kelihatan jelas dia sangat sakit. Keputusan untuk membawanya kembali ke Camp pun kami ambil. Kami tidak memiliki kandang transportasi, tapi Mogok jelas sangat membutuhkan pertolongan. Ketika namanya kami panggil dan dia datang kepada kami, kami pun membawanya kembali ke Camp dalam pelukan dokter hewan kami.
Mogok mengalami infeksi cacing (Strongyloides) yang masif. Cacing ini menginfeksi usus dan paru-paru dan dapat berkembang biak dengan cepat. Meskipun kami memiliki dokter hewan yang berpengalaman di Camp, kami memperkuat tim dengan mendatangkan dokter hewan tambahan dari Nyaru Menteng bersama dengan pasokan perlengkapan medis tambahan yang dibutuhkan. Kami memberi dosis antibiotik berulang kepada Mogok, tetapi Strongyloides dapat menjadi sangat fatal pada orangutan. Penyakit ini dengan cepat berkembang, Mogok tidak bisa melawannya. Dalam keadaan lemah, ia mengalami infeksi pernafasan yang kompleks dan memerlukan tindakan operasi. Meskipun ia sempat terlihat akan membaik, dan meskipun upaya terbaik dari dokter hewan kami telah dilakukan, Mogok meninggal setelah dua minggu perawatan intensif 24 jam.
Sangat menyedihkan kehilangan orangutan yang dengan susah payah kami rehabilitasi sehingga ia dapat kembali ke alam liar. Tetapi kita harus realistis bahwa tidak semua orangutan yang kami lepasliarkan mampu bertahan di alam liar. Kami selalu mencoba memberikan setiap kesempatan terbaik, standar yang ketat dan prosedur untuk memastikan bahwa kami dapat melakukan intervensi terhadap orangutan yang telah kami lepasliarkan ketika diperlukan. Dalam kasus Mogok, hasil post-mortem menunjukkan bahwa penyakitnya adalah alami dan mungkin hasil dari sistem kekebalan yang lemah. Kami berharap Mogok menikmati masa singkat kebebasannya setelah kehidupan pendeknya yang traumatis. Kami akan terus bekerja sehingga orangutan lainnya di Batikap memiliki nasib yang lebih baik karena mereka akan melanjutkan perjalanan mereka menuju kebebasan.
Mogok sangat sehat dan kami senang melihat kemajuannya -Foto: Anna Marzec
Kami membawa Mogok kembali ke Camp dalam pelukan dokter hewan kami -Foto: Ike Naya Silana
Mogok meninggal setelah dua minggu perawatan intensif 24 jam -Foto: Ike Naya Silana
Mogok menghabiskan waktu di Sekolah Hutan sebelum pindah ke Pulau Palas
Monic tengah hamil tua -Foto: Ike Naya Silana
Monic keluar dari sarangnya sambil menggendong bayi orangutan kecil -Foto: Eldy
Monic tampak sangat menyayangi anaknya -Foto: Eldy
Generasi Baru Batikap
Masih dalam rasa sedih dan haru setelah kepergian Mogok, Tim meningkatkan pengawasannya terhadap Monic karena orangutan betina ini tengah hamil tua. Penuh kecemasan, Tim Monitoring Batikap melaporkan sejak awal tahun 2013 sinyal frekuensi radio transmitter Monic semakin menjauh dari Camp Totat Jalu. Dalam dua atau tiga bulan terakhir sinyal Monic benar-benar tak terlacak. Hal ini membuat Tim Monitoring merasa khawatir dan melakukan pencarian secara intensif terhadap orangutan betina yang dilepasliarkan ke Batikap pada bulan Februari 2012 lalu ini.
Pada 25 September 2013, setelah melakukan pencarian selama hampir satu bulan lamanya, Tim Monitoring mendapati sinyal Monic kembali terlacak. Sinyal orangutan betina ini ditemukan di sekitar Bukit Ahmat pada pukul 10:55 pagi. Akhirnya, keberadaan Monic ditemukan. Monic tengah berada di sebuah sarang baru. Tim Monitoring menunggu beberapa saat hingga Monic keluar dari sarangnya. Saat Monic mencoba keluar dari sarang, sesekali terdengar suara tangisan-tangisan kecil.
Tim Monitoring merasakan kebahagiaan yang besar ketika menyaksikan apa yang terjadi di depan mata mereka. Monic keluar dari sarangnya sambil menggendong bayi orangutan kecil dengan tali pusar (umbilicus) yang belum terputus. Monic telah melahirkan bayinya! Bayi orangutan mungil itu tampak sehat dan sesekali menangis. Matanya masih tertutup dan dia berada sangat erat dalam gendongan induknya. Tim Monitoring belum bisa mengidentifikasi jenis kelamin bayi Monic karena masih terlalu kecil dan berada sangat erat dalam pelukan Monic.
Pasca melahirkan, Monic tampak sehat dan cepat pulih. Monic tidak kehilangan nafsu makannya. Dia memakan makanan alami yang bervariasi, mulai dari buah beringin, daun-daunan muda, umbut rotan hingga kulit kayu. Sambil makan, Monic menyusui bayi kecilnya.
Monic tampak sangat menyayangi anaknya. Beberapa kali Monic terlihat membersihkan anaknya dengan cara menjilatinya. Ia juga tampak sangat melindungi bayinya. Monic melakukan kiss-squeak tanda ketidaksukaannya terhadap kehadiran Tim Monitoring yang mengamati mereka. Tim Monitoring melakukan pengamatan terhadap Monic selama 3 jam dalam sehari. Hal ini dilakukan untuk menghindari stres terhadap Monic.
Setelah bayi Astrid yang lahir pada Desember 2013 lalu, kini bayi Monic menambah kebahagiaan baru bagi Batikap. Sudah dua orangutan liar lahir di habitat sejatinya.
Kami akan terus mengabarkan lebih lanjut tentang Monic dan bayinya ketika kami telah mendapatkan informasi terbaru dari Tim Batikap. Kami berharap Monic dan bayinya selalu sehat dan seluruh keluarga besar Yayasan BOS mengucapkan selamat bagi ibu baru kita Monic.
Lingkaran yang Lengkap
Lingkaran kehidupan telah lengkap di Bukit Batikap. Satu orangutan, Mogok, pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Namun dua orangutan mungil, anak-anak dari Astrid dan Monic, lahir dengan selamat dan siap menjelajah rimba Batikap sebagai orangutan liar yang sesungguhnya, yang lahir di alam bebas. Semoga ini menjadi pertanda baik bagi harapan kita bersama untuk melihat lagi populasi orangutan liar baru tumbuh berkembang di habitat aslinya.