KOPRAL & SHELTON, DUA SAHABAT ISTIMEWA YANG SALING MENOLONG
Kopral dan Shelton adalah dua orangutan yang istimewa dalam segala hal. Dan keistimewaan itu pulalah yang mempersatukan mereka, menjadi sahabat setia yang saling mendukung. Ini sebuah kisah mengharukan dari Samboja Lestari yang patut menjadi bahan renungan sekaligus contoh serta motivasi perubahan perilaku kita.
Kopral dan Shelton memiliki banyak kemiripan. Keduanya sama-sama mengalami cacat tubuh akibat tragedi mengerikan. Mereka diselamatkan oleh Yayasan BOS dalam kondisi kritis. Keduanya berhasil disembuhkan dan sekarang dalam perawatan dan kasih sayang tim Yayasan BOS Samboja Lestari di Kalimantan Timur. Mereka pun hampir seusia. Dan kini, keduanya menjalin persahabatan erat, demi menolong satu sama lain.
Kopral, Tak Sudi Menyerah
Kopral lebih dulu datang ke Samboja Lestari. Awalnya, dia adalah orangutan peliharaan seseorang yang kerap ditempatkan di dalam kandang. Karena saat itu perilakunya masih tergolong liar, suatu hari Kopral berhasil melarikan diri. Malang tak dapat ditolak, Kopral memanjat tiang listrik dan tersengat listrik sangat parah pada bagian kaki dan tangan.
Sang pemilik kemudian membawa pulang Kopral dan kembali menempatkannya dalam kandang, mengira dia akan mati. Namun setelah seminggu, ternyata Kopral masih bertahan hidup. Akhirnya sang pemilik pun iba. Dia memanggil taksi dan mengantar Kopral ke pusat rehabilitasi orangutan milik Yayasan BOS, di Samboja Lestari.
Kopral tiba di Samboja Lestari pada tanggal 16 Desember 2009. Ketika kami membuka pintu taksi, aroma daging busuk langsung menyengat hidung. Kondisi orangutan berusia 4 tahun tersebut amat menyedihkan. Lengan kanannya – mulai dari pergelangan tangan hingga bahu – tinggal tulang, tanpa ada daging sedikit pun. Tangan kirinya juga mengalami luka bakar. Pada kedua kakinya pun terdapat luka.
Saat itu, kami melihat harapan hidup untuk Kopral kecil sekali. Tapi kami merasakan semangat hidup yang sangat tinggi. Ini terlihat dari cara Kopral memakan buah-buahan yang kami berikan. Dia menghabiskan semuanya dengan lahap. Padahal berdasarkan pengalaman kami, orangutan yang sakit biasanya mengalami penurunan napsu makan yang signifikan atau bahkan tidak mau makan sama sekali. Setelah selesai makan, Kopral berusaha keluar dari keranjang tempat duduknya dan mencoba berjalan dengan cara berguling-guling. Malah, dia kemudian juga mencoba memanjat pagar klinik! Melihat semua ini, yakinlah kami bahwa Kopral ingin bertahan hidup dan tak sudi menyerah.
Amputasi
Malam itu juga Kopral kami bawa ke rumah sakit tentara, karena hanya rumah sakit itulah yang bersedia menerima Kopral. Dia pun dioperasi dan lengan kanannya terpaksa diamputasi sampai ke bahu untuk menyelamatkan nyawanya. Sepulangnya dari rumah sakit, kondisi Kopral cukup baik dan semangat hidupnya terlihat meningkat.
Sayangnya, semakin hari kondisi lengan kirinya semakin memburuk. Dengan berat hati akhirnya tim medis memutuskan untuk mengamputasi lengan kirinya juga, sampai ke siku. Operasi kedua ini dilakukan di klinik Samboja Lestari, dengan bantuan dari rumah sakit tentara. Barulah setelah operasi kedua ini, kondisi Kopral benar-benar membaik. Setelah sekitar 4 bulan masa pengobatan dan pemulihan, Kopral pun sembuh dan langsung bergabung di Sekolah Hutan.
Kopral di Sekolah Hutan
Di Sekolah Hutan, Kopral membuat kami terkejut dengan kemampuannya. Dia dapat memanjat dengan menggunakan kedua kakinya dan pintar membuat sarang! Kopral membangun sarang menggunakan bantuan kaki serta mulutnya untuk memegang dan mengatur ranting-ranting serta daun-daunnya. Kopral pandai memanjat dan membuat sarang!
Ternyata, dengan kasih sayang dan dukungan teman-temannya sesama orangutan, maupun dari para staf di Samboja Lestari, orangutan pun dapat menemukan cara untuk mengatasi segala keterbatasannya. Kini, di usia 7 tahun, Kopral termasuk salah satu orangutan yang berprestasi, penuh rasa ingin tahu, aktif dan amat pintar.
9 Peluru di Tubuh Shelton
Di bulan Februari 2012, sekelompok anak-anak Pramuka menemukan orangutan yang terluka parah di daerah Taman Nasional Kutai (TNK). Dia diserahkan kepada petugas TNK yang kemudian segera memanggil dokter. Sang dokter terkejut ketika mendapati ada sembilan butir peluru yang bersarang dalam tubuhnya. Dokter dan para petugas TNK berusaha sebaik mungkin memberikan perawatan kepadanya. Namun kondisinya semakin memburuk, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi Yayasan BOS di Samboja Lestari.
Tim Samboja Lestari yang dipimpin oleh Manajer Program Aschta Boestani Tajudin dan didampingi oleh drh. Agus Irwanto segera meluncur ke TNK. Setibanya di sana, drh. Agus langsung melakukan pemeriksaan dan memberikan perawatan medis. Namun melihat kondisinya yang amat memprihatinkan, hari itu juga, tanggal 24 Februari 2012, tim kami memutuskan untuk membawa orangutan tersebut ke Samboja Lestari untuk menjalani perawatan intensif.
Di Samboja Lestari, tim medis mengoperasinya dan mengeluarkan peluru dari dalam tubuhnya. Namun beberapa peluru yang sempat bersarang di sekitar mata kanannya, telah merusak jaringan penglihatannya dan menyebabkannya buta. Namun selain itu, kondisinya cukup stabil. Koordinator Perawatan Satwa kami, Wiwik Astutik, kemudian menamakan orangutan itu Shelton.
Shelton & Kopral, sama-sama memiliki keterbatasan, sama-sama istimewa!
Kondisi Kopral ketika pertama tiba di Samboja
Kopral di Sekolah Hutan
Kopral menjenguk Shelton di dalam kandangnya
Kopral menjenguk Shelton di dalam kandangnya
Persahabatan sejati antara Kopral & Shelton
Pelajaran hidup yang istimewa dari 2 orangutan yang istimewa
Shelton Bertemu Kopral
Berbeda dengan Kopral, Shelton sempat mengalami trauma. Meski secara fisik, kondisi Shelton semakin membaik, dia hanya berbaring di pojok ruangan sambil memeluk kepalanya. Namun tim medis Samboja Lestari tanpa lelah memberikannya perawatan terbaik dan selalu mendampinginya dengan cinta kasih yang tulus. Akhirnya, 7 bulan setelah kejadian tersebut, Shelton pulih jiwa dan raga. Meski buta, semangat hidup orangutan berusia 6 tahun ini sudah kembali lagi.
Beberapa waktu yang lalu, kami memutuskan membuat kandang untuk Shelton di Sekolah Hutan agar dia mempunyai ruang gerak yang lebih leluasa dan bisa menikmati udara bebas. Karena selama ini, Shelton ditempatkan di ruang perawatan yang tertutup dari dunia luar. Pada hari pertama Shelton menempati kandang barunya, tidak ada kejadian yang luar biasa. Namun di hari kedua, ada orangutan yang menghampirinya. Orangutan ini juga istimewa seperti dirinya. Kopral.
Kopral mendatangi kandang Shelton, lalu memanjat dan duduk di atas kandangnya. Shelton awalnya tampak sedikit takut, jadi dia diam saja. Namun hari berikutnya, ketika Kopral kembali duduk di atas kandangnya, Shelton pun menghampirinya, kemudian sibuk membaui Kopral. Tim Sekolah Hutan sengaja tidak membuka pintu kandang agar Shelton dapat terlebih dahulu menghapal dan mengenal aroma tubuh Kopral. Hal ini berulang selama beberapa hari berikutnya.
Sekitar akhir Agustus 2012 lalu, tim Sekolah Hutan mencoba membuka kandang Shelton. Tepat seperti dugaan kami, Kopral pun langsung masuk ke dalam kandang dan mengajak Shelton bermain! Kopral sepertinya bisa merasakan bahwa Shelton juga mempunyai kekurangan. Kopral tidak bermain dengan kasar seperti biasanya dengan teman-teman orangutan lainnya.
Sejak saat itu, Shelton menjadi lebih ceria. Tiap hari, Kopral menyempatkan diri bermain dengan Shelton dan mengajarinya banyak hal. Mereka berayun, bergantung, bergulat, dan saling bercanda.
Ini merupakan kemajuan yang sangat menggembirakan. Kami sangat antusias melihat perkembangan selanjutnya di masa-masa yang akan datang. Yang jelas, saat ini Kopral dan Shelton menjadi sepasang sahabat setia yang saling mendukung.
Pelajaran Hidup yang Berharga
Melalui kedua orangutan ini, kami belajar mengenai perjuangan dan semangat hidup, serta arti sebuah persahabatan sejati. Sebagai manusia, kita harus memetik pelajaran ini dan menggunakannya dalam hidup kita dan cara kita berinteraksi dengan sesama makhluk hidup, baik manusia maupun hewan.
Kedua orangutan muda ini telah memperlihatkan bahwa betapa pun tragisnya peristiwa yang mereka alami, padahal mereka tidak bersalah sama sekali, mereka dapat melaluinya dan mengambil hikmahnya dengan cara menyemangati diri sendiri dan juga sesama. Sungguh istimewa!’