Nyaris semua orangutan yang kami terima di pusat rehabilitasi datang dalam kondisi kesehatan yang menyedihkan, sebagian bahkan menderita penyakit atau kelainan yang cukup parah dan membutuhkan perawatan atau pengobatan khusus.
Sama halnya dengan Jeje, satu orangutan yang kami rawat di Pusat Rehabilitasi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari. Jeje adalah jantan hasil serahan dari Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Tenggarong, Kalimantan Timur kepada BOS Foundation saat ia berusia 5 tahun, setelah tim rescue wildlife BKSDA menyitanya dari seorang warga Barong Tongkok, kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Seorang warga dilaporkan telah memelihara Jeje sejak kecil. Hal ini berarti proses rehabilitasi Jeje akan sulit, karena ia terlalu lama bersama manusia.
Jeje tiba di Samboja Lestari pada tanggal 9 September 2016, dan saat itu, kami menemukan mata sebelah kiri Jeje tidak terlihat normal. Analisa tim medis menyatakan, kemungkinan bola mata Jeje rusak akibat terkena benda tajam. Hal ini bisa menjadi masalah serius bagi Jeje di kemudian hari.
Setelah usai menjalani karantina, Jeje kami tempatkan di Sekolah Hutan Grup 1 dan kami menemukan bahwa Jeje lebih lambat belajar keterampilan baru dibandingkan dengan teman-temannya. Ia pemalu dan tak banyak bersosialisasi dengan orangutan lain, namun ia juga tidak suka dimanja oleh teknisi atau ibu asuh. Ia beberapa kali menunjukkan sikap agresif terhadap teknisi. Jeje suka menjelajah, walau lebih suka melakukannya di atas tanah.
Pada bulan Maret 2020, Jeje dipindahkan ke Kandang Sosialisasi C akibat terdeteksi mengidap ORDS (Orangutan Respiratory Disease Syndrome), sebuah gangguan sistem pernafasan orangutan, biasanya disebabkan infeksi bakteri. Dalam sejumlah kasus, gangguan ini bisa menyebabkan kematian. Setelah 4 bulan dirawat, Jeje kami pindahkan ke Kandang Individu dan bergabung dengan sejumlah orangutan pengidap ORDS lainnya.
Selama di Kandang Individu, Jeje berubah menjadi karakter yang lebih tenang dan tidak lagi menunjukkan perilaku agresif. Dia lebih suka berdiam diri dan mengamati keadaan sekitar, sekaligus menanti teknisi membawakannya makanan dan enrichment.
Tim medis Samboja Lestari sembari memberikan perawatan kesehatan bagi Jeje, melihat bahwa mata kirinya perlu penanganan lebih serius. Hal ini penting terutama untuk mencegah terjadinya infeksi serta meningkatkan kondisi kesehatannya. Namun karena kurangnya pengalaman dalam operasi mata membuat tim kami mencari bantuan dari pihak luar. Kami beruntung saat sebuah proyek peningkatan kemampuan tim medis dilaksanakan. Selama tiga bulan, drh. Joost Philippa, DVM, PhD, Dipl. ACCM, berada di Pusat rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari untuk membantu dalam perawatan orangutan dan beruang madu .
Dengan adanya pakar berpengalaman, tim medis kami di awal Mei lalu mengambil keputusan beresiko untuk mengangkat bola mata kiri Jeje. drh. Joost telah memiliki pengalaman dalam operasi seperti ini di tempat lain sehingga selain ia dapat memimpin jalannya operasi, juga melatih tim medis kami untuk melakukan hal ini! Operasi dan pelatihan berjalan lancar dan bola mata Jeje berhasil dikeluarkan dengan aman.
Kini sudah dua bulan sejak mata kiri Jeje diangkat, dan kami dengan senang hati menyatakan bahwa keadaannya semakin membaik. Jeje telah tampak aktif bermain di kandang, lebih aktif daripada sebelum operasi.
Operasi pengangkatan mata Jeje hanyalah salah satu dari sejumlah prosedur yang dilakukan selama proyek pelatihan peningkatan kesejahteraan hewan selama 3 bulan ini. Kami sangat berterima kasih kepada organisasi-organisasi donor yang telah membantu mewujudkan proyek yang membantu Jeje, yaitu Orangutan Veterinary Aid (OVAID) dan BOS Swiss. Kami juga berterima kasih atas bantuan mitra BOS lainnya, yaitu BOS Jerman, BOS Inggris, BOS Australia, dan Save the Orangutan yang secara finansial dan logistik mendukung pekerjaan sehari-hari Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari kami. Dan yang terakhir, namun tak kalah pentingnya, terima kasih Dr. Joost atas bantuan keahlian Anda kepada kami!