Dalam waktu dekat, akan ada lima orangutan lagi yang akan tinggal di Hutan Lindung Bukit Batikap. Mereka adalah orangutan dari Pusat Reintroduksi Orangutan Yayasan BOS di Nyaru Menteng yang akan menempuh perjalanan ke hutan pada tanggal 24 Februari 2015. Inilah profil mereka.
SEMI-LIAR
Semi-liar adalah orangutan yang, pada saat diselamatkan masih berperilaku alami (liar), dan secara konsisten memperlihatkan bahwa ia telah memiliki kemampuan yang cukup untuk hidup mandiri di hutan
1. MAHA
Maha tiba di Nyaru Menteng dari Desa Mahajandau, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, pada 5 Agustus 2007 saat usianya 2,5 tahun dengan berat badan 12 kilogram. Orangutan jantan ini merupakan hasil sitaan Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) – BKSDA Kalimantan Tengah dan tim rescue BOSF di Nyaru Menteng (NM).
Karena sifatnya yang semi-liar, kemampuan Maha di Sekolah Hutan cepat berkembang. Ia pintar memilih pakan alaminya, membuat sarang, dan banyak beraktivitas di pepohonan. Maha adalah orangutan jantan yang aktif dan mandiri.
Kini usia Maha 10 tahun dengan berat badan 35 kilogram. Setelah delapan tahun di pusat rehabilitasi, tak lama lagi Maha yang gagah dan memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan ini akan menikmati kebebasannya menjelajah Hutan Lindung Batikap.
2. JATIHAN
Jatihan adalah orangutan jantan yang disita dari seorang warga di desa Kereng Pangi, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dan tiba di Nyaru Menteng pada 6 Januari 2008. Saat itu ia masih berusia 1,5 tahun dengan berat badan 7 kilogram.
Setelah lulus dari Sekolah Hutan, Jatihan masuk ke pulau pra-pelepasliaran di Pulau Bangamat. Jatihan yang kedua ruas jari telunjuknya diamputasi oleh dokter hewan Nyaru Menteng karena berkelahi dengan orangutan lain ini tumbuh menjadi orangutan jantan yang gagah dan terampil memanjat, mencari buah-buahan hutan dan rayap. Ia juga penjelajah yang handal dan suka bergaul dengan orangutan lainnya.
Kini Jatihan berusia 9 tahun dengan berat badan 40 kilogram. Orangutan jantan dengan rambut tipis berwarna coklat kehitaman dan memiliki janggut tebal berwarna coklat kemerahan ini tak lama lagi akan membuktikan kemandiriannya di hutan yang sesungguhnya, Hutan Lindung Bukit Batikap.
REHABILITAN
Rehabilitan adalah para orangutan yang diselamatkan pada usia yang sangat muda dan/atau pernah menjadi peliharaan manusia. Orangutan seperti ini belum memiliki atau sudah kehilangan sebagian besar kemampuan untuk hidup mandiri di hutan, dan karenanya harus terlebih dahulu melalui proses rehabilitasi (Sekolah hutan dan tahap pra-pelepasliaran di pulau/hutan singgah); sebuah proses yang memakan waktu selama rata-rata 7 tahun
3. COMPOST
Compost ditemukan pada 29 Agustus 2003 di perkebunan kelapa sawit di Desa Parenggean, Kalimantan Tengah dalam kondisi yatim piatu oleh salah seorang pekerja di perkebunan ini.Saat itu orangutan betina ini masih berusia dua tahun, dengan berat badan empat kilogram. Setelah dua hari dipelihara oleh warga, Compost dibawa ke Nyaru Menteng oleh BKSDA dan tim rescue BOSF di Nyaru Menteng. Nama Compost diberikan kepadanya sebagai ungkapan terima kasih kepada Alain Compost, sutradara film yang saat itu membuat film dokumenter “Story Of Rimba”. Compost memerankan Rimba kecil di film tersebut.
Compost tumbuh menjadi orangutan betina yang mandiri dan tangguh meskipun telinga kanannya mengalami cacat permanen. Setelah lulus dari Sekolah Hutan, Compost yang bermata sipit dengan rambut tebal berwarna coklat kehitaman ini menghuni pulau pra-pelepasliaran di Pulau Palas. Lalu pada tahun 2013 ia dipindahkan ke Pulau Kaja dan menjadi penjelajah yang handal di pulau itu.
Compost kini berusia 13 tahun dengan berat badan 47 kilogram. Selama 11 tahun tinggal di Nyaru Menteng, Compost telah mempelajari banyak keterampilan bertahan hidup di hutan. Kini tinggal menghitung hari untuk membuktikan kemampuan dan kemandiriannya sebagai orangutan liar sejati di Hutan Lindung Bukit Batikap.
4. DEWI
Dewi adalah orangutan betina yang disita oleh BKSDA dari seorang warga di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 10 November 2001. Saat tiba di Nyaru Menteng, usianya 6,5 tahun dengan berat badan 24 kilogram. Dewi yang memiliki rambut panjang berwarna coklat gelap dan pelipis mata menonjol dengan mata yang agak sipit ini mengawali proses rehabilitasinya di Nyaru Menteng dengan belajar di Sekolah Hutan.
Lulus dari Sekolah Hutan pada 23 Oktober 2005, Dewi yang memiliki paras cantik dengan bercak hitam di kedua kelopak matanya ini menempati salah satu pulau pra-pelepasliaran, yaitu Pulau Bangamat. Dewi mudah dikenali karena memiliki ekspresi wajah yang sedih dengan tatapan sayu. Ia memiliki kewaspadaan yang tinggi.
Dewi yang kini berusia 20 tahun dengan berat badan 44 kilogram ini tidak suka bila didekati manusia dan akan pergi menjauh masuk ke dalam hutan untuk menunjukkan ketidaksukaannya. Setelah 13 tahun di pusat rehabilitasi, Dewi siap untuk menjelajahi rumah sejatinya di Hutan Lindung Bukit Batikap.
5. MENTOS
Disita oleh BKSDA dari seorang warga Tangkiling yang letaknya tidak jauh dari Nyaru Menteng pada 22 Juni 2000, Mentos saat itu masih berusia 2,5 tahun dengan berat badan 4 kilogram. Selepas masa karantina, Mentos mengikuti ‘Nursery’ Grup untuk mendapatkan kembali kemampuan dan perilaku alaminya.
Mentos yang memiliki rambut berwarna coklat gelap dengan dahi agak menonjol lulus dari grup bayi pada 4 April 2001 dan mulai belajar di Sekolah Hutan. Lulus dari Sekolah Hutan, Mentos yang pendiam namun memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ini pun mengikuti tahap pra-pelepasliaran di Pulau Palas dan pada tahun 2013 ia dipindah ke Pulau Kaja. Meskipun pendiam, Mentos sangat ramah dan suka bergaul dengan orangutan lainnya, seperti: Koko, Holi, dan Terang. Ia sangat suka bermain air.
Kini Mentos yang memiliki kulit wajah berwarna hitam dengan ekspresi wajah sedih ini berusia 17 tahun dengan berat badan 50 kilogram. Mentos yang cantik akan segera menempati rumah sejati mereka di Hutan Lindung Batikap sebagai orangutan liar sejati.