Induk orangutan, sama seperti manusia, adalah sosok panutan bagi anaknya. Para induk orangutan memberikan perlindungan dan keterampilan menyintas di alam liar kepada anaknya. Butuh waktu sekitar delapan tahun sebelum anak orangutan sepenuhnya hidup mandiri.
Di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, ada beberapa orangutan betina dewasa yang kami amati menjadi induk yang baik bagi anaknya. Salah satu dari induk yang baik ini adalah Sayang, yang pertama kali diketahui memiliki bayi orangutan pada 15 Oktober 2018. Kami belakangan memberi nama bayi itu Padma. Bulan April lalu, tim Post Release Monitoring (PRM) dari Kamp Lesik, kembali menemukan pasangan ibu-anak ini saat berpatroli, dan segera mengamati mereka.
Seperti anak-anak pada umumnya, Padma punya rasa ingin tahu yang besar, suka bermain, dan merengek atau menangis untuk menunjukkan ketidaknyamanan. Namun sebagai ibu, Sayang menunjukkan cara meningkatkan keterampilan dan dengan sabar mengawasi Padma berlatih, sembari menjaga keselamatan anaknya yang telah menginjak usia 3 tahun tersebut. Kami melihat bahwa setiap meneukan pakan alami, Sayang selalu memberi Padma kesempatan untuk melakukan hal yang sama dan menikmati hasilnya.
Sayang juga mengajari Padma kemampuan bersosialisasi melalui permainan dan interaksi. Dalam pengamatan kami, keduanya sering bergulat. Sayang juga bermain-main dengan tangan, kaki dan jari-jari kecil Padma.
Menjelang sore, hujan turun. Untuk melindungi diri dari hujan, Sayang membuat pelindung seperti payung terbuat dari ranting dan daun untuk dipakai berdua Padma. Mungkin akibat dingin dan basah, Padma menangis. Sayang memeluk erat Padma untuk menenangkannya, memainkan anggota tubuh Padma, memberi makanan, bahkan menyusui. Saat itu, kami menyaksikan Sayang benar-benar sesosok ibu yang sangat baik bagi Padma.
Semoga kelak Padma dapat menyerap banyak keterampilan membesarkan anak dari Sayang dan melahirkan generasi baru orangutan di Hutan Kehje Sewen!