PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Di dalam rimbunnya Hutan Lindung Tuanan, Kalimantan Tengah, para pejantan orangutan liar bergerak dengan kekuatan dan keanggunan yang jarang terlihat manusia. Di antara mereka, ada satu individu yang mudah dikenali: Dayak.
Dayak mudah dikenali dari fitur sumbing pada bibirnya. Fitur bibirnya yang unik, membuat banyak orang, termasuk peneliti dapat dengan mudah mengenalinya. Selain itu, Dayak juga dikenal sebagai orangutan dominan. Panggilan panjangnya sering bergema melalui hutan, berfungsi baik sebagai peringatan untuk para pesaing maupun undangan bagi betina di dekatnya.
Baca juga: BAGAIMANA ORANGUTAN “BERBICARA”?
Meski tubuhnya besar, Dayak bergerak di antara pepohonan dengan kelincahan yang luar biasa. Ia berayun dari dahan ke dahan dengan lincah dan cekatan. Meskipun pejantan dewasa biasanya hidup menyendiri, peran mereka dalam ekosistem hutan sangat penting. Dengan bepergian jarak jauh dan mengonsumsi berbagai macam buah, mereka membantu menyebarkan biji dan mendukung regenerasi alami hutan hujan.
Suatu sore, Dayak muncul secara tak terduga di dekat stasiun penelitian Tuanan. Kehadirannya tenang tapi sudah tahu tujuan. Tanpa menunjukkan tanda-tanda terganggu, ia mulai memakan daun-daun muda yang lembut dari pohon-pohon di sekitarnya.
Gerakannya tenang namun efisien. Hampir di setiap tempat berhenti di sepanjang jalannya, ia dengan hati-hati memilih daun-daun segar dari cabang tempat ia berhenti untuk beristirahat. Daun-daun itu dimakan perlahan, seolah ia menikmati setiap gigitan sebelum melanjutkan perjalanannya melalui kanopi.
Baca juga: BERTEMU ORANGUTAN LIAR DI TUANAN
Pertemuan seperti ini memberikan kesempatan langka untuk mengamati kehidupan sehari-hari orangutan liar dari dekat. Bahkan perilaku terkecil tentang bagaimana mereka memilih makanan, bergerak antar pohon, atau berhenti untuk beristirahat, memberikan wawasan berharga tentang rutinitas alami mereka.
Menjelang pukul tiga sore, ketika cahaya matahari masih cukup terang, Dayak mulai melakukan sesuatu yang tidak biasa: membangun sarang untuk beristirahat. Umumnya, orangutan membangun sarang malam menjelang senja, setelah lelah menjelajah sepanjang hari.
Baca juga: SENI MEMBANGUN SARANG ORANGUTAN
Namun hari itu, Dayak memulai proses tersebut lebih awal. Dengan cekatan ia mematahkan cabang-cabang kecil, menatanya menjadi struktur sarang yang kuat. Bahkan ia menambahkan lapisan daun sebagai semacam atap sederhana di atas sarangnya. Ini merupakan sebuah perlindungan alami dari cuaca. Selama proses ini, Dayak tetap memakan daun muda di sekitarnya, seolah memanfaatkan setiap momen sebelum benar-benar beristirahat.
Tidak lama setelah Dayak selesai berbaring di sarangnya, gerimis mulai turun perlahan di hutan. Apakah ini alasan ia membangun sarang lebih awal? Mungkin saja. Orangutan dikenal memiliki insting yang tajam terhadap perubahan cuaca. Sarang dengan atap daun yang dibuat Dayak bisa menjadi perlindungan sederhana dari tetesan hujan yang menembus kanopi.
Dayak adalah simbol ketangguhan, pengalaman, dan kehidupan liar yang masih bertahan di hutan Kalimantan. Suara long call yang menggema, hingga sarang yang ia bangun di tengah hujan, menjadi bagian dari kisah kehidupan orangutan liar di habitat alaminya.
Baca juga: BAGAIMANA REHABILITASI ORANGUTAN MEMPERKUAT UPAYA KONSERVASI
Kisah Dayak juga mengingatkan kita akan sesuatu yang lebih besar: bahwa kelangsungan hidup orangutan bergantung pada keberadaan hutan yang sehat dan terlindungi. Melindungi hutan berarti menjaga rumah bagi individu-individu seperti Dayak, si penjaga kanopi yang terus memastikan hutan tetap hidup untuk generasi mendatang.