PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Beberapa hari yang lalu, sekitar pukul satu siang, kami melihat ada pergerakan orangutan dari atas pohon letaknya tidak jauh dari Camp Lesik. Setelah di dekati ternyata orangutan tersebut adalah Sayang, anak dari Yayang. Saat kami temui, ia tidak bersama induknya!
Melihat Sayang yang sedang asyik makan, kami pun mencoba mendektesi keberadaan Yayang yang biasanya tidak jauh dari Sayang. Tapi, ternyata alat telemetri kami tidak mendeteksi sinyal Yayang sama sekali. Ini adalah tanda bahwa Sayang memang sudah menjadi orangutan yang mandiri. Berita yang sangat baik.
Hari itu pun, kami memutuskan untuk mengikuti pergerakan Sayang. Dia cukup aktif berpindah dari pohon ke pohon dan Sayang sepertinya sadar bahwa ada kami yang sedang mengikutinya. Ia kerap menunjukkan ketidaksukaannya kepada kami dengan melempar batang-batang pohon dan beberapa kali mengeluarkan kiss-squeak-nya, setelah itu ia langsung berpindah pohon lagi dengan lincahnya.
Hari itu aktifitas Sayang lebih banyak dihabiskan untuk berjelajah Kehje Sewen dari pohon satu ke pohon yang lain. Ia juga terlihat banyak memakan buah-buahan dan umbut-umbutan. Sayang pun menutup harinya dengan tidur di sarangnya dan kami kembali pulang ke Camp Lesik.
Keesokan harinya di saat matahari belum tampak, kami sudah bergerak menuju sarang Sayang untuk melakukan observasi nest-to-nest pertamanya tanpa sang induk. Saat kami tiba di dekat sarangnya, Sayang belum terbangun dari tidur malamnya. Kami pun dengan sabar menunggunya sambil makan bekal yang kami bawa.
Selang beberapa menit, Sayang terlihat keluar dari sarangnya dan langsung bergegas pergi ke pohon yang lain. Kami pun turut bergegas mengikuti ke mana Sayang pergi. Tidak lama ia berpindah pohon, terdengar dari kejauhan suara seruan panjang (long call). Sayang pun berhenti sejenak di dahan pohon dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar hutan.
Hari itu, aktifitas Sayang tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya – ia sangat aktif berpindah-pindah pohon menjelajahi Hutan Kehje Sewen dan terlihat banyak sekali makan buah-buahan hutan. Rasa senang menyelimuti kami melihat Sayang yang sudah mandiri. Ia begitu mengagumkan di rumah sejatinya.