EKSPEDISI MONITORING & INVENTARISASI BIODIVERSITAS
Di balik lebatnya hutan Kehje Sewen, ada sekelompok orang yang berjalan bukan untuk berpetualang, bukan pula untuk mencari pengakuan.
Ketika orang berbicara tentang kesehatan mental, kebanyakan orang berpikir tentang trauma, depresi, kehilangan, dan proses pemulihan. Namun, bagaimana jika orangutan menghadapi situasi serupa?
Orangutan bukan hanya satwa liar yang harus dilindungi; mereka adalah makhluk yang cerdas dan memiliki kehidupan emosional yang kompleks. Seperti manusia, orangutan juga dapat mengalami trauma psikologis yang parah, terutama selama masa kanak-kanak yang dipenuhi dengan kekerasan, kehilangan, dan isolasi.
Salah satu ikatan paling lama dan kuat yang ditemukan pada mamalia adalah hubungan antara induk dan anak orangutan di alam liar. Anak orangutan hampir selalu berada di dekat induknya selama dua tahun pertama hidupnya. Mereka baru dapat bergerak secara mandiri ketika berusia sekitar lima hingga enam tahun dan terus berbagi sarang dengan induknya hingga berusia enam hingga delapan tahun. Bahkan ada beberapa individu yang masih teramati mengunjungi induknya saat berusia sekitar sebelas tahun.
Ikatan ini tidak hanya penting untuk belajar memanjat atau mencari makan. Anak orangutan belajar dari induknya mengenali lingkungannya, menciptakan rasa aman, dan mengetahui siapa yang dapat mereka percayai. Semua itu menjadi bekal penting bagi kehidupannya di masa depan.
Sayangnya, hampir semua orangutan yang datang ke pusat rehabilitasi kehilangan induknya pada usia yang sangat muda. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh perdagangan satwa liar yang melanggar hukum, di mana induk orangutan sering dibunuh untuk mendapatkan anaknya dan diperdagangkan.
Anak orangutan berpisah secara tiba-tiba dan kehilangan sosok yang menjadi sumber perlindungan sekaligus tempat mereka belajar. Akibatnya, kehilangan induk bukan hanya kehilangan fisik, tetapi juga dapat menjadi pengalaman traumatis yang berdampak psikologis yang mendalam.
Namun demikian, orangutan rehabilitan mungkin mengalami berbagai jenis trauma. Kehilangan induk hanyalah salah satunya. Beberapa individu datang ke pusat rehabilitasi setelah dipelihara secara ilegal sebagai satwa peliharaan atau dimanfaatkan untuk hiburan selama bertahun-tahun. Ada yang dipaksa melakukan atraksi, tinggal di tempat yang tidak mereka kenal dan penuh tekanan, atau menerima perlakuan yang tidak pantas selama proses pelatihan.
Sebagian lainnya adalah penyintas kebakaran hutan, kerusakan habitat, dan bencana yang menyebabkan mereka kehilangan habitatnya secara tiba-tiba. Pengalaman tersebut serupa, tetapi latar belakangnya berbeda: stres berkepanjangan yang dapat memengaruhi perilaku, menimbulkan rasa takut, dan mengganggu rasa aman mereka.
Menurut sejumlah penelitian, orangutan yang terpisah dari induknya terlalu dini cenderung kurang sosial, kurang dominan, dan lebih rentan terhadap stres (Reimers et al., 2007). Dalam beberapa kasus, mereka juga dapat menunjukkan perilaku tertentu yang diduga berkembang sebagai cara untuk menangani pengalaman masa lalu mereka.
Sura ditemukan saat masih bayi di area konsesi yang sedang mengalami penebangan. Sebelum diserahkan kepada tim penyelamat, seorang warga sempat memeliharanya. Selama pemeriksaan kesehatan, tim dokter hewan menemukan bahwa tiga jari tangan kirinya telah terpotong. Luka yang masih terbuka tampaknya berasal dari benda tajam.
Sura berusaha keras untuk tetap dekat dengan ibu asuh selama karantina. Ia sering berpegangan erat pada mereka dan beberapa kali memperhatikan jari-jarinya yang terluka, seolah-olah menyadari perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
Kini, Sura telah tumbuh menjadi orangutan dewasa yang sehat dan tinggal di pulau pra-pelepasliaran. Setelah belajar memanjat kembali, ia dapat beradaptasi dengan baik. Meskipun demikian, satu perilaku masih terlihat hingga sekarang. Ketika Sura dipanggil, ia sering menutupi wajahnya, seolah-olah menghindari kontak mata.
Perilaku ini mungkin menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi atau merupakan respons terhadap pengalaman sulit yang pernah dialaminya. Pengalaman itu tampaknya masih meninggalkan jejak, meskipun luka fisiknya telah sembuh.
Misalnya, Mema adalah salah satu orangutan yang disita dari seorang warga yang mengaku menemukannya di kawasan gambut yang terbakar saat mencari kayu bakar. Saat menjalani pemeriksaan kesehatan, tim dokter hewan menemukan beberapa benjolan kecil di pinggul dan tubuhnya, serta luka di lengan kanannya, yang diduga berasal dari peluru senapan angin. Temuan tersebut menunjukkan bahwa induk Mema kemungkinan besar ditembak dan dibunuh sebelum Mema terpisah darinya.
Saat ini, salah satu perilaku yang paling sering terlihat pada Mema adalah memeluk dirinya sendiri. Hal ini terutama terjadi ketika ia berada dalam situasi baru atau situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Dalam studi perilaku primata, perilaku seperti ini dikenal sebagai displacement activity, yaitu perilaku yang diarahkan pada diri sendiri. Konflik emosional serta upaya mengelola stres atau kecemasan sering dikaitkan dengan perilaku ini (Troisi, 2002). Diduga bahwa perilaku seperti memeluk diri sendiri dapat membantu individu mendapatkan kembali rasa tenang ketika mereka berada dalam situasi yang dianggap tidak pasti atau menegangkan, terutama ketika induknya tidak lagi hadir sebagai sumber rasa aman.
Tidak hanya waktu yang diperlukan untuk pulih. Dukungan sosial juga sangat penting untuk pemulihan emosional dan mengurangi stres (Bridgeland-Stephens, Thorpe, & Chappell, 2023). Di pusat rehabilitasi, para ibu asuh berperan mendampingi orangutan muda setiap hari. Melalui perawatan yang konsisten, perhatian, dan rasa aman yang mereka berikan, orangutan secara bertahap belajar membangun kembali kepercayaan terhadap lingkungannya.
Ketika orangutan merasa lebih aman, mereka biasanya menjadi lebih berani menjelajah, berinteraksi dengan individu lain, dan mencoba hal-hal baru. Di sinilah mereka memperoleh pengalaman belajar yang penting. Mereka mengembangkan kemampuan seperti memanjat, mencari pakan, dan menyelesaikan berbagai tantangan yang akan mereka hadapi saat hidup di alam liar.
Kemampuan-kemampuan ini sangat penting untuk kelangsungan hidup setelah dilepasliarkan. Mereka yang masih berada dalam kondisi stres jangka panjang atau belum pulih dari trauma mungkin akan menghadapi proses belajar yang lebih sulit. Oleh karena itu, pemulihan emosional berkaitan erat dengan kesejahteraan individu, perkembangan perilaku, dan persiapan untuk kembali ke habitat alaminya.
Banyak orang tidak menyadari bahwa orangutan juga dapat mengalami dampak psikologis dari pengalaman hidup mereka. Sering kali, perhatian kita tertuju pada luka fisik, penurunan populasi, atau hilangnya habitat. Padahal, setiap orangutan yang diselamatkan memiliki kisah tentang kehilangan, ketakutan, dan perjuangan untuk pulih.
Jika tujuannya adalah melindungi kehidupan, kesejahteraan satwa harus menjadi bagian penting dari konservasi. Pengalaman Sura dan Mema, serta banyak orangutan rehabilitan lainnya, menunjukkan bahwa orangutan mampu merasakan kehilangan, membangun ikatan, dan membawa pengalaman yang membentuk kehidupan mereka. Mereka mengalami luka yang nyata, meskipun tidak selalu dapat dilihat.