PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Kisah kali ini tentang induk orangutan bernama Sayang dan anaknya yang bernama Padma, ketika tim Post Release Monitoring (PRM) dari Kamp Lesik mengamati mereka di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.
Sayang, orangutan betina yang dilepasliarkan sembilan tahun lalu, dan anaknya, Padma berusia empat tahun, teramati oleh tim PRM di kamp Lesik, hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur saat observasi rutin pada bulan April lalu.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, tim PRM kami telah berangkat untuk memulai pengamatan orangutan di pagi hari. Pada saat pengamatan ini, mereka menemukan Padma juga telah bangun dan sudah memulai harinya dengan aktif bermain serta makan daun muda. Beberapa kali Padma teramati menghampiri Sayang untuk mengajaknya makan daun muda. Namun, Sayang terlihat tidak tertarik dengan ajakan Padma. Hari itu, Sayang memilih untuk bermalas-malasan hingga menjelang siang dan berbaring di sarang sembari memperhatikan Padma dari kejauhan.Menjelang siang hari, Sayang akhirnya bangun dan mulai bergerak untuk mencari makan siang. Padma yang masih manja meraih tangan Sayang dan bergelantung kepada ibunya. Sayang berjalan menuju ke tempat di mana ia dapat memperoleh banyak sumber makanan, ia memakan pucuk daun muda, buah jeruk hutan, buah palem hutan, singkong, dan bahkan rumput ilalang.
Setelah selesai makan, pasangan ibu–anak ini berjalan hingga akhirnya sampai di pinggiran Sungai Pehpan. Sambil bergelantung terbalik dari atas dahan yang menjorok ke tepi sungai, Sayang berusaha minum air sungai dengan memonyongkan mulutnya. Padma yang juga kehausan, terlihat memberi isyarat kepada ibunya untuk mengambil air. Sayang menyesap air melalui bibirnya dan memberikannya ke mulut Padma. Sungguh suatu pemandangan yang membuat kami takjub.
Setelah minum dan menghabiskan singkong, Sayang menghilang ke dalam rumpun bambu lalu memanjatnya. Bambu yang panjang, kuat, dan lentur biasanya sering digunakan oleh orangutan untuk menyeberangi sungai. Padma, yang biasanya selalu berpegangan pada ibunya akhirnya turun dan berusaha menyeberangi sungai seorang diri. Namun, karena lengannya tidak terlalu panjang untuk meraih cabang dari seberang sungai, jadi Sayang dengan sigap membantu Padma dengan menekuk beberapa bambu untuk membantu mengurangi celah. Akhirnya Padma berhasil naik ke dahan dan menyeberangi sungai dengan bantuan ibunya. Selanjutnya, giliran Sayang menyeberangi sungai untuk menyusul anaknya. Perlahan-lahan, Sayang mulai mengikuti rute yang digunakan oleh Padma, namun tiba-tiba “krakkk..” terdengar suara bambu yang patah karena terlalu berat menahan beban Sayang.
Kami dapat melihat kepanikan di mata Sayang saat dia beberapa kali berusaha mati-matian untuk memaksa menyeberang, akan tetapi bambunya retak lagi dan bahkan semakin hancur! Sayang bergegas turun kembali ke dasar rumpun bambu tanpa pijakan yang aman dan arus sungai deras yang mengalir di bawahnya. Sempat terdiam beberapa saat, Sayang lalu mulai memanjat bambu lain yang masih terlihat lurus. Perlahan, Ia memanjat lebih tinggi. Bambu yang awalnya lurus perlahan terlihat mulai membengkok mengarah ke dahan di seberang sungai. Dengan kesabaran dan kegigihannya, akhirnya Sayang berhasil sampai ke seberang dengan selamat dan bertemu kembali dengan Padma!
Sayang yang masih khawatir, bergegas menghampiri Padma dan memeluknya erat-erat. Setelah tenang, keduanya lalu memanjat ke atas pohon dan berayun dari satu pohon ke pohon yang lain, hingga akhirnya menghilang dari pandangan kami.
Terlihat begitu tidak terhingga kasih yang dimiliki Sayang kepada Padma. Dia menunjukkan kepada kami bahwa dia akan berusaha keras dan melakukan apa pun untuk tetap bersama dengan anaknya tercinta, Padma. Satu lagi pemandangan menakjubkan untuk tim PRM kami dan sesuatu yang hanya dapat dialami di Hutan Kehje Sewen!