Hari ini, kita di Indonesia memperingati Hari Ibu. Kasih seorang ibu kepada anaknya tak terhingga dan hal ini pun ternyata berlaku bagi orangutan. Simak kisah berikut ini tentang bagaimana induk orangutan mengasuh dan melindungi anaknya di hutan.
Di hutan, induk orangutan menjaga anaknya seperti layaknya harta yang tak ternilai harganya. Mereka akan bersama selama kurang lebih 7-8 tahun sampai sang anak siap untuk hidup mandiri. Dalam beberapa tahun pertama hidupnya, sang anak sangat tergantung pada induknya. Tidak mudah bagi orangutan betina dewasa membesarkan anak, ia harus mencari makanan lebih banyak dari biasanya agar bisa menyusui, sementara si anak bergantung di tubuhnya sepanjang waktu. Sementara itu, sifat alami orangutan yang semi-soliter membuat ia tidak bisa bergantung pada bantuan orangutan lain. Induk orangutan harus benar-benar menjadi supermom dalam membesarkan anaknya di alam yang liar!
Kami melihat fenomena ini di suatu hari di bulan Agustus lalu, saat tim Post Release Monitoring (PRM) kami di Kamp Lesik, Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, melakukan kegiatan pengamatan orangutan. Hari itu, tim kami cukup beruntung berhasil menemukan orangutan Sayang dan Padma sejak pagi hari, berkeliaran tak jauh dari kamp kami. Tim kami segera melakukan pengamatan terhadap Padma, anak Sayang, sejak pukul 8.
Selama pengamatan, Padma lebih banyak berada dalam gendongan Ibunya, dan sesekali memerhatikan tim kami. Tampaknya ia sedikit merasa tidak nyaman dengan kehadiran kami, terbukti dengan ia mematahkan dan melemparkan ranting kayu ke arah kami. Namun, Sayang hanya memerhatikan kelakuan putrinya. Mungkin ia memberikan kesempatan bagi Padma untuk berani dan melindungi diri dari ancaman.
Tak terasa matahari sudah berada di atas kepala saat Padma dibawa oleh sang Ibu turun dari pohon tak jauh di belakang kamp dan menuruni lereng tepi Sungai Pehpan. Kami mencoba mengikuti mereka menembus belukar, dan melihat Sayang membawa Padma menyeberang sungai.
Kami terkejut melihat Sayang dengan berani menggendong Padma menyebrangi sungai Pehpan melalui riam dan arus yang deras. Sayang meletakkan Padma di punggungnya agar tidak basah terkena air dan lebih aman posisinya. Dengan tenang namun cekatan, Sayang berhasil membawa Padma ke seberang sungai. Kami pun menyeberang menyusul mereka untuk melanjutkan pengamatan.
Memerhatikan Sayang hari itu, kami belajar mengenai besarnya kasih sayangnya kepada Padma, sehingga ia berani menempuh bahaya dan melindungi anaknya sedemikian rupa! Kami sangat salut melihat apa yang dilakukan Sayang.
Selamat hari Ibu, baik bagi kita, maupun bagi orangutan!