BELAJAR BERTAHAN HIDUP DARI SISI DAN SIJALU DI TEPIAN SUNGAI
Pada bulan Januari lalu, tim Post-Release Monitoring (PRM) kami menyelesaikan rangkaian kegiatan radio tracking untuk jejak orangutan di beberapa transek utama areal Hutan Lindung Bukit Batikap. Setelah seluruh pekerjaan selesai, tim kami kembali menuju kamp menggunakan perahu motor. Namun, hari itu belum benar-benar berakhir. Ada satu keputusan spontan yang diambil Bersama, yaitu menyusuri alur Sungai Joloi ke arah hilir untuk kembali mencari Mardianto, orangutan yang sehari sebelumnya sempat terdeteksi tetapi kemudian hilang kontak.
Bertemunya Tim PRM dengan Sisi dan Sijalu
Penyusuran sungai yang awalnya hanya menjadi perjalanan tambahan, justru menghadirkan pertemuan yang tak terduga. Di tepian Sungai Joloi, di salah satu jalan menuju transek patrol, tim kami bertemu dengan orangutan betina yang tengah menggendong bayinya.
Bayi orangutan tersebut terpantau masih sangat muda dan masih lekat menempel pada induknya. Dari ukuran tubuh dan pola interaksinya, usia bayi itu diperkirakan sekitar satu tahun atau bahkan kurang. Setelah dilakukan identifikasi mendalam dari kemiripan fitur wajah dan tubuh, sang induk kemudian teridentifikasi sebagai Sisi. Sementara itu, untuk memudahkan penyebutan, bayinya kami beri nama Sijalu.
Observasi Hari Pertama: Ketergantungan yang Masih Sangat Tinggi
Pada hari itu, observasi langsung dilakukan pada pukul 13.10 WIB dan berlangsung hingga ibu dan anak ini membuat sarang malam. Aktivitas Sisi didominasi oleh makan buah sangkuang di kanopi pohon. Sementara itu, Sijalu lebih banyak menyusu dan tetap berada dalam gendongan induknya.
Sarang malam mereka berada hanya sekitar 10 meter dari tepi sungai. Di beberapa pengamatan terhadap orangutan ex-rehabilitan, mereka cenderung berada di kawasan riparian. Hal ini dikarenakan daerah riparian cenderung menyediakan sumber pakan yang melimpah karena daerahnya yang dekat dengan perairan.
Aktivitas Arboreal dan Variasi Pakan yang Beragam
Keesokan harinya, pengamatan kembali dilanjutkan dengan metode nest to nest sejak pukul 05.10 WIB hingga sore hari. Setelah bangun dari sarangnya yang nyaman, Sisi terpantau kembali menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan. Kali ini dengan variasi pakan yang beragam, mulai dari buah sangkuang, buah ara, daun liana, mahawai, meranti, kulit kayu pilang, hingga pucuk daun bambu.
Aktivitas yang tetap didominasi di kanopi menunjukkan kondisi fisik yang prima dan kemampuan jelajah yang baik. Sijalu masih berada dalam fase yang sama: menyusu, digendong, dan hanya sesekali menunjukkan gerakan mandiri.
Sedikit perubahan mulai terlihat pada hari selanjutnya. Selain menyusu, Sijalu mulai meniru induknya dengan mencoba beberapa jenis pakan seperti buah saluoi, sangkuang, dan lisum. Meski masih sering kembali ke pelukan Sisi, momen-momen kecil ini menjadi awal proses pengenalan pakan alami untuk orangutan muda di alam liar.
Selama tiga hari pengamatan, keduanya terlihat aktif, sehat, dan tidak menunjukkan tanda gangguan fisik. Sarang malam terakhir berada di pohon bajun dengan ketinggian lebih dari 20 m. Posisi ini merupaka yang ideal untuk perlindungan orangutan dari ancaman predator.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Kisah Sisi dan Sijalu bukan sekadar catatan observasi. Ia memberikan gambaran nyata tentang bagaimana induk orangutan membesarkan anaknya di alam liar. Selain itu, temuan ini juga menegaskan bahwa kawasan riparian Sungai Joloi merupakan habitat penting bagi orangutan, terutama bagi induk dengan anak usia dini seperti Sisi dan Sijalu. Ketersediaan pakan, keamanan, dan struktur vegetasi yang mendukung menjadikan area ini sebagai ruang hidup yang ideal untuk kantong-kantong populasi orangutan baru.
Di balik perjalanan yang awalnya hanya untuk mencari satu individu, tim justru mendapatkan potret kehidupan yang lebih besar: tentang kasih sayang induk, proses belajar seorang bayi orangutan, dan pentingnya menjaga hutan sebagai rumah yang aman bagi mereka.