PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Sukacita besar menyelimuti Nyaru Menteng di penghujung tahun 2012 ini. Setelah kabar kelahiran bayi mungil Astrid, orangutan betina yang dilepasliarkan di Hutan Lindung Bukit Batikap Februari lalu, kini Nyaru Menteng memindahkan 26 orangutan ke pulau pra-pelepasliaran.
Pulau Pra-Pelepasliaran
Pulau pra-pelepasliaran adalah hutan singgah, di mana para ‘lulusan’ Sekolah Hutan menjalani tahap akhir dari proses rehabilitasi. Bagai ‘universitas’, di pulau inilah orangutan akan belajar hidup lebih mandiri. Di sana mereka akan hidup layaknya di alam bebas dan tak lagi harus pulang ke kandang tiap senja tiba. Tujuannya tak lain adalah adalah melatih mereka untuk benar-benar hidup di hutan, hingga mereka siap untuk dilepasliarkan kelak. Nyaru Menteng sendiri memiliki 4 pulau pra-pelepasliaran, yaitu Pulau Kaja, Pulau Bangamat, Pulau Hampapak dan Pulau Palas.
Di pulau ini mereka harus mempraktekkan semua keterampilan bertahan hidup seperti yang sudah mereka pelajari di Sekolah Hutan, mulai dari mencari pakan sendiri hingga membangun sarang. Yang dulunya di Sekolah Hutan mereka bisa menikmati 5 kali jatah makan, kini suplemen makanan hanya diberikan 2 kali sehari. Kemampuan mereka bertahan hidup di pulau pra-pelepasliaran akan menentukan apakah mereka sudah siap dilepasliarkan di hutan yang sesungguhnya atau belum.
26 Orangutan Masuk Universitas!
Karena tahun ini Nyaru Menteng telah melepasliarkan 44 orangutan, Pulau Bangamat kini siap menampung orangutan-orangutan baru. Sejak Kamis (20/12), Tim Nyaru Menteng memulai kegiatan pra-rilis tersebut, dengan memindahkan 26 orangutan yang telah memenuhi kualifikasi dari pusat rehabilitasi ke Pulau Bangamat!
Pada hari Kamis, 9 orangutan berhasil dipindahkan. Mereka adalah Tara, Ijum, Benjol, Ratu, Damar, Suta, Maha, Olbert dan Wisnu. Mereka kelihatan senang dengan tempat baru mereka, karena begitu sampai di pulau, mereka langsung bergegas naik ke atas pohon!
Sedangkan Jumat (21/12), sejak pagi, Tim NyaruMenteng kembali memindahkan 10 orangutan lagi ke Pulau Bangamat. Mereka antara lain Nambima, Gina, Kevin, Jatihan, Ibut, Tamua, Sigi, Clauss, Mardianto dan Wombat. Sisanya, 7 orangutan yang terdiri dari Tweety, Zakia, Doren, Gultop, Martisen, Madsen dan Lomon baru dipindahkan pada Senin (24/12).
Sebelum dipindahkan ke pulau, Tim Dokter Hewan Nyaru Menteng memberikan obat bius dan melakukan pengecekan terhadap chip pada masing-masing orangutan untuk melakukan identifikasi. Selain itu, semua orangutan betina juga di-implan dengan kontrasepsi/ birth control.
Setelah semua orangutan masuk ke kandang transport, mereka pun diangkut dengan truk menuju dermaga kecil di tepi Sungai Rungan. Dari situlah kandang transportasi diangkut dengan kelotok, menuju Pulau Bangamat, satu dari beberapa pulau di delta Sungai Rungan.
Tiba di Pulau, para orangutan terlihat sangat menikmati rumah barunya. Tamua dan Mardianto terlihat begitu bersemangat bergelantungan di pohon. Ada juga yang kemudian kembali turun ke plafon hanya sekedar untuk duduk-duduk. Seperti Ijum, dia duduk di plafon menunggu kandang Maha dibuka. Sedangkan Clauss, begitu kandangnya dibuka, langsung bergabung dengan Jatihan yang sudah lebih dulu berlari jauh ke dalam hutan.
Demikian juga proses pemindahan 7 orangutan terakhir berlangsung sama dengan pemindahan 19 orangutan sebelumnya. Setelah disedasi, pengecekan chip dan pemasangan birth control bagi orangutan betina, Tweety, Zakia, Doren, Gultop, Martisen, Madsen dan Lomon diberangkatkan menuju Pulau Bangamat.
Kali ini Doren menjadi yang pertama dilepaskan. Sedangkan Lomon, begitu kandangnya dibuka dan bertemu Doren sejenak, langsung memanjat ke atas pohon. Lomon adalah salah satu orangutan di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, yang berkat dukungan para adopter kini telah tumbuh mandiri dan masuk tahap ‘universitas’ di pulau.
Semua tampak riang menikmati suasana ‘rumah baru’, kecuali Madsen yang kelihatan masih pusing akibat sedasi dan hanya duduk-duduk di sekitar kandang transportasi. Sangat berbeda dengan Tweety si usil. Usai mengganggu Gultop, dia makan dengan lahap di atas plafon. Gultop yang kelihatan sebal akhirnya naik ke atas pohon menjauhi Tweety. Kehidupan pulau yang menyenangkan telah dimulai!
Akhirnya Tim Nyaru Menteng telah berhasil memindahkan 26 orangutan ke pulau pra-pelepasliaran. Di penghujung tahun, 26 orangutan ini akan menempuh kehidupan baru mereka di pulau untuk menyiapkan kehidupan mereka yang sejati kelak. Tentu saja ini menjadi hadiah akhir tahun dan harapan yang luar biasa bagi tahun baru. Mari kita ucapkan selamat bagi mereka yang telah menempuh langkah baru dan menempati rumah baru!