Apakah kamu member?

MISTERI SAAT SURVEI FENOLOGI!

Salah satu tugas tim Post Release Monitoring (PRM) adalah mengumpulkan data fenologi tumbuhan makanan alami orangutan di habitat alaminya. Saat melakukan survei fenologi, tim PRM kami juga terkadang berkumpa dengan orangutan. Mari kita simak kisah saat tim kami bertemu orangutan saat survey fenologi belum lama ini! 

Bulan Februari lalu, tim PRM kami dari Kamp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, melakukan survei fenologi di satu wilayah khusus yang jaraknya sekitar dua jam berjalan kaki dari kamp. Kami melakukan survei fenologi di wilayah-wilayah yang biasa menjadi kantung sumber makanan alami orangutan. Saat menyusuri jalur utama, kami menemukan bekas pakan orangutan berupa umbut suli atau Etlingera sp. 

Saat tiba di lokasi survei, tim kami segera berpencar menjadi dua. Tim pertama bergeser ke daerah yang kami sebut Fenologi 2, sementara tim kedua di Fenologi 4. Setelah selama sejam melakukan survei, tim kedua mendengar suara gemeresak dahan. Awalnya, tim kami menduga itu monyet ataupun owa. Tak lama kemudian, muncul satu individu orangutan. Tak nampak takut, ia justru datang mendekat. Dari ketinggian, ia turun dahan demi dahan, sementara tim kami menanti dengan waspada, bersiap mengidentifikasinya. 

Setelah lebih dekat, tim kami melihat bahwa orangutan itu betina bertubuh cukup besar, namun wajahnya tidak bisa dikenali. Ia tampak sehat dan berambut lebat. Ia terus-menerus mengeluarkan kissqueak, menandakan ia tidak menyambut keberadaan tim kami. Saat ia duduk di sebatang dahan menanti tim kami pergi, tim segera memotret wajah orangutan tersebut sejelas mungkin yang menampakkan beberapa sudut yang berbeda, untuk kebutuhan identifikasi di kamp lebih lanjut.


Tim kembali melanjutkan survei fenologi seperti rencana semula, namun orangutan tersebut masih saja membayangi tim. Saat kondisi medan berupa turunan dirasakan menyulitkan, tim memutuskan untuk menjauh ke arah tepi sungai. Setibanya di sana, tim menyadari bahwa ia masih saja mengikuti. Tampaknya orangutan itu bertekad memastikan bahwa manusia tidak menguasai daerah jelajahnya di hutan. 

Saat itu, tim sebenarnya belum selesai melakukan survei. Setelah menanti sejenak tanpa hasil, akhirnya tim kami memutuskan untuk menakut-nakuti orangutan tersebut dengan suara-suara dan memukul-mukul batang pohon tempat ia menunggu. Upaya itu berhasil, karena ia akhirnya menjauh, berpindah ke pohon yang lebih tinggi. Di sana, ia tak lagi dapat menghalangi proses survei kami. 

Setelah tim kami menuntaskan survei, tim bergegas pulang ke kamp untuk segera mengidentifikasi orangutan misterius tersebut. Akhirnya kami mengetahui bahwa ia adalah Erina, betina yang dilepasliarkan di tahun 2018 lalu. Berdasarkan catatan dokter hewan kami, Erina sebenarnya sangat suka bermain. 

Senangnya kami bertemu Erina kembali setelah terakhir berjumpa pada September tahun lalu!




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup