PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Mengidentifikasi orangutan dengan benar selama pengamatan merupakan tantangan tersendiri! Apalagi jika tim Post-Release Monitoring (PRM) kami mengamati orangutan yang sudah lama tidak terlihat, atau saat tim yang bertugas tidak mengenal orangutan yang mereka amati.
Suatu hari, di akhir Januari, tim PRM kami dari Kamp Nles Mamse di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, berangkat untuk melakukan patroli rutin. Hari ini tim PRM yang bertugas adalah Rahmi, Rustam, dan Junus, ketiganya adalah staf PRM baru yang pengalamannya dalam melakukan patroli orangutan masih kurang dibanding anggota tim PRM lainnya.
Tim berjalan menuju titik yang dikenal sebagai Puncak Palem (Palm Peak), dan berhasil menemukan orangutan betina dengan bayi orangutan di belakangnya! Mereka menebak bahwa orangutan itu adalah Signe, orangutan betina yang kami lepasliarkan pada Desember 2016 lalu, bersama bayinya.
Tim sempat ragu, karena karakteristik fisik orangutan ini tidak sesuai dengan Signe. Tim pun tidak dapat menangkap sinyal telemetri untuk orangutan ini, karena kemungkinan besar baterai telemetrinya telah habis.
Satu-satunya cara tim kami mengidentifikasi bahwa orangutan ini Signe adalah keberadaan bayi yang bersamanya, sebab Signe merupakan satu-satunya orangutan dengan bayi yang terpantau oleh tim PRM kami di daerah tersebut.
Tidak ingin membuang waktu yang berharga, tim PRM kami pun segera mengamati orangutan yang mereka tebak sebagai Signe dan bayinya, serta mencatat data observasinya. Setelah itu mereka pun kembali ke Kamp. Ketika tiba di Kamp, mereka segera mencari informasi yang bisa memperkuat dugaan mereka dengan melihat foto-foto Signe yang pernah mereka ambil selama pengamatan. Mereka pun menjadi bingung karena foto-foto Signe sebelumnya menunjukkan orangutan betina dengan tulang panggul yang menonjol, rambut yang jarang dan perut yang besar. Karakteristik fisiknya sangat berbeda dengan orangutan betina yang mereka lihat hari ini. Tim semakin yakin bahwa orangutan yang teramati hari ini bukan Signe.
Untuk lebih memastikan identitas dan kondisi kesehatan orangutan tersebut, dokter hewan kami pun bergegas berangkat dari Kamp Lesik menuju ke Kamp Nles Mamse. Akhirnya, salah seorang tim PRM kami yang senior berhasil mengidentifikasi orangutan tersebut sebagai Ajeng, orangutan betina yang kami lepasliarkan pada tahun 2015. Hal ini diperkuat dengan konfirmasi dari dokter hewan bahwa karakteristik fisik orangutan ini sangat mirip dengan Ajeng.
Penemuan Ajeng dengan bayinya merupakan berita yang menggembirakan tim kami! Sayangnya, jenis kelamin bayinya tidak dapat kami identifikasi.
Ajeng dan bayinya tidak terpantau lagi sejak terakhir ditemukan oleh tim PRM kami. Dokter hewan dan tim PRM masih berusaha untuk melacak keberadaan keduanya agar dapat memantau kesehatan mereka dan mengidentifikasi jenis kelamin anaknya. Kita berharap Ajeng dan anaknya tetap sehat dan selamat!