PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Memantau ratusan orangutan di hutan yang luas, tentu membuat Tim Post Release Monitoring (PRM) kami tidak bisa secara teratur bertemu individu tertentu. Dan ketika kami bertemu dengan orangutan yang telah lama tidak teramati, mereka kerap berubah sampai sulit kami kenali.
Hal itu yang terjadi saat kami bertemu dengan Ewa, betina yang dilepasliarkan lima tahun lalu di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Tengah. Kami cukup terkejut melihat penampilannya kini sebagai orangutan dewasa, saat tanpa diduga, ia muncul di dekat Pondok Monitoring Lewun Kahio. Kami sempat agak lama sebelum bisa mengenalinya, namun ia pergi secepat kilat sebelum kami sempat melakukan pengamatan. Kami memutuskan untuk mencarinya di keesokan hari.
Esok paginya, kami berangkat pagi dan setelah mencari di beberapa transek, menemukan Ewa di Transek U 25 m. Selama pengamatan, ia terlihat aktif dan pandai mencari makan. Ia makan antara lain, buah lunuk atau ara, umbut diwung atau pandan, umbut rotan, kambium pilang atau marang, beberapa jenis daun, rayap, dan anggrek.
Ewa kami lepasliarkan bersama induknya, Awa, sebagai rombongan pertama orangutan hasil rehabilitasi dari Nyaru Menteng yang dilepasliarkan di TNBBBR di bulan Agustus 2016. Pada saat itu, Ewa masih berusia 8 tahun dan cukup dekat dengan induknya. Kini, ia bertubuh semakin besar, bulunya semakin panjang dengan warna coklat kemerahan, dan tampak sepenuhnya mandiri. Kemandirian dan perilaku tenang Ewa sangat berbeda dengan saat ia pertama kali dilepasliarkan.
Kami mengamati Ewa sampai menjelang petang, saat ia mulai membangun sarang. Inilah saat bagi kami untuk kembali pulang ke pondok monitoring dan berbagi laporan dengan seluruh tim.
Selamat istirahat Ewa, sampai bertemu lagi!