PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Pulau pra-pelepasliaran merupakan sebuah hutan singgah di mana orangutan ‘lulusan’ Sekolah Hutan menjalani tahap akhir proses rehabilitasi. Di pulau ini para orangutan akan menjalani hidup yang lebih mandiri untuk mempersiapkan mereka menjadi orangutan liar sejati dan tinggal di hutan yang sesungguhnya.
Di pulau pra-pelepasliaran, para orangutan akan merasakan kebebasan seperti layaknya orangutan liar. Mereka tak lagi harus pulang ke kandang begitu senja tiba, melainkan bebas membuat sarang dan tinggal di pepohonan. Di tahap ini interaksi orangutan dengan manusia akan dikurangi. Teknisi hanya akan memberi suplemen makanan 2 kali sehari saja –berbeda dengan di Sekolah Hutan yang mendapat 5 kali jatah makan. Selebihnya orangutan harus mencari dan memilih pakan alami mereka secara mandiri.
Inilah mengapa keterampilan bertahan hidup di hutan menjadi salah satu kriteria penting yang menentukan berhak tidaknya orangutan ‘naik tingkat’ ke pulau pra-pelepasliaran. Di samping keterampilan, masih ada sederet kriteria penting lain yang harus dipenuhi seperti kesehatan, interaksi sosial, perilaku dan lain-lain.
Hercules yang Gagah
Hercules adalah salah satu orangutan yang mendapat kesempatan tinggal di pulau pra-pelepasliaran. Hercules adalah orangutan jantan dewasa berusia 23 tahun dengan berat badan 95 kg. Dia memiliki cheekpad yang besar dan wajah yang tampan. Jenggot dan rambut merah kecoklatannya yang lebat membuatnya tampak gagah. Hercules muda disita oleh BKSDA dari seorang warga yang memeliharanya di Jakarta. Saat pertama kali tiba di Nyaru Menteng pada 28 September 2002, usianya masih 12 tahun.
Sayang sekali Hercules memiliki masalah penglihatan. Mata kanannya mengalami kebutaan permanen. Demi kesejahteraan satwa, kesehatan menjadi salah satu syarat penting bagi orangutan untuk dapat tinggal di pulau pra-pelepasliaran. Karena kekurangan fisiknya itu Hercules terpaksa tinggal cukup lama di kandang klinik Nyaru Menteng dan tidak bisa bergabung bersama teman-temannya di pulau.
Sebuah Kesempatan untuk Hercules
Rabu (26/6), Hercules dengan kekurangan fisiknya, akhirnya mendapat kesempatan keluar dari kandang dan ikut menikmati kehidupan bebas di pulau bersama teman-temannya. Dia dipindahkan dari kandang klinik Nyaru Menteng ke Pulau Kaja, sebuah pulau pra-pelepasliaran yang dikelola oleh Yayasan BOS - Nyaru Menteng.
Dari Nyaru Menteng, Hercules berangkat menuju Sei Gohong dengan kandang transportasi besar setelah sebelumnya disedasi dan dicek kondisinya. Dari pelabuhan Sei Gohong kandang transportasi Hercules diangkut dengan perahu motor menuju Pulau Kaja.
Kandang Hercules dibuka di bibir pulau Kaja. Begitu pintu kandang dibuka, orangutan jantan bertubuh besar ini tidak langsung keluar dari kandang. Mungkin dia masih dalam pengaruh sedasi dan menyesuaikan penglihatannya. Dia tampak bingung melihat pemandangan terbuka di depan matanya tanpa jeruji besi kandang yang menghalangi.
Melihat hal itu tak lama kemudian Hercules keluar dari kandang transportasinya. Dia duduk di atas pasir dan sejenak mengamati situasi pulau. Dia menggerakkan kepalanya ke kiri, ke kanan dan ke belakang, serta tangan dan kakinya seolah-olah sedang melemaskan otot-otonya setelah cukup lama tinggal di kandang. Setelah melakukan ‘pemanasan’ Hercules dengan percaya diri berjalan memasuki areal pepohonan di Pulau Kaja. Tak pernah dia merasa seleluasa ini sebelumnya selama tinggal di kandangnya.
Demi Kebahagiaan Hercules
Perdebatan panjang bertahun-tahun mewarnai internal Yayasan BOS sebelum akhirnya dengan sangat berhati-hati diambil keputusan untuk memindahkan Hercules ke pulau. Tim medis, manajemen, para ahli primatologi, scientific board, dan juga para pemerhati orangutan terbagi dalam pro dan kontra untuk menempatkan Hercules di pulau.
Ada pihak yang tidak setuju pemindahan Hercules ke pulau karena pertimbangan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraannya, namun ada juga pihak yang setuju pemindahan Hercules ke pulau. Pihak ini berpendapat bahwa orangutan jantan dewasa seperti Hercules akan lebih bahagia hidup di habitat alaminya meskipun harus menghadapi berbagai resiko dan tantangan. Melalui diskusi panjang dan berbagai perdebatan, akhirnya suara mayoritas sepakat untuk membiarkan Hercules mengenyam kebebasannya di alam, dengan tetap di bawah pengawasan Tim Nyaru Menteng tentunya.
Harapan untuk Hercules dan Teman-Temannya
Tidak sedikit orangutan di pusat rehabilitasi memiliki kekurangan karena berbagai akibat, baik itu kecelakaan atau sakit alami, hingga akibat penganiayaan. Demi kelangsungan hidup mereka, orangutan dengan kondisi seperti ini terpaksa tinggal di pusat rehabilitasi dalam waktu yang lama hingga kondisinya membaik. Mereka bahkan bisa tinggal di kandang sepanjang hidup mereka jika kondisinya benar-benar tidak memungkinkan untuk hidup di alam. Mereka tidak mungkin dilepaskan dan hidup bersama para orangutan lain yang sehat karena kemungkinan kompetisi antar-orangutan berpotensi membahayakan hidup mereka.
Namun, sangat prihatin melihat para orangutan yang memiliki kekurangan fisik tidak mendapatkan kesempatan tinggal di alam terbuka. Bagaimanapun, habitat alami orangutan adalah tempat terbaik bagi mereka, bukan di kandang. Idealnya orangutan dengan kondisi seperti ini dilepaskan di kawasan khusus yang layak dan aman, baik dari ancaman orangutan lain maupun manusia. Dalam kasus Hercules, pertimbangan lain untuk melepaskannya di pulau adalah, meski memiliki kekurangan fisik, Hercules merupakan orangutan jantan bertubuh paling besar yang kini tinggal di Pulau Kaja. Meski pulau ini dihuni oleh orangutan lain, tidak ada orangutan lain yang berani mengganggu Hercules.
Tim Medis dan teknisi Nyaru Menteng berkomitmen memantau kondisi orangutan dengan kekurangan fisik seperti Hercules secara intensif selama mereka hidup di alam terbuka. Di tengah tantangan dalam sulitnya mencari hutan atau tempat yang layak sebagai habitat orangutan, harapan yang lebih besar lagi adalah terwujudnya kawasan khusus yang layak dan aman bagi orangutan yang memiliki kekurangan fisik. Ini akan memberikan harapan bagi Hercules dan teman-temannya yang bernasib sama untuk dapat menikmati hidup di alam terbuka sebagai orangutan sejati.