Anhinga melanogaster atau burung pecuk ular asia dapat ditemukan di berbagai penjuru benua ini, seperti halnya di Pulau Juq Kehje Swen, Kalimantan Timur. Terletak sekitar 10 kilometer dari hutan Kehje Sewen, Juq Kehje Swen adalah pulau berhutan seluas 82,84 hektar hasil kerja sama antara BOS Foundation dan PT. Nusaraya Agro Sawit (NUSA). Pulau ini dimanfaatkan untuk menampung orangutan yang tengah menjalani tahap pra-pelepasliaran.
Seperti namanya, burung pecuk ular memiliki leher ramping dan panjang, yang muncul di permukaan air saat mereka berenang, menyerupai ular. Burung ini memakan ikan sebagai makanan utama dengan beberapa jenis katak atau kadal air sebagai tambahan. Oleh karenanya, tak heran jika tim monitoring kami telah beberapa kali menemukan burung ini di hutan Juq Kehje Swen, karena pulau ini dikelilingi sungai sebagai sumber pakannya.
Sebagai burung pemakan ikan, pecuk ular telah beradaptasi untuk bisa berburu di air dengan baik, seperti kakinya yang berselaput. Juga lekukan khas di lehernya, membantu pecuk ular dalam melontarkan kepala untuk mematuk mangsa. Pecuk ular mengandalakn hal ini untuk menangkap ikan. Kemampuan inilah yang membuatnya disebut “darter” dalam Bahasa Inggris.
Tidak seperti unggas air lainnya seperti itik atau angsa, bulu pecuk ular tidak tahan air. Namun ini memudahkan mereka untuk menyelam, tapi juga harus sering kali berjemur di bawah sinar matahari untuk mengeringkan bulunya. Inilah biasanya kesempatan kami menemukan burung ini sedang berjemur di atas pohon tengah hari, dengan sayap terentang lebar.
Lambaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengategorikan burung lahan basah ini sebagai Nyaris Punah. Penyebab utama hal ini adalah karena konversi lahan-lahan hutan menjadi lahan lainnya, kerusakan daerah perairan, serta perburuan dan pencurian telur.
Kami berharap dengan ditemukannya burung pecuk ular di kawasan Juq Kehje Swen, kami bisa membantu menjaga kelestariannya.