Apakah kamu member?

MEMANTAU ORANGUTAN SETELAH KEMBALI KE HUTAN

Pelepasliaran sering kali dianggap sebagai akhir dari perjalanan rehabilitasi orangutan. Setelah bertahun-tahun menjalani perawatan dan pembelajaran di pusat rehabilitasi seperti Nyaru Menteng dan Samboja Lestari, belajar memanjat, mencari pakan, serta hidup mandiri melalui sekolah hutan dan pulau pra-pelepasliaran, orangutan akhirnya siap kembali ke habitat alaminya.

Namun, bagi tim konservasi, pelepasliaran justru menjadi awal dari salah satu tahap yang paling penting. Orangutan yang telah dilepasliarkan tidak serta-merta dibiarkan hidup sendiri tanpa pemantauan. Tim harus memastikan bahwa mereka mampu beradaptasi dan bertahan hidup di alam liar.

Di tengah hutan Kalimantan Tengah, tim Post-Release Monitoring (PRM) bekerja setiap hari untuk memantau orangutan hasil pelepasliaran. Tidak ada akhir pekan dalam pekerjaan ini. Hutan tidak mengenal hari libur, begitu pula tanggung jawab untuk memastikan orangutan yang telah mendapatkan kesempatan kedua dapat hidup dengan baik di habitat alaminya.

Tim PRM BOS Foundation di Kalimantan Tengah melakukan pemantauan dari sejumlah camp yang tersebar di berbagai lokasi pelepasliaran, mulai dari Hutan Lindung Bukit Batikap hingga kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Dari camp-camp sederhana di tengah hutan inilah perjalanan pemantauan dimulai, sering kali bahkan sebelum matahari terbit.

Mencari Sinyal di Tengah Hutan

Setiap orangutan yang dilepasliarkan membawa pemancar yang mengirimkan sinyal radio. Sinyal tersebut menjadi petunjuk awal bagi tim untuk mengetahui keberadaan mereka.

Dua anggota tim PRM berjalan menyusuri jalur transek. Salah satu anggota membawa GPS, antena, dan alat penerima sinyal. Setiap beberapa ratus meter, mereka berhenti sejenak untuk mendengarkan suara khas yang berasal dari pemancar.

Ketika suara "tek-tek" mulai terdengar, suasana pun berubah. Sinyal tersebut menandakan bahwa orangutan berada tidak jauh dari lokasi tim.

Namun, menemukan orangutan tidak sesederhana melihat titik koordinat di layar. Tim harus mengandalkan berbagai petunjuk di lapangan, mulai dari mengamati kanopi hutan, mencari sarang lama, mengenali aroma tertentu, hingga mendengarkan suara pergerakan di antara pepohonan.

Dan ketika orangutan akhirnya berhasil ditemukan, pekerjaan utama pun dimulai.

Mengikuti Aktivitas Orangutan Sepanjang Hari

Setelah orangutan ditemukan, fokus tim beralih dari pencarian menjadi pengamatan. Antena disimpan, peralatan pelacak tidak lagi digunakan, dan perhatian sepenuhnya diarahkan pada individu yang sedang diamati.

Sejak pertama kali ditemukan hingga orangutan membangun sarang malam, setiap perilaku dicatat secara rinci. Tim mencatat jenis pakan yang dikonsumsi, pola pergerakan, waktu beristirahat, aktivitas bermain, hingga interaksi dengan individu lain.

Bahkan detail-detail kecil, seperti jenis buah yang dipilih atau cara mengonsumsinya, menjadi informasi penting bagi kegiatan penelitian dan pemantauan.

Pengamatan berlangsung mengikuti aktivitas alami orangutan. Ada kalanya mereka berpindah sambil mencari makan di kanopi hutan, tetapi ada juga yang menghabiskan waktu berjam-jam di satu pohon yang sama.

Pada beberapa kesempatan, orangutan semi-liar menunjukkan ketidaknyamanan terhadap kehadiran manusia melalui suara khas yang dikenal sebagai kiss squeak.

Ketika tim menemukan induk bersama anaknya, tugas pengamatan biasanya dibagi. Satu orang mengamati induk, sementara yang lain memantau perkembangan serta perilaku anak orangutan. Pengamatan ini membantu tim memahami bagaimana keterampilan bertahan hidup diwariskan dari induk kepada anak di alam liar.

Hari kerja baru berakhir ketika orangutan mulai membangun sarang malam dan beristirahat. Tim kemudian mencatat koordinat GPS, jenis pohon yang digunakan untuk bersarang, lalu meninggalkan lokasi secara perlahan agar aktivitas orangutan tidak terganggu.

Membaca Kondisi Hutan

Pemantauan tidak hanya berfokus pada orangutan, tetapi juga pada kondisi habitat tempat mereka hidup.

Setiap bulan, tim melakukan pemantauan fenologi untuk mengetahui ketersediaan pakan alami di dalam hutan. Berbagai pohon yang berada di sepanjang jalur pengamatan diperiksa untuk melihat keberadaan daun muda, bakal bunga, bunga, maupun buah yang sedang berkembang.

Data tersebut membantu tim menjawab pertanyaan penting: apakah hutan mampu menyediakan sumber pakan yang cukup sepanjang tahun?

Kondisi hutan yang sehat merupakan salah satu faktor utama yang mendukung keberhasilan pelepasliaran orangutan.

Selain itu, survei sarang juga dilakukan secara berkala untuk memahami kepadatan populasi dan pola sebaran orangutan di dalam kawasan.

Setiap sarang yang ditemukan memberikan informasi mengenai pola pergerakan, penggunaan habitat, serta wilayah yang sering dimanfaatkan oleh orangutan.

Bahkan bentuk dan kondisi sarang dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas orangutan yang berlangsung pada malam hari, meskipun jarang disaksikan secara langsung oleh manusia.

 


Mata Tambahan di Dalam Hutan

Tidak semua orangutan mudah ditemukan. Beberapa individu bergerak jauh dari jalur pemantauan atau memilih area yang jarang dijangkau manusia.

Untuk mendukung kegiatan pemantauan, tim memasang kamera jebak di sejumlah lokasi strategis.

Kamera-kamera ini merekam aktivitas satwa secara otomatis dan sering kali menangkap momen yang tidak teramati secara langsung oleh tim di lapangan.

Terkadang, kamera jebak berhasil merekam keberadaan orangutan yang sudah lama tidak terpantau. Temuan tersebut menjadi petunjuk penting bagi tim untuk menentukan rencana pemantauan berikutnya.

Selain orangutan, kamera jebak juga merekam berbagai jenis satwa liar lainnya, yang menunjukkan bahwa ekosistem tempat pelepasliaran tetap aktif dan berfungsi dengan baik.

Dari Hutan Menjadi Data, Dari Data untuk Masa Depan

Pekerjaan tidak berhenti ketika tim kembali ke camp. Seluruh catatan lapangan kemudian diolah dan dimasukkan ke dalam basis data penelitian.

Setiap perilaku yang tercatat, pohon pakan yang digunakan, hingga lokasi sarang berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik mengenai keberhasilan rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan.

Melalui data tersebut, tim dapat mengetahui apakah orangutan mampu bertahan hidup secara mandiri, menemukan pakan yang cukup, membangun sarang yang layak, dan pada akhirnya berkembang biak di alam liar.

Karena tujuan pelepasliaran bukan hanya mengembalikan orangutan ke hutan, tetapi juga memastikan bahwa mereka benar-benar dapat menjalani kehidupannya kembali di alam.

Di balik setiap orangutan yang hidup bebas di antara kanopi hutan, terdapat dedikasi tim yang terus berjalan menyusuri jalur-jalur pemantauan setiap hari. Mereka mencari sinyal, mengumpulkan data, dan memastikan bahwa harapan bagi masa depan orangutan tetap terjaga di alam liar.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup