Apakah kamu member?

ANCAMAN EL NINO 2026 BAGI KONSERVASI ORANGUTAN

Potensi El Niño kuat yang diperkirakan terjadi pada 2026 menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak, termasuk organisasi konservasi. Bagi BOS Foundation, ancaman ini bukan sekadar persoalan musim kemarau yang lebih panjang, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan yang mengancam habitat orangutan serta mengganggu upaya rehabilitasi, pelepasliaran, dan perlindungan kawasan hutan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi peningkatan risiko kekeringan apabila El Niño berkembang pada 2026. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan, khususnya di ekosistem gambut di Sumatra dan Kalimantan.

Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, secara historis telah berkontribusi terhadap penurunan curah hujan di Indonesia. Dampaknya tidak hanya berupa musim kemarau yang lebih panjang, tetapi juga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, sebagaimana terjadi pada peristiwa kebakaran hutan di Indonesia pada 2015.

Pembelajaran Kunci dari El Niño 2015–2016

Pengalaman menghadapi kebakaran hebat pada 2015–2016 menjadi pelajaran penting bagi BOS Foundation dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman iklim ekstrem.

Kebakaran yang diperparah oleh El Niño menghancurkan 266 hektare area reforestasi di Samboja Lestari serta merusak sekitar 15.442 hektare habitat alami orangutan di bentang alam Mawas. Dalam skala nasional, lebih dari dua juta hektar hutan dan lahan terdampak. Dampaknya tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga mengganggu kesehatan masyarakat, operasional konservasi, serta stabilitas ekosistem secara keseluruhan.

Di tingkat operasional, BOS Foundation menghadapi kualitas udara berbahaya selama lebih dari dua bulan di Kalimantan Tengah, yang memaksa penutupan Sekolah Hutan di Nyaru Menteng. Ancaman kebakaran bahkan sempat mendekati fasilitas rehabilitasi sebelum berhasil dikendalikan oleh tim gabungan di lapangan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya berhenti pada hilangnya hutan, tetapi juga memengaruhi seluruh proses rehabilitasi dan konservasi orangutan.

Lonjakan jumlah orangutan yang diselamatkan menjadi indikator nyata besarnya tekanan terhadap populasi liar. Selama periode tersebut, puluhan orangutan berhasil diselamatkan dari habitat yang rusak atau terbakar, termasuk 76 individu dari kawasan Mangkutub. Ini merupakan salah satu operasi penyelamatan orangutan terbesar yang pernah dilakukan oleh BOS Foundation. Pada 2016 saja, BOS Foundation menerima 98 orangutan baru yang membutuhkan penyelamatan dan rehabilitasi.

Namun, translokasi sebagai respons darurat bukanlah solusi tanpa risiko. Pemindahan individu ke habitat baru harus mempertimbangkan daya dukung kawasan, potensi kompetisi, kemampuan adaptasi, serta peluang keberhasilan jangka panjang. Karena itu, setiap keputusan translokasi selalu didasarkan pada kajian teknis dan evaluasi yang menyeluruh.

Pengalaman tersebut juga mendorong perubahan pendekatan BOS Foundation dalam menghadapi kebakaran. Berbeda dengan yang sebelumnya berfokus pada respons darurat, organisasi ini mulai membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih komprehensif melalui peningkatan kapasitas tim pemadam, penyediaan peralatan, serta perencanaan mitigasi berbasis lanskap dan masyarakat.

Upaya pemulihan pascakebakaran juga menunjukkan bahwa membangun kembali ekosistem membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkan. Bersama berbagai mitra, BOS Foundation melakukan penanaman kembali di kawasan yang terdampak di Samboja Lestari dan Mawas sebagai bagian dari komitmen jangka panjang untuk memulihkan habitat orangutan.

Pengalaman tersebut menjadi landasan bagi BOS Foundation dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan di masa mendatang.

"Pengalaman kami pada 2015 menunjukkan bahwa ketika kebakaran besar terjadi, dampaknya dirasakan di seluruh aspek konservasi, mulai dari hilangnya habitat, meningkatnya jumlah orangutan yang harus diselamatkan, hingga terganggunya operasional rehabilitasi. Pengalaman itu mengajarkan kami bahwa kesiapsiagaan tidak bisa dibangun saat krisis sudah terjadi. Karena itu, kami terus meningkatkan upaya pencegahan, deteksi dini, kapasitas pemadaman, serta bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra agar risiko yang mungkin muncul akibat El Niño dapat diminimalkan," ujar CEO BOS Foundation, Dr. Ir. Jamartin Sihite.

Baca juga:


Kesiapsiagaan Menghadapi Risiko 2026

Menghadapi potensi El Niño yang kuat pada 2026, BOS Foundation terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui pendekatan yang mencakup pemantauan, kesiapan infrastruktur, penguatan kapasitas masyarakat, serta koordinasi lintas lembaga.

Di berbagai wilayah kerja, BOS Foundation melakukan patroli rutin, pemantauan hotspot harian berbasis satelit, pengawasan dari menara pemantauan, serta penggunaan drone di sejumlah lokasi yang rawan. Pemantauan memanfaatkan berbagai sumber data, termasuk NASA FIRMS, SIPONGI, dan GWIS, sehingga potensi kebakaran dapat diidentifikasi lebih dini dan ditindaklanjuti dengan cepat.

Selain itu, kesiapan infrastruktur pendukung terus diperkuat melalui pemeriksaan berkala terhadap sumur bor, embung, kanal, pompa air, serta akses menuju sumber air yang menjadi elemen penting dalam upaya pemadaman. Di beberapa lokasi, peningkatan aksesibilitas masih terus dilakukan agar mobilisasi personel dan peralatan dapat berlangsung lebih efektif saat terjadi kondisi darurat.

Kapasitas masyarakat juga menjadi bagian penting dari strategi mitigasi. BOS Foundation mendukung pelatihan dan penyegaran tim pemadam berbasis masyarakat, mendistribusikan peralatan pemadaman ke desa-desa dampingan, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Sebagai bagian dari peningkatan sistem kesiapsiagaan, BOS Foundation juga tengah mengembangkan satuan tugas kesiapsiagaan kebakaran lintas site dan regional di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Sistem ini dirancang untuk mempercepat koordinasi, memperjelas mekanisme eskalasi, memperkuat pemantauan hotspot, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data selama periode berisiko tinggi.

Di sisi lain, pengembangan teknologi deteksi dini juga terus didorong melalui rencana pemasangan sistem deteksi kebakaran di beberapa lokasi kerja sama dengan berbagai mitra, sehingga potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.

Dampak terhadap Konservasi Orangutan

Bagi upaya konservasi orangutan, ancaman El Niño tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan. Kekeringan dan kebakaran dapat menghancurkan sumber pakan, merusak habitat, memaksa orangutan berpindah ke area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia, serta meningkatkan potensi konflik.

Ketika habitat rusak, jumlah orangutan yang membutuhkan penyelamatan dan rehabilitasi juga meningkat, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap kapasitas lembaga konservasi.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Menghadapi ancaman kebakaran hutan membutuhkan komitmen jangka panjang dan kolaborasi dari berbagai pihak. Investasi pada pencegahan, restorasi ekosistem, penguatan kapasitas masyarakat, dan kesiapsiagaan lapangan memerlukan dukungan yang berkelanjutan.

Berbekal pengalaman lebih dari tiga dekade dalam konservasi orangutan dan pembelajaran dari kebakaran besar 2015–2016, BOS Foundation terus bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan berbagai mitra untuk memperkuat perlindungan hutan dan habitat orangutan. Sebab, mencegah kebakaran jauh lebih efektif daripada memulihkan kerusakan yang ditinggalkannya.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup