PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Kata orang, cinta ibu akan selalu menyertai anaknya. Hal ini ternyata berlaku juga pada Yayang. Ia sangat setia menemani anaknya, Sayang. Sejak di pusat rehabilitasi sampai setelah mereka dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur pada awal Desember 2013.
Sejak dilepasliarkan, baik Yayang maupun Sayang memperlihatkan kemampuan yang baik untuk hidup di hutan. Mereka jarang sekali turun ke tanah dan lebih menyukai aktivitas di kanopi hutan. Yayang sangat pandai mengenali pakan hutan yang lezat, bukan hanya buah-buahan tapi juga daun, kulit kayu, dan rayap. Sayang belajar banyak hal dari sang ibunda, terutama tentunya cara mencari makan di hutan.
Tim Post Release Monitoring (PRM) RHOI mengakui bahwa mengikuti pasangan ibu dan anak ini sangat menyenangkan, sekaligus juga penuh tantangan. Menyenangkan karena kedua orangutan ini sangat pandai dan aktif. Namun penuh tantangan karena tim PRM harus bisa membagi fokus dan mencatat segala perilaku dan kondisi Yayang maupun Sayang sebagai dua individu yang berbeda. Selain itu, si kecil Sayang sangat lincah, sehingga seringkali tim PRM kewalahan mengikutinya. Dengan mudah dia berpindah dari pohon yang satu ke pohon lainnya. Yayang pun dengan sabar mengikutinya. Di saat jarak antar pohon terlalu jauh bagi jangkauan lengan Sayang, Yayang meraih salah satu dahan pohon tersebut dan membuat semacam jembatan bagi Sayang.
Cinta kasih Yayang terhadap putrinya ini sangat mengharukan. Yayang terlihat sangat bangga setiap kali Sayang berhasil mempelajari hal baru. Kini, sudah lebih dari satu tahun mereka hidup bebas dan menjadi penghuni Hutan Kehje Sewen. Sayang sekarang sudah berusia 6 tahun dan sudah mulai mandiri. Meski Yayang masih terus mengawasinya, Sayang kini lebih banyak beraktivitas sendiri. Orangutan biasanya mulai dilepas oleh induknya di usia 6-8 tahun, jadi wajar jika Yayang mulai memberikan kepercayaan penuh terhadap putrinya untuk mengeksplorasi sendiri. Hasil observasi memperlihatkan bahwa Yayang pun mulai sering bergaul dengan para orangutan jantan yang ada di area itu. Perilaku ini menunjukkan bahwa Yayang sudah bersiap untuk melepas anaknya.
Si kecil Sayang kini menjalin persahabatan dengan Lesan, orangutan betina yang dilepasliarkan bulan April 2012. Lesan pun terlihat senang bermain dengan Sayang. Mungkin dia menganggap Sayang sebagai adiknya. Keduanya sering didapati berpesta buah-buahan bersama dan menjelajah hutan bersama-sama pula. Yayang masih mengikuti dan mengawasi setiap gerak putrinya, namun dia mulai menjaga jarak. Betapa menakjubkan melihat bagaimana induk orangutan dengan penuh cinta mempersiapkan anaknya untuk hidup mandiri.
Sayang benar-benar anak yang beruntung!