Apakah kamu member?

PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA

Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza. Setelah diselamatkan dari Kuwait, Moza direpatriasi ke Indonesia melalui kerja sama Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE)—Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (sekarang Kementerian Kehutanan), serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuwait. 

Setibanya di Indonesia, Moza menjalani masa karantina di Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor. Pemeriksaan dokter hewan menunjukkan bahwa bayi mungil itu berada dalam kondisi sehat. Namun seperti banyak orangutan lain yang pernah hidup jauh dari habitat alaminya, perjalanan Moza untuk kembali menjadi orangutan “sejati” baru saja dimulai.

Belajar Menjadi Orangutan Liar

Setelah masa karantina selesai, Moza kemudian dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, yang dikelola oleh BOS Foundation. Seperti murid lain di “sekolah hutan”, Moza mengikuti berbagai tahapan rehabilitasi yang dirancang untuk mengasah kembali naluri alaminya. 

Ia belajar memanjat pohon, mengenali berbagai jenis makanan hutan, hingga membangun sarang untuk beristirahat. Perkembangannya diamati dengan seksama, baik oleh ibu asuh, dokter hewan, maupun tim animal welfare kami yang berdedikasi.

Sejak awal, Moza dikenal sebagai individu yang cerdas dan cepat belajar. Kemampuan adaptasinya yang baik membuat progres rehabilitasinya berjalan relatif cepat. Setelah melewati sekitar empat tahun pembelajaran intensif di sekolah hutan, Moza akhirnya dinilai siap melangkah ke tahap berikutnya.

Menapaki Kehidupan Semi-Liar dan Kehidupan Sebagai Ibu

Pada tahun 2019, Moza dipindahkan ke Pulau Pra-Pelepasliaran. Di pulau ini, Moza memiliki kebebasan lebih besar untuk menjelajah, mencari makanan, dan berinteraksi dengan lingkungan alaminya. Pemantauan rutin tetap dilakukan meskipun intensitasnya tidak seketat ketika di sekolah hutan, demi memastikan progress rehabilitasi Moza berjalan dengan baik.

Lebih dari satu dekade sejak ia pertama kali kembali ke Indonesia, Moza telah tumbuh menjadi orangutan betina dewasa berusia sekitar 15–16 tahun. Bahkan, kehidupannya telah memasuki babak baru yang sangat penting: ia telah menjadi seorang ibu. Di Pulau Kaja, Moza kini merawat satu individu anak orangutan jantan yang diberi nama Minho. Minho sendiri kini diperkirakan berusia sekitar tiga hingga empat tahun. 

Dalam salah satu sesi pengamatan, tim observer pulau kami melihat Moza dan anaknya dalam kondisi sehat. Ia awalnya duduk di pohon pada ketinggian sekitar satu hingga lima meter sambil menikmati makan siangnya. Hal yang sama terlihat juga pada anaknya, Minho. Setelah kenyang, keduanya berjalan perlahan lebih jauh ke dalam rerimbunan kanopi dan menghilang dari pandangan.


Moza (Saat pertama tiba, 2016)

Moza kini bersama anaknya, Minho

Moza kini bersama anaknya, Minho

Moza kini bersama anaknya, Minho

Moza kini bersama anaknya, Minho

Momen Hangat di Tepi Sungai

Pada kesempatan pengamatan lainnya, Moza dan Minho terlihat menikmati siang yang hangat di pulau tersebut dengan cara yang tak kalah menarik, yaitu bermain air. Baik Moza maupun Minho, berjalan mendekat kea rah tepi air dan mulai merendam tubuhnya. Interaksi antara ibu dan anak ini terlihat menunjukkan kuatnya ikatan antara ibu dan anak.

Perilaku ini juga menjadi bagian dari proses belajar bagi Minho. Dengan membiarkannya mengeksplorasi lingkungan sekitar, Moza secara alami mengajarkan keterampilan bertahan hidup yang dibutuhkan oleh anaknya, kelak.

Setelah puas bermain, Moza mendekati feeding platform untuk menikmati pakan tambahan yang disediakan oleh teknisi kami. Keduanya terlihat lahap menghabiskan melon dan papaya tersebut sebelum kembali menjalani rutinitasnya yang lain. Sepanjang waktu, Minho tetap berada di dekat Moza.

Sebuah Perjalanan Pulang yang Berbuah Harapan

Kisah Moza adalah pengingat bahwa setiap orangutan yang diselamatkan membawa harapan baru bagi masa depan kehidupan spesiesnya. Dari individu bayi yang pernah jauh dari habitat aslinya, Moza kini telah menjadi ibu yang membesarkan generasi baru di lingkungan alaminya.

Perjalanan panjangnya Moza menunjukkan bahwa dengan kesempatan yang tepat, orangutan dapat kembali menjalani kehidupan yang mendekati alam liar. Kini, di bawah kanopi hutan Pulau Kaja, Moza dan Minho sama-sama mempersiapkan diri sebelum keduanya dilepasliarkan ke Hutan Kalimantan kelak.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup