Apakah kamu member?

ORANGUTAN BARU DI PULAU PRA-PELEPASLIARAN

Setelah sukses melepasliarkan orangutan ke Hutan Lindung Bukit Batikap, proses rehabilitasi orangutan di Nyaru Menteng kian berkembang pesat. Tahapan proses rehabilitasi orangutan di Nyaru Menteng kini kembali bergerak, dengan memindahkan orangutan ke pulau pra-pelepasliaran untuk menjalani tahap akhir rehabilitasi.

Yayasan BOS menetapkan 4 tahap program rehabilitasi orangutan, yaitu tahap karantina, sosialisasi, pra-pelepasliaran dan tahap pelepasliaran. Di tahap pra-pelepasliaran, orangutan ditempatkan di pulau pra-pelepasliaran, sebuah hutan singgah di mana orangutan ‘lulusan’ Sekolah Hutan menjalani tahap akhir proses rehabilitasi. Di pulau ini para orangutan akan menjalani hidup yang lebih mandiri untuk mempersiapkan mereka menjadi orangutan liar sejati dan tinggal di hutan yang sesungguhnya.

Pulau Pra-Pelepasliaran sebagai Sebuah “Universitas”
Kaja, Bangamat, Palas dan Hampapak, merupakan pulau pra-pelepasliaran yang dikelola oleh Yayasan BOS Nyaru Menteng. Pulau-pulau kecil ini terletak di aliran sungai Rungan di wilayah Kelurahan Sei Gohong, Kota Palangka Raya. Layaknya universitas, di pulau ini para orangutan akan mendapatkan ‘pembelajaran tahap akhir’ untuk menjalani hidup yang lebih mandiri.

Para orangutan akan menjalani hidup layaknya orangutan liar di hutan alam. Mereka tak lagi harus pulang ke kandang begitu senja tiba, melainkan bebas membuat sarang dan tinggal di pepohonan. Di tahap ini interaksi orangutan dengan manusia akan dikurangi. Teknisi hanya akan memberi suplemen makanan 2 kali sehari saja –berbeda dengan di Sekolah Hutan yang mendapat 5 kali jatah makan. Selebihnya  orangutan harus mencari dan memilih pakan alami mereka secara mandiri.

Inilah mengapa keterampilan bertahan hidup di hutan menjadi salah satu kriteria penting yang menentukan berhak tidaknya orangutan ‘naik tingkat’ ke pulau pra-pelepasliaran. Di samping keterampilan, masih ada sederet kriteria penting lain yang harus dipenuhi antara lain kesehatan, interaksi sosial, dan perilaku yang akan dipantau dan dinilai.


Pulau pra-pelepasliaran, sebuah hutan singgah oleh Indrayana

Di pulau, para orangutan akan menjalani hidup yang lebih mandiri oleh Indrayana

Nyaru Menteng kembali memindahkan orangutan ke pulau pra-pelepasliaran oleh Indrayana

Anton Nurcahyo membuka kandang Holly dan Anton oleh Indrayana

Pada orangutan betina dewasa dipasang alat birth-control oleh Indrayana

31 Orangutan Pindah ke Pulau Kaja
Setelah memindahkan 26 individu orangutan ke Pulau Bangamat pada akhir Desember 2012 lalu, Nyaru Menteng kembali memindahkan 31 individu orangutan ke pulau pra-pelepasliaran. Pemindahan kali ini dilakukan dari Nyaru Menteng ke Pulau Kaja dan dilaksanakan dalam beberapa tahap.

Pemindahan tahap pertama dimulai hari  Kamis (20/6), sebanyak 17 individu orangutan. Mereka terdiri dari 13 orangutan betina dan 4 anak orangutan jantan. Mereka adalah 6 pasang induk dan anak yaitu; Jambi-Jamartin, Nora-Ara, Dewi-Debora, Susi-Akhates, Holly-Anton, dan Meklies-Mekhlias, serta 5 betina yang terdiri dari Mentos, Koko, Miri, Cetah, dan Peggi.

Didampingi oleh drh. Agus Fahroni dan drh. Riani, pemindahan tahap pertama ini juga diikuti oleh Lone D. Nielsen (Senior Advisor BOSF) dan Anton Nurcahyo (Program Manager Nyaru Menteng). Anton Nurcahyo melepaskan anak orangutan jantan yang kebetulan juga bernama Anton beserta induknya Holly. Sementara  Lone D. Nielsen melepaskan induk orangutan bernama Jambi dan anaknya Jamartin.

Pemindahan tahap kedua dilakukan pada hari Senin (24/6), sebanyak 10 orangutan betina. Mereka adalah Olive, Mocacino, Wanna, Compost, Rina, Cameron, Beda, Merry, Mini dan Nata. Wanna adalah salah satu dari 48 orangutan yang pada tahun 2006 disita oleh pemerintah RI dari Thailand. Empat individu orangutan jantan yang terdiri dari Hercules, Juki, Kisar, dan Sabun menyusul kemudian di tahap berikutnya.

Rencananya Nyaru Menteng akan memindahkan total 51 orangutan ke Pulau Kaja. Saat ini 31 individu orangutan telah dipindahkan. Sisanya, 20 orangutan akan segera dipindahkan setelah pengecekan kesehatan mereka selesai. Pada orangutan betina dewasa juga dipasang alat birth-control. Tindakan ini diambil untuk menjamin kesiapan orangutan mengenal kehidupan hutan dan mengasah kemampuannya sebelum mereka dilepasliarkan ke hutan alami. Memiliki anak ketika belum siap dengan kehidupan alam liar akan membahayakan keselamatan induk dan bayi orangutan.

Dari total 51 orangutan yang akan dipindahkan ini beberapa diantaranya merupakan orangutan adopsi, mereka adalah Beda –dipindahkan pada tahap pertama, dan Carmen, Carlos, Bulan serta Elisa yang akan segera menyusul dilepaskan. Perkembangan yang menggembirakan pada mereka tidak lepas dari dukungan para pengadopsi.

Tantangan dan Harapan
Pada saatnya setiap orangutan yang dirawat di Nyaru Menteng akan menempati pulau pra-pelepasliaran, untuk dipersiapkan menjadi kandidat pelepasliaran. Saat ini kapasitas pulau sudah penuh sehingga masih banyak orangutan yang tinggal di Nyaru Menteng ‘menunggu giliran’ untuk dapat ‘naik tingkat’ ke pulau pra-pelepasliaran. Sementara itu orangutan di pulau juga masih menunggu untuk dapat dilepasliarkan ke hutan yang sejati karena minimnya ketersediaan hutan yang layak.

Menemukan hutan yang layak sebagai lokasi pelepasliaran orangutan adalah sebuah tantangan. Saat ini kami sedang dalam proses mencari lokasi pelepasliaran lain di Kalimantan Tengah. Suatu saat Hutan Lindung Bukit Batikap akan memenuhi kapasitas daya dukungnya, sehingga dengan memiliki lokasi pelepasliaran lain, kami dapat melanjutkan reintroduksi orangutan tanpa hambatan.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup