Apakah kamu member?

MENJAGA MASA DEPAN RIMBA, LIMA ORANGUTAN KEMBALI KE HUTAN KALIMANTAN


PALANGKARAYA, KALIMANTAN TENGAH

MENJAGA MASA DEPAN RIMBA, LIMA ORANGUTAN KEMBALI KE HUTAN KALIMANTAN

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), dan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), bersama para mitra nasional dan internasional, kembali melepasliarkan lima individu orangutan ke habitat alaminya di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, TNBBBR, Kalimantan Tengah. Pelepasliaran ini merupakan pelepasliaran orangutan ke-47 dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng.

Kelima individu orangutan yang terdiri dari tiga betina dan dua jantan tersebut telah melewati masa rehabilitasi panjang di Nyaru Menteng dan dinyatakan siap untuk hidup mandiri di alam liar. Pelepasliaran ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam memulihkan populasi orangutan Kalimantan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem hutan hujan tropis Indonesia melalui kerja sama berbagai pihak.

Setiap individu orangutan yang dilepasliarkan membawa kisah perjalanan yang unik. Salah satunya adalah Himba, orangutan jantan berusia 15 tahun yang ditemukan dalam kondisi luka bakar serius akibat kebakaran hutan saat masih bayi. Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun, Himba tumbuh menjadi individu yang tangguh, aktif menjelajah, dan terampil mencari pakan alami. Ada pula Lykke, betina berusia 23 tahun yang tiba di Nyaru Menteng bersama induknya saat masih berusia sekitar satu bulan. Setelah hampir 22 tahun menjalani rehabilitasi, Lykke dikenal sebagai individu yang mandiri dan lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon. Sementara itu, Farida, betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba, menunjukkan kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang sangat baik selama masa pra-pelepasliaran. Bersama dua individu lainnya, Nett dan Semeru, mereka kini memulai perjalanan baru menuju kebebasan di hutan Kalimantan.

DIREKTUR KONSERVASI KAWASAN, DIREKTORAT JENDERAL KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM DAN EKOSISTEM (KSDAE), KEMENTERIAN KEHUTANAN, SAPTO AJI PRABOWO, S.HUT., M.SI., menyampaikan, “Pelepasliaran orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan bagian penting dari upaya pemulihan ekosistem dan penguatan fungsi kawasan konservasi sebagai habitat alami satwa liar, termasuk spesies yang terancam punah. Keberhasilan pelepasliaran ini menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, mitra pembangunan, dan masyarakat dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan populasi orangutan di alam liar. Kawasan konservasi memiliki peran strategis dalam memastikan satwa yang telah direhabilitasi dapat kembali menjalankan fungsi ekologisnya di habitat yang aman dan sesuai. Oleh karena itu, perlindungan habitat, pengelolaan kawasan yang efektif, serta pemantauan pasca-pelepasliaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya konservasi jangka panjang. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung proses rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan ini. Momentum ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah individu yang dilepasliarkan, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga ekosistem hutan agar tetap lestari bagi generasi mendatang.”

KEPALA BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM (BKSDA) KALIMANTAN TENGAH, ANDI MUHAMMAD KADHAFI, S.Hut., M.Si., menyampaikan, “Setiap pelepasliaran orangutan adalah bagian dari upaya bersama untuk memulihkan keseimbangan ekosistem dan memastikan kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah. Kami mengapresiasi kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya, sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan.”

 

KEPALA BALAI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA (TNBBBR), MOCHAMAD SATORI, S.Hut., M.Si., menambahkan, “Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan salah satu benteng penting bagi kelangsungan hidup orangutan di alam liar. Lima individu orangutan yang dilepasliarkan hari ini akan menjadi bagian dari ekosistem hutan yang terus kami jaga bersama. Kehadiran mereka di alam memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan tropis, sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak dan dukungan masyarakat.”

KETUA PENGURUS YAYASAN BOS, DR. IR. JAMARTIN SIHITE, MSc., juga menyampaikan, “Setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan yang panjang. Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah melalui bertahun-tahun rehabilitasi untuk belajar kembali menjadi orangutan liar. Pelepasliaran ini bukan sekadar akhir dari proses rehabilitasi, tetapi awal dari kehidupan baru mereka di alam. Bagi kami, keberhasilan ini adalah pengingat bahwa dengan kesabaran, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi yang kuat, kita masih memiliki harapan untuk menjaga masa depan orangutan dan hutan Indonesia.”

Yayasan BOS menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh mitra kami, termasuk BOS Australia, BOS Jerman, BOS Selandia Baru, BOS Swiss, BOS Inggris, BOS Amerika Serikat, BOS Prancis, BOS Jepang dan Save the Orangutan, serta para pendukung kami di seluruh dunia seperti Orangutan Outreach, yang telah berkontribusi besar dalam mendukung upaya konservasi orangutan di Indonesia. Kami juga berterima kasih atas kontribusi dari para donor individu dari berbagai penjuru dunia, yang kemurahan hatinya memungkinkan upaya perlindungan orangutan dan pelestarian habitatnya terus berjalan.

 

Foto dan video dokumentasi kegiatan ini dapat diunduh melalui tautan berikut: [Google Drive – Release #47 Documentation]

*Dokumentasi berupa foto dan video terbaru dari kegiatan pelepasliaran akan tersedia satu hari setelah siaran pers ini dikirimkan, melalui tautan Google Drive pada folder “Latest Documentation”.

Editors Note :

CATATAN EDITOR:

TENTANG YAYASAN BOS

Didirikan pada 1991, Yayasan BOS adalah sebuah organisasi non-profit Indonesia yang didedikasikan untuk konservasi orangutan kalimantan dan habitatnya, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, masyarakat setempat, dan organisasi mitra internasional.

Yayasan BOS selain melakukan berbagai kegiatan yang mencakup konservasi habitat, pengembangan masyarakat yang berkelanjutan, dan program pendidikan lingkungan, saat ini merawat lebih dari 300 orangutan di dua pusat rehabilitasi orangutan. Hal ini dapat terlaksana dengan dukungan dari 400 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id

TENTANG PELEPASLIARAN ORANGUTAN

Sejak 2012, Yayasan BOS telah mengembalikan sebanyak 556 individu orangutan ke habitat alami mereka yang tersebar di tiga lokasi pelepasliaran, yaitu Hutan Lindung Bukit Batikap dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kalimantan Tengah, serta Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur. Pelepasliaran yang akan dilaksanakan ini merupakan yang ke-47 di Kalimantan Tengah, dengan lima orangutan sebagai kandidat pelepasliaran.

Hingga saat ini, sebanyak 226 individu orangutan telah dilepasliarkan di Kalimantan Tengah, dan dengan pelepasliaran ke-47 ini, jumlah tersebut akan meningkat menjadi 231 individu. Secara keseluruhan, total orangutan yang dikembalikan ke alam liar oleh Yayasan BOS sejak 2012 akan mencapai 561 individu setelah pelepasliaran ini.

Foto dan video dokumentasi kegiatan ini dapat diunduh melalui tautan berikut: [Google Drive – Release #47 Documentation]

*Dokumentasi berupa foto dan video terbaru dari kegiatan pelepasliaran akan tersedia satu hari setelah siaran pers ini dikirimkan, melalui tautan Google Drive pada folder “Latest Documentation”.



KAMI JUGA MENYARANKAN

Merdeka bagi Orangutan: Menyatukan Semangat Kemerdekaan Republik Indonesia dengan Hari Orangutan

Dalam rangka memperingati perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Orangutan Internasional yang jatuh dua hari sesudahnya, 19 Agustus, Yayasan BOS sebagai mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan bangga men

PELEPASLIARAN LINTAS PROVINSI PERTAMA

Merupakan satu rangkaian kegiatan pelepasliaran orangutan yang dilakukan Yayasan BOS di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Yayasan BOS melepasliarkan induk-anak orangutan dan satu individu orangutan betina di hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.

SUAKA ORANGUTAN DIRESMIKAN MENTERI KLHK DI HARI CINTA SATWA DAN PUSPA NASIONAL

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar meresmikan Pulau Badak Kecil, salah satu pulau di Gugusan Pulau Salat Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, sebagai pulau suaka alami orangutan yang pertama di dunia. Pada peresmian

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup