PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Pada September lalu, tim Post Release Monitoring (PRM) kami di kamp Lesik, bagian Utara Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, melakukan kegiatan fenologi. Fenologi merupakan kegiatan mengamati bagaimana respon makhluk hidup terhadap perubahan musim dan iklim lingkungan tempat mereka tinggal.
Pada saat survei, ketika anggota tim merasa kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak, salah seorang tim PRM yang bernama Hilal melihat adanya gerakan dari pepohonan. Dia tidak terlalu memperhatikannya hingga anggota tim PRM lain, Mang Usup, berdiri karena terkejut; ternyata gerakan di pepohonan itu disebabkan oleh orangutan! Sontak saja mang Usup, Hilal dan Beni, anggota tim PRM lainnya, mendekat untuk melihat siapa orangutan yang mereka temukan di daerah fenologi Gunung Belah. Dari kejauhan, mereka menyadari bahwa gerakan di pepohonan tersebut bukan hanya berasal dari satu orangutan tapi dua orangutan.
Setelah diperiksa lebih seksama, tim kami langsung mengenali kedua orangutan tersebut sebagai Sayang dan anaknya, Padma. Senang rasanya bisa melihat Sayang dan Padma sedang mencari makan di tengah hutan. Sebelumnya, tim kami selalu menemukan mereka beraktifitas di sekitar kamp saja. Namun, pasangan orangutan ibu–anak ini sudah lama tidak mengunjungi kamp, dan kami rindu dengan mereka.
Kebahagiaan kami juga bertambah ketika melihat Sayang dan Padma dalam kondisi yang sehat, seperti yang ditunjukkan oleh indikator BCS (Body Condition Score) mereka yang stabil, di mana tergolong ideal untuk tubuh orangutan yang berada di alam liar.
Tim akhirnya melanjutkan kegiatan fenologi karena Sayang dan Padma semakin mendekat. Dikhawatirkan jika jarak mereka terlalu dekat, mereka akan terganggu oleh kami. Kami segera pulang setelah kegiatan fenologi berakhir, meninggalkan Sayang dan Padma melanjutkan petualangan bebasnya di hutan.
Kami berharap Sayang dan Padma tetap sehat dan mampu bertahan hidup di hutan liar!