SITUATION UPDATE: KARHUTLA DAN KESIAPSIAGAAN BOSF
Kondisi Orangutan, Habitat, dan Respons Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur | September 202C
Situasi Terkini (UPDATE 6 September 2026)
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, pusat rehabilitasi orangutan dan lokasi pelepasliaran BOSF masih beroperasi dan dalam kondisi aman dari dampak langsung kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di Kalimantan Tengah, Nyaru Menteng serta pulau-pulau pra-pelepasliaran Kaja dan Bangamat belum terdampak langsung oleh kebakaran, dan hingga saat ini tidak ada evakuasi orangutan yang dilakukan akibat ancaman atau dampak langsung karhutla. Di Kalimantan Timur, Samboja Lestari dan lokasi pelepasliaran Kehje Sewen juga masih dalam kondisi aman. Demikian pula, berdasarkan hasil pemantauan terbaru, Hutan Lindung Bukit Batikap dan kawasan pelepasliaran di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di Kalimantan Tengah saat ini belum menghadapi ancaman kebakaran secara langsung.
Namun, kondisi di Kawasan Konservasi Mawas masih menjadi perhatian serius. Sekitar 49,5 hektare kawasan konservasi Mawas telah terdampak kebakaran. Sebagai bentang alam gambut, Mawas memerlukan perhatian khusus karena kebakaran di kawasan gambut dapat sulit dideteksi dan dipadamkan serta dapat terus membara di bawah permukaan tanah. Selain menyebabkan hilangnya vegetasi secara langsung, kebakaran juga dapat memengaruhi fungsi ekologis hutan, termasuk ketersediaan pakan dan kualitas habitat bagi orangutan maupun satwa liar lainnya.
Dampak terhadap Orangutan dan Respons Fire Task Force BOSF
Dampak karhutla tidak hanya terbatas pada area yang secara langsung dijangkau api. Asap dan kabut asap (haze) dapat bergerak melampaui zona kebakaran dan memengaruhi kesehatan pernapasan, sementara paparan asap dalam waktu yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi perilaku dan aktivitas harian satwa.
Musim kemarau yang berkepanjangan juga telah memengaruhi ketinggian muka air di sekitar pulau-pulau pra-pelepasliaran. Seiring dengan surutnya muka air sungai, berkurangnya fungsi sungai sebagai penghalang alami memungkinkan beberapa orangutan keluar dari pulau. Hingga saat ini, 11 orangutan telah dievakuasi dengan aman dan dikembalikan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng untuk mendapatkan perawatan dan pemantauan lebih lanjut.
Saat ini, 21 orangutan (lihat LAMPIRAN 1) menunjukkan gejala gangguan pernapasan yang konsisten dengan ISPA, antara lain batuk, bersin, dan keluarnya cairan dari hidung. Tim dokter hewan (veterinary) dan animal welfare BOSF terus memantau kondisi mereka serta memberikan perawatan dan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Kegiatan Sekolah Hutan (Forest School) saat ini masih berlangsung seperti biasa, dengan orangutan berada di hutan hingga tujuh jam. Namun, apabila kondisi kabut asap memburuk, durasi kegiatan Sekolah Hutan akan dievaluasi kembali sebagai langkah pencegahan, dengan kesehatan dan kesejahteraan orangutan sebagai pertimbangan utama.
BOSF terus mempertahankan kesiapsiagaan tinggi di seluruh wilayah operasionalnya. Tim melakukan pemantauan titik panas (hotspot) secara berkala dengan memanfaatkan informasi satelit yang dikombinasikan dengan hasil pengamatan lapangan, melakukan patroli di area yang rawan kebakaran, memeriksa batas kawasan dan sekat bakar, serta memantau sumber air, kanal, dan infrastruktur lain yang dapat diperlukan dalam upaya pemadaman kebakaran.
Tim respons kebakaran dan peralatan pemadaman tetap dalam kondisi siaga, dengan sumber daya dikerahkan sesuai dengan tingkat risiko di masing-masing lokasi. BOSF juga terus berkoordinasi dengan instansi pemerintah terkait, masyarakat lokal, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat sistem peringatan dini, pencegahan, dan respons terhadap kebakaran.
Pendekatan BOSF didasarkan pada prinsip bahwa pencegahan dan deteksi dini lebih efektif daripada menunggu hingga kebakaran mencapai habitat atau fasilitas orangutan. Oleh karena itu, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap keberadaan api, tetapi juga terhadap kondisi yang dapat meningkatkan risiko kebakaran, termasuk musim kemarau yang berkepanjangan dan kondisi kabut asap.
Di Kalimantan Tengah, Fire Task Force BOSF saat ini juga mendukung upaya pemadaman kebakaran di wilayah sekitar Palangka Raya, termasuk lokasi yang berjarak lebih dari 10-kilometer dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. Dengan demikian, tim tidak hanya berfokus pada pencegahan dan kesiapsiagaan kebakaran di dalam wilayah operasional BOSF, tetapi juga memberikan dukungan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) dan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah dalam merespons kebakaran di berbagai lokasi.
Dukungan tersebut mencakup upaya pemadaman kebakaran baik di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan (KSA/KPA), seperti suaka margasatwa dan kawasan lain yang secara khusus diperuntukkan bagi konservasi, maupun di luar kawasan konservasi tersebut, di mana kebakaran tetap dapat mengancam hutan, masyarakat, dan ekosistem di sekitarnya.
Melalui kolaborasi ini, tim lapangan BOSF berkontribusi melalui pengalaman, personel, dan kapasitas pemadaman kebakaran untuk mendukung respons terhadap situasi karhutla yang lebih luas pada skala bentang alam di Kalimantan Tengah.