Musim kemarau membawa tantangan tersendiri bagi kawasan gambut. Ketika curah hujan menurun dan permukaan tanah mulai kehilangan kelembapannya, risiko kebakaran meningkat. Karena itu, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan ketika api muncul, tetapi jauh sebelumnya
Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan Regu Pemadam Kebakaran (RPK) BOS Foundation di kawasan Mantangai adalah patroli sungai dan pembasahan lahan (rewetting) sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi gambut tetap lembap selama musim kemarau.
Menyusuri Sungai untuk Memantau Kondisi Lapangan
Pagi hari menjadi waktu dimulainya patroli. Menggunakan klotok, anggota RPK menyusuri sungai yang menjadi jalur utama menuju kawasan gambut. Dari atas perahu, mereka mengamati kondisi vegetasi di sepanjang tepian sungai sekaligus memantau kemungkinan munculnya asap maupun tanda-tanda kebakaran
Patroli juga memungkinkan tim melakukan pemeriksaan langsung terhadap area-area yang berpotensi mengalami kekeringan, sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum titik api muncul
Selain perlengkapan keselamatan, setiap patroli membawa pompa portabel, selang, nozzle, alat komunikasi, dan perangkat navigasi yang siap digunakan apabila diperlukan untuk merespons cepat laporan kebakaran.
Menjaga Kelembapan Gambut Melalui Pembasahan Lahan
Apabila tim menemukan area gambut yang mulai mengering, mereka melakukan pembasahan lahan (rewetting). Air dipompa dari sungai atau kanal terdekat, kemudian disemprotkan ke permukaan gambut untuk membantu mempertahankan kelembapannya
Langkah ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan karena gambut yang tetap basah memiliki risiko jauh lebih rendah untuk terbakar dibandingkan dengan gambut yang telah mengering
Pembasahan lahan merupakan salah satu upaya penting dalam pengelolaan ekosistem gambut, terutama selama musim kemarau ketika cadangan air mulai berkurang
Mengapa Gambut Perlu Tetap Basah?
Gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mengalami proses dekomposisi selama ribuan tahun di lingkungan yang tergenang air. Dalam kondisi alami, gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar sehingga berperan penting dalam menjaga keseimbangan hidrologi dan iklim
Namun, ketika kandungan airnya menurun, lapisan organik gambut menjadi lebih mudah terbakar. Berbeda dengan kebakaran di tanah mineral yang umumnya terjadi di permukaan, kebakaran gambut dapat merambat hingga ke bawah permukaan (ground fire), sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan
Karena itulah, menjaga kelembapan gambut menjadi salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi risiko kebakaran.
Mencegah Lebih Baik daripada Memadamkan
Patroli sungai dan pembasahan lahan merupakan bagian dari upaya pencegahan yang dilakukan secara rutin selama musim kemarau. Kegiatan ini membantu tim mendeteksi potensi risiko lebih awal sekaligus menjaga kondisi gambut tetap lembap
Di balik setiap patroli yang dilakukan, terdapat komitmen untuk melindungi hutan gambut beserta seluruh keanekaragaman hayati yang bergantung padanya. Dalam konservasi, keberhasilan sering kali tidak hanya terlihat dari api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga dari kebakaran yang berhasil dicegah agar tidak pernah terjadi.
Tahukah Anda?
Lahan gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah yang sangat besar. Ketika gambut tetap basah, karbon tersebut tersimpan di dalam tanah. Sebaliknya, kebakaran gambut dapat melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ribuan tahun ke atmosfer, sehingga turut berkontribusi terhadap perubahan iklim.