PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Masih ingat kisah Sally dan Teman Berbulu Kecilnya? Cerita sederhana tersebut ternyata membuka jendela pemahaman yang lebih luas tentang perilaku sosial orangutan. Meski sering dikenal sebagai primata semi-soliter, orangutan sejatinya tetap memiliki kebutuhan dan kemampuan untuk berinteraksi sosial. Tidak hanya dengan sesamanya, tetapi juga dengan spesies lain.
Mayoritas spesies primata adalah makhluk sosial. Pada orangutan, sifat semi-soliter terutama terlihat pada pejantan dewasa yang cenderung memiliki wilayah jelajah luas dan menghabiskan banyak waktu sendiri. Namun, betina dan individu remaja justru masih kerap terlibat dalam interaksi sosial untuk bermain, belajar, maupun mengamati perilaku individu lain di sekitarnya.
Perilaku bawaan ini tidak hilang ketika orangutan berada di pusat rehabilitasi. Menariknya, interaksi sosial tersebut tidak terbatas pada sesama orangutan. Dalam beberapa kesempatan, orangutan juga terlibat dalam interaksi dengan spesies lain. Salah satu contohnya adalah interaksi antara Koko dan Winey dengan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Pra-Pelepasliaran Badak Kecil.
Saat mengonsumsi pakan tambahan di feeding platform Pulau Badak Kecil, Koko terpantau menikmati kudapannya bersama seekor monyet ekor panjang. Tidak hanya itu, Koko menunjukkan perilaku menarik, yaitu menggosok atau mencelupkan buah yang ia dapat seperti melon dan pisang ke sungai sebelum memakannya seperti seolah-olah sedang “mencuci” buah tersebut. Selain itu, Koko tampak tidak terganggu dengan keberadaan monyet ekor panjang di dekatnya. Ia mengambil pakan tambahan yang disediakan seperlunya dan membiarkan monyet ekor panjang mengambil sisanya.
Di waktu yang berbeda, Winey juga pernah terpantau melakukan party dengan monyet ekor panjang di Pulau Badak Kecil. Winey dan monyet ekor panjang tersebut terlihat aktif bergelayutan bersama dari satu pohon ke pohon lainnya. Sebelumnya, Winey juga terpantau aktif berinteraksi dengan monyet ekor panjang saat dirinya masih berada di Sekolah Hutan Nyaru Menteng. Meskipun Ia dikenal sebagai orangutan yang sangat waspada terhadap keberadaan orangutan lain, Winey tetap menunjukkan toleransi dan interaksi lintas spesies tanpa konflik.
Interaksi sosial memainkan peran penting dalam proses pembelajaran orangutan. Melalui observasi dan imitasi, orangutan belajar mengenali perilaku adaptif yang krusial untuk bertahan hidup, seperti memilih dan mencari pakan, mengenali potensi ancaman, serta membaca situasi di sekitarnya.
Interaksi, termasuk dengan spesies lain, juga berkontribusi pada pengembangan keterampilan kognitif dan emosional, seperti toleransi, pengendalian emosi, dan kemampuan memahami batas sosial.
Selain itu, interaksi sosial sejak dini berfungsi sebagai simulasi alami dari kompleksitas ekosistem hutan. Di alam, orangutan hidup berdampingan dengan berbagai spesies lain, sehingga kemampuan beradaptasi terhadap keberadaan makhluk lain menjadi bagian penting dari kesiapan mereka. Orangutan yang mampu menunjukkan interaksi sosial yang fleksibel dan sesuai konteks mencerminkan perkembangan perilaku menuju kemandirian, sekaligus menjadi indikator penting bahwa individu tersebut semakin siap untuk dilepasliarkan dan hidup secara mandiri di habitat alaminya.
Kisah Koko, Winey, Sally, dan interaksi unik mereka dengan spesies lain menunjukkan bahwa pusat rehabilitasi bukan sekadar tempat pemulihan fisik, tetapi juga ruang pembelajaran sosial yang penting. Interaksi lintas spesies menjadi bagian dari proses alami pembentukan perilaku orangutan sebelum kembali ke habitat aslinya.
Melalui pengamatan dan pemahaman perilaku ini, kita semakin menyadari bahwa konservasi orangutan bukan hanya soal menyelamatkan individu, tetapi juga memastikan mereka memiliki bekal perilaku yang memadai untuk hidup sebagai bagian dari ekosistem hutan yang utuh.
Rujukan Ilmiah
1. Russon, A. E. (2009). Orangutan rehabilitation and reintroduction. Orangutans: Geographic variation in behavioral ecology and conservation, 327-350.
2. Maestripieri, D. (2006). Among Orangutans: Red Apes And The Rise Of Human Culture. By Carel van Schaik. Cambridge, MA: Harvard University Press. 2004. 244 pp. ISBN 0-674-01577-0.
3. Schuppli, C., Forss, S. I., Meulman, E. J., Zweifel, N., Lee, K. C., Rukmana, E., ... & van Schaik, C. P. (2016). Development of foraging skills in two orangutan populations: needing to learn or needing to grow?. Frontiers in zoology, 13(1), 43.
4. Jaeggi, A. V., & Van Schaik, C. P. (2011). The evolution of food sharing in primates. Behavioral Ecology and Sociobiology, 65(11), 2125-2140.