KANDIDAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN KE-47 DARI NYARU MENTENG
Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, dan Yayasan Borneo Orangutan Survival (Yayasan BOS) akan segera melakukan pelepasliaran orangutan ke-47 dari Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Berikut adalah kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan:
1. Himba
Himba adalah orangutan jantan yang diserahkan oleh warga Takaras, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ia tiba di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng pada 2 Oktober 2011 tanpa induk. Saat itu, usianya diperkirakan baru 5–6 bulan dengan berat badan 3,3 kilogram.
Ketika tiba di Nyaru Menteng, kondisi Himba sangat memprihatinkan. Ia ditemukan di lokasi kebakaran hutan dengan luka bakar di hampir seluruh tubuhnya. Beruntung, Himba memiliki daya tahan tubuh yang kuat sehingga mampu melewati masa kritis dan pulih dengan sangat baik.
Setelah dinyatakan pulih, Himba mulai bergabung di Sekolah Hutan pada 5 Maret 2014. Proses pembelajarannya berlanjut hingga ia memasuki tahap pra-pelepasliaran di Pulau Bangamat pada 18 Februari 2019. Selama masa rehabilitasi, Himba dikenal sebagai individu yang cukup sensitif terhadap kehadiran manusia maupun sesama orangutan. Ia juga merupakan penjelajah aktif yang sangat terampil dalam mencari pakan alami.
Kini, setelah menjalani masa rehabilitasi selama 14 tahun, Himba telah menginjak usia 15 tahun dan siap memulai hidup barunya sebagai orangutan liar di habitat alaminya, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
2. Nett (Otong)
Nett adalah orangutan jantan yang awalnya diserahkan oleh masyarakat kepada Yayasan POB (Protect Our Borneo), sebelum kemudian diserahkan kepada BOS Foundation untuk menjalani proses rehabilitasi. Nett tiba di Nyaru Menteng pada 31 Juli 2018. Saat itu, usianya diperkirakan sekitar 3 tahun dengan berat badan 10,6 kilogram.
Setelah melalui rangkaian pemeriksaan kesehatan, Nett menjalani masa rehabilitasi dengan sangat baik. Pada 28 Juli 2023, ia memasuki tahap akhir proses pembelajarannya dengan dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran. Di sana, Nett dikenal sebagai individu yang mudah bergaul dan telah memiliki keterampilan yang mumpuni dalam mencari pakan alami secara mandiri.
Kini, setelah sekitar 6 tahun menjalani masa rehabilitasi, Nett telah berusia 11 tahun. Berbekal insting liar dan kemandirian yang telah terasah selama di Nyaru Menteng dan pulau pra-pelepasliaran, ia siap dilepasliarkan menuju habitat alaminya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
3. Lykke
Lykke tiba di Nyaru Menteng bersama induknya bernama Lido, yang diselamatkan dari Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada 29 Agustus 2003. Saat itu, Lykke masih sangat muda, yakni sekitar 1 bulan, dengan berat badan 1,3 kilogram.
Saat tiba di pusat rehabilitasi, terdapat luka pada tangan Lykke yang memerlukan perawatan medis intensif sehingga ia harus dipisahkan sementara dari induknya. Namun setelah pulih, induknya justru menunjukkan penolakan untuk kembali bersama anaknya. Berdasarkan kondisi tersebut, diputuskan bahwa Lykke akan menjalani proses rehabilitasi secara mandiri bersama orangutan lain seusianya untuk mempelajari keterampilan hidup di alam.
Perjalanan rehabilitasi Lykke berlanjut hingga ia memasuki tahap pra-pelepasliaran di Pulau Salat pada 5 April 2017. Selama berada di pulau tersebut, Lykke dikenal sebagai individu yang cenderung soliter dan menghindari interaksi langsung dengan manusia. Meski demikian, ia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mencari pakan alami.
Kini, setelah menjalani proses rehabilitasi selama hampir 22 tahun, Lykke telah berusia 23 tahun. Dengan insting dan kemandirian yang telah matang, ia siap menjalani kehidupan barunya sebagai orangutan liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
4. Farida
Farida adalah orangutan betina yang diselamatkan dari Tumbang Samba, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Ia tiba di Nyaru Menteng pada 5 Agustus 2011 saat berusia sekitar 3,5 hingga 4 tahun dengan berat badan 11 kilogram.
Setelah melewati tahapan Sekolah Hutan, Farida kemudian menempati pulau pra-pelepasliaran di Pulau Bangamat pada 5 Desember 2019. Karena kemampuan menjelajahnya yang sangat baik hingga beberapa kali terpantau menyeberangi batas pulau, Farida kemudian dipindahkan ke Pulau Kaja pada 3 September 2021.
Di lingkungan barunya tersebut, Farida terbukti mampu beradaptasi dengan sangat baik. Ia tumbuh menjadi individu yang gemar menjelajah, mampu membela diri saat diperlukan, serta sangat terampil dalam mencari pakan alami.
Kini, di usianya yang menginjak 19 tahun setelah menjalani proses rehabilitasi selama sekitar 15 tahun, Farida telah siap untuk hidup bebas dan akan segera memulai kehidupannya sebagai orangutan liar di habitat alaminya, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
5. Semeru
Semeru adalah orangutan betina yang diselamatkan dari Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ia tiba di Nyaru Menteng pada 26 September 2012 saat usianya masih sekitar 3–3,5 tahun dengan berat badan 15,2 kilogram, tanpa induk.
Setelah menjalani berbagai tahapan rehabilitasi, Semeru memasuki tahap pra-pelepasliaran di Pulau Kaja pada 4 Maret 2019. Semeru dikenal sebagai orangutan yang tidak agresif, cenderung menghindari pertemuan dengan manusia, serta telah terampil dalam mencari pakan alami secara mandiri.
Kini Semeru berusia 17 tahun setelah menjalani masa rehabilitasi selama sekitar 13 tahun. Ia telah siap menjelajahi rumah barunya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan menjalani kehidupan sebagai orangutan liar sejati.