PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Hidup di kamp tim Post-Release Monitoring (PRM) kami sangat berbeda dengan kehidupan di kota besar. Salah satunya adalah kesibukan di pagi buta. Apa yang mengharuskan tim PRM untuk bersiap-siap jauh sebelum matahari terbit?
Saat berkunjung dan menginap di kamp pengamatan orangutan seperti Kamp Lesik di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, kita akan dikejutkan oleh sibuknya tim di pagi hari, bahkan di saat dunia masih gelap gulita! Kesibukan pagi hari ini biasanya disebabkan oleh tim PRM yang bersiap untuk bertugas melakukan patroli orangutan. Namun kesibukan tidak pernah berlangsung lama, karena begitu selesai sarapan, mereka segera menghilang di kegelapan pagi, membawa peralatan yang telah disiapkan malam sebelumnya.
Di bulan Oktober lalu, salah satu tim PRM kami meninggalkan Kamp Lesik sebelum matahari terbit menuju Transek Yosi, yang jaraknya sekitar 5 jam perjalanan kaki dari kamp. Tim kami menggunakan senter atau headlamp untuk menembus kegelapan dan fokus memperhatikan langkah di antara remangnya pepohonan di pagi hari. Tim kami juga harus sesekali mengalihkan pandangan ke atas pohon mencari sarang atau tanda keberadaan orangutan.
Mendekati Transek Yosi, tim kami melihat satu orangutan bergelantungan di tajuk pohon. Tidak perlu waktu lama untuk mengidentifikasinya sebagai Bajuri, jantan yang kami lepas liarkan di tahun 2014.
Saat itu, Bajuri tampak tidak mengharapkan kedatangan kami, dan marah saat kami mencoba mengikuti pergerakannya. Ia menggoyangkan dahan, mematahkan ranting, dan melemparnya ke arah kami. Bajuri tidak terlihat makan apa pun selama kami amati, mungkin akibat merasa terganggu keberadaan kami.
Bajuri bergerak dari pohon ke pohon dengan cepat, ingin menjauhi kami. Beberapa kali, ia bersembunyi di rimbunnya tajuk pepohonan menghindari pengamatan kami, namun tim kami terus berusaha keras agar tak tertinggal. Akhirnya ia bergerak ke lerengan curam yang terlalu berbahaya untuk kami tempuh, dan kami kehilangan jejaknya. Karena saat itu sudah menjelang petang, tim kami memutuskan untuk pulang ke kamp.
Hadil pengamatan kami terhadap Bajuri di hati itu relative terbatas, akibat upaya kami menjaga jarak agar tidak membuat Bajuri tak nyaman. Namun, jika tim kami tidak berangkat pagi-pagi sekali, tim kami tidak akan bertemu Bajuri, salah satu penghuni lama Kehje Sewen. Kami sangat senang melihatnya dalam kondisi sehat dan sejahtera.
Kenyataan bahwa Bajuri tidak menyukai keberadaan manusia membuat kami merasa yakin bahwa ia akan terus hidup baik-baik saja di hutan tanpa gangguan.
Memulai kegiatan di pagi hari memang sangat bermanfaat!