Apakah kamu member?

CERITA DI BALIK PELEPASLIARAN ORANGUTAN

Pelepasliaran orangutan bukanlah upaya seremonial, malah sering terasa emosional. Ini bukan karena adanya ikatan antara orangutan dan manusia, melainkan juga karena perjalanannya yang menantang dan penuh kejutan.

Mungkin kamu akan dengan mudah menemukan video pelepasliaran orangutan di media sosial yang tampak seru, tapi realita di lapangan lebih dari itu. Bukan hanya dinamikanya yang membuat perjalanan pelepasliaran bermakna, melainkan juga bentang alamnya yang akan membuatmu terkesima. Ingin tahu detailnya? Mari simak cerita kami selengkapnya di sini.

Perjalanan Darat yang Menantang

Sebelum dilepasliarkan, orangutan akan menjalani tes kesehatan terlebih dahulu guna mengetahui apakah orangutan tersebut sedang mengidap penyakit menular atau tidak. Karena jika orangutan yang terlanjur dilepasliarkan ternyata mengidap penyakit menular, kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah penyakit itu bisa menyebar ke orangutan yang lebih dulu dilepasliarkan tanpa bisa dibendung.

Setelah dipastikan sehat, langkah selanjutnya adalah menyiapkan perjalanan di malam hari. Kenapa di malam hari? Hal ini terkait dengan kondisi orangutan yang lebih rileks pada malam hari tanpa merasa terganggu oleh proses pemindahan.

Selama perjalanan, kendaraan berhenti setiap 2 jam. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk memastikan kondisi orangutan tetap aman, nyaman, dan stabil. Namun, bukan tim pelepasliaran namanya jika perjalanannya mulus.

Pada pelepasliaran orangutan terakhir yang dilakukan BOS Foundation di Kalimantan Tengah, beberapa armada sempat tersesat di tengah gelapnya jalan. Untuk kembali ke jalur yang benar, mereka harus menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer. Hanya bergantung pada lampu sorot mobil, dan tanpa koneksi internet, proses menemukan jalan keluar menjadi tantangan yang jauh lebih berat. 

Setelah mencoba memutar arah, ternyata tantangan selanjutnya sudah menunggu: salah satu kendaraan mengalami pecah ban, yang berarti akan lebih memakan waktu dan membuat tim dan orangutan semakin berpacu dengan waktu.

Akibatnya, waktu pelepasliaran baru bisa dilaksanakan jauh dari target waktu yang telah ditetapkan. 


Pertemuan Dengan Orangutan Alpha

Sesampainya di desa terakhir, seluruh tim langsung menggotong kandang ke klotok dan melanjutkan perjalanan di sungai. Prosesnya berjalan cepat karena semakin lama perjalanan tertunda, semakin lama pula orangutan dilepasliarkan, yang akan membuat kondisi mereka semakin tidak stabil.

Setibanya di lokasi pelepasliaran, orangutan bernama Semeru dan Farida yang lebih dulu dilepasliarkan. Saat tim bersiap membuka kandang Himba, Lyke, dan Nett, terdengar teriakan dari salah satu teknisi: “Tege Franky!” (“Ada Franky!” dalam bahasa Dayak). Franky, orangutan jantan dominan yang sudah dilepasliarkan pada tahun 2019 lalu.

Orangutan jantan dominan memiliki ciri-ciri berupa bantalan pipi yang tebal dan tubuh yang besar. Meskipun Franky dulu dilepasliarkan di titik yang jauh, ternyata ia menjelajah hingga titik pelepasliaran terbaru.

Sesuai prosedur, keselamatan orangutan menjadi prioritas yang diutamakan dengan memberi ruang aman yang bertujuan agar orangutan bisa tetap dalam keadaan tenang.

Franky ternyata tertarik pada kandang transport yang sudah kosong, karena mungkin ia familiar dengan benda yang mengantarkannya ke kebebasannya. Kondisi ini sangat jarang terjadi sehingga membuat seluruh tim menahan napas.

Baca juga:

Mengapa Memilih Titik Pelepasliaran Tidak Pernah Sesederhana yang Terlihat

Kejadian dengan Franky sebenarnya mengungkap satu hal yang jarang disadari publik, yaitu bahwa menemukan lokasi yang tepat untuk pelepasliaran adalah salah satu tahapan paling rumit dalam keseluruhan proses, bahkan sebelum perjalanan dimulai.

Sebuah lokasi tidak bisa begitu saja ditetapkan sebagai titik pelepasliaran. Ada serangkaian syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu, mulai dari ketinggian kawasan, ketersediaan pakan alami di hutan, keamanan dari rencana eksplorasi dan eksploitasi lahan, populasi orangutan liar yang minimal atau bahkan tidak ada sama sekali, hingga jarak yang jauh dari permukiman manusia.

Bahkan sebelum itu, tim juga harus memastikan ketersediaan pakan di lokasi tersebut benar-benar memadai. Untuk itu,  tim pemantau melakukan survei fenologi setiap bulan guna memetakan jenis dan jumlah pohon pakan yang tersedia di kawasan tersebut, lengkap hingga ke nama Latinnya, sebelum sebuah titik benar-benar dianggap layak huni bagi orangutan yang akan dilepasliarkan.

Tantangan tidak berhenti di situ. Kehadiran individu dominan seperti Franky di sebuah kawasan menjadi pengingat bahwa sekalipun sebuah lokasi telah lolos seluruh tahapan seleksi, dinamika di lapangan tetap bisa berubah sewaktu-waktu. Itulah mengapa proses pemantauan tidak berhenti begitu orangutan dilepasliarkan. 

Tim pemantau pasca-pelepasliaran akan terus mengikuti pergerakan setiap individu menggunakan radio tracking, GPS, dan kompas, untuk memastikan mereka benar-benar mampu beradaptasi, menemukan sumber pakan secara mandiri, serta terhindar dari konflik dengan orangutan lain maupun manusia di sekitar kawasan tersebut.

Semua kerumitan ini menjelaskan mengapa proses pelepasliaran tidak pernah bisa dianggap selesai hanya karena orangutan sudah dilepasliarkan. Justru di titik itulah babak baru yang sama pentingnya baru saja dimulai.

Hal ini adalah bukti bahwa momen pelepasliaran memiliki berbagai dinamika yang tak terduga dan dedikasi yang tak terbatas, yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, demi satu tujuan, yaitu mengantarkan setiap orangutan kembali ke rumahnya. 




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup