Apakah kamu member?

10 ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAHNYA! (BAGIAN 2)

21 Maret 2014 | Pelepasliaran Hari Kedua

Setelah sukses dengan kegiatan pelepasliaran 8 orangutan kemarin, hari ini BOS Foundation Samboja Lestari melanjutkan rangkaian kegiatan pelepasliaran orangutan dengan mengirim dua orangutan lagi ke Hutan Kehje Sewen.
 

Pentingnya Pengecekan DNA!

Hari ini, kami akan melepasliarkan dua kandidat orangutan di Hutan Kehje Sewen, yaitu Kent dan Wani setelah nyaris tidak jadi diberangkatkan karena harus melakukan pengecekan DNA ulang.

Melepasliarkan orangutan tidak semudah bayangan banyak orang. Kegiatan ini tidak sekedar membawa mereka ke hutan dan membuka pintu kandangnya. Ada banyak kriteria yang harus dipatuhi, baik kriteria nasional maupun internasional (IUCN). Salah satu kriterianya adalah memastikan bahwa daerah pelepasliaran sesuai dengan sub-spesies orangutan yang bersangkutan. Dan karenanya, sangatlah penting untuk melakukan pengecekan DNA.

Pengecekan DNA sangat penting untuk memastikan orangutan tersebut direhabilitasi dan dilepasliarkan di wilayah alami sesuai sub-spesiesnya. Penempatan orangutan sesuai sub-spesiesnya akan menghemat biaya pelepasliaran di kemudian hari. BOS Foundation harus melakukan tes DNA yang lebih detail terhadap dua kandidat orangutan yang sebelumnya menjadi kandidat orangutan release bersama delapan orangutan yang telah lebih dahulu dilepasliarkan kemarin. Makanya kandidat susulan ini baru bisa dipastikan keikutsertaannya dalam program pelepasliaran setelah proses tes DNA selesai. Kisah Kent dan Wani ini menunjukkan pentingnya tes DNA oleh Pemerintah sebelum menempatkan orangutan di pusat-pusat rehabilitasi orangutan.
 

Hujan Deras di Samboja Lestari

Sejak semalam hujan mengguyur Samboja Lestari hingga pagi menjelang. Tim pelepasliaran baik di Samboja Lestari, Muara Wahau dan juga di Hutan Kehje Sewen saling berkoordinasi guna melaporkan keadaan cuaca di masing-masing wilayah. Semakin siang, cuaca semakin cerah dan membawa harapan bahwa hari ini kegiatan akan berjalan dengan lancar.

Sama seperti kemarin. Tim Medis dan Teknisi sudah bersiap sejak pukul 05.00 dini hari di Kandang Karantina. drh. Agus Irwanto selaku coordinator Tim Pelepasliaran di Samboja Lestari bersama drh. Agnes Pratamiutami sudah siap dengan peralatan pembiusan bagi kedua orangutan di hari kedua ini. Tapi karena hujan masih mengguyur Samboja Lestari, maka kegiatan pembiusan kandidat orangutan baru dilakukan pada pukul 09.15 di bawah guyuran hujan rintik-rintik. Hal ini tidak menyurutkan semangat kami.

Hari ini pembiusan pertama dilakukan terhadap Kent, kandidat orangutan jantan mandiri, terampil bertahan hidup di alam liar, dan tidak menyukai kehadiran manusia.

Di kandangnya, Kent tampak mulai merasakan reaksi obat bius. Perlahan ia duduk bersandar di salah satu sudut kandang, karena merasakan kantuk yang teramat sangat.

Akhirnya Kent pun tertidur. Teknisi lalu bergerak mendekati kandang karantina dan mengeluarkan Kent. Sebelum dipindahkan ke kandang transport yang akan membawanya pulang ke rumah sejatinya di Hutan Kehje Sewen, drh. Agus Irwanto mengambil sampel darahnya untuk dimasukkan ke dalam bank serum.

Kent lalu dibawa dengan tandu menuju kandang transport yang sudah disiapkan di dekat truk. Sama seperti teman-temannya yang sudah dilepasliarkan kemarin, sebelum pintu kandang ditutup, Kent diberi suntikan reversin.

Setelah selesai memindahkan Kent ke kandang transport, persiapan pembiusan Wani, orangutan betina yang cantik ini dilakukan oleh drh. Agus Irwanto.

Tak mau berlama-lama menunggu karena hari sudah semakin siang, pembiusan terhadap Wani dilakukan oleh teknisi Firman. Firman adalah salah satu teknisi senior di BOS Foundation Samboja Lestari. Ia berusaha mencari posisi yang tepat untuk melakukan pembiusan. Tepat pukul 09.52 Wani pun berhasil dibius.

Di kandangnya Wani tampak masih segar dan tidak terlihat tanda-tanda reaksi pembiusan. Tim Medis memutuskan untuk memberikan bius tambahan setelah menunggu hampir tujuh menit dan Wani belum menunjukkan tanda-tanda akan tidur. 12 menit sejak pertama kali dibius, Wani masih belum tertidur juga, akhirnya bius tambahan kedua diberikan kepada Wani.

Empat menit berlalu akhirnya Wani pun tertidur. Teknisi lalu bergegas mengeluarkan Wani dari kandang karantina dan memindahkannya ke kandang transport.

Proses pengambilan sampel darah dan pemberian suntikan reversin terhadap Wani dilakukan di dalam kandang transport, karena tim ingin bergegas berangkat ke bandara Sepinggan Balikpapan. Sebelum nantinya cuaca memburuk.

Sembari terus berkoordinasi dengan Tim di Muara Wahau, tepat pukul 10.15, truk yang membawa Kent dan Wani diberangkatkan ke Bandara Sepinggan di Balikpapan. Perjalanan dari Samboja Lestari ke bandara Sepinggan di Balikpapan ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Setibanya di bandara Sepinggan, pesawat yang akan membawa Kent dan Wani sudah menanti.

Proses pemindahan kedua kandidat orangutan ini dari truk ke dalam pesawat segera dilakukan. Wani yang pertama kali dipindahkan, disusul oleh Kent.

Setelah proses pemindahan selesai, pesawat pun siap terbang membawa Kent dan Wani, yang didampingi oleh drh. Agnes Pratamiutami dan teknisi Norman, ke bandara PT. Swakarsa Sinar Sentosa di Muara Wahau.
 

Hari yang Mendung di Muara Wahau

Badai bergemuruh menerpa kota kecil Muara Wahau sejak tadi malam. Pada pukul 8 pagi ini, cuaca membaik dan badai berganti menjadi gerimis. Hujan pun akhirnya benar-benar berhenti pada pukul 9. Matahari bersinar kembali, namun masih ada awan-awan gelap di langit yang siap untuk kembali menurunkan hujan ke bumi. Setelah mendapat kabar bahwa proses pembiusan di Samboja Lestari tertunda karena cuaca yang tidak mendukung, kami memutuskan untuk menghibur diri dengan sarapan bersama. Kami tidak berangkat ke Bandara PT Swakarsa Sinar Sentosa sampai ada kabar dari Tim Samboja Lestari bahwa mereka telah tiba di Bandara Sepinggan di Balikpapan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.35 siang waktu setempat.

Kami mendapat laporan bahwa hujan juga mengguyur Camp 103 di Kehje Sewen. Walaupun cuaca dilaporkan membaik seiring dengan berjalannya waktu, awan mendung, kabut tebal, dan hujan lebat kembali melanda saat pesawat Twin Otter yang membawa dua orangutan – Kent dan Wani – mendarat di bandara di Muara Wahau pada pukul 1.07 siang.

Kami tetap semangat dan mulai menurunkan kedua kandang berisi Kent dan Wani dari pesawat dan memasukkannya ke sling load. Dari Hutan Kehje Sewen dilaporkan bahwa cuaca tak kunjung membaik. Namun pilot helikopter B3 dari Hevilift, Darren Stockton, mengatakan bahwa dia siap untuk terbang dan melihat keadaan Kehje Sewen dari atas. Darren meyakinkan kami bahwa ia akan berusaha sebisa mungkin untuk masuk ke dalam hutan dan mengantarkan para orangutan pulang ke rumah sejati mereka. Namun ia juga mempersiapkan kami untuk menghadapi kemungkinan bahwa apabila cuaca terus memburuk, mereka harus terbang kembali ke Muara Wahau.


10 Orangutan Kembali ke Rumahnya! (Bagian 2) (Kredit foto: Paulina)

10 Orangutan Kembali ke Rumahnya! (Bagian 2) (Kredit foto: Paulina)

10 Orangutan Kembali ke Rumahnya! (Bagian 2) (Kredit foto: Paulina)

10 Orangutan Kembali ke Rumahnya! (Bagian 2) (Kredit foto: Paulina)

10 Orangutan Kembali ke Rumahnya! (Bagian 2) (Kredit foto: Agus)

10 Orangutan Kembali ke Rumahnya! (Bagian 2) (Kredit foto: Agus)

Berharap Esok Lebih Baik

20 menit kemudian, helikopter B3 bersiap untuk terbang. Helikopter berangkat pada pukul 1.28 siang, menghilang di antara awan-awan gelap, membawa Kent dan Wani menuju hutan. Kami berharap cuaca membaik agar Kent dan Wani bisa pulang ke rumah baru mereka hari ini.

Namun setelah 45 menit, kami masih belum mendengar kabar apa pun dari Tim di Camp 103. Saat kami menghubungi mereka, dilaporkan bahwa helikopter belum terlihat maupun terdengar. Mereka mencoba menghubungi pilot helikopter, namun tidak mendapatkan jawaban. Mereka juga melaporkan bahwa cuaca di hutan semakin memburuk. Kami pun amat sedih. Benar saja, tak lama kami mendengar suara helikopter kembali ke Muara Wahau.

Sekitar pukul 2.25 pm, helikopter melayang di atas landasan Bandara PT. Swakarsa Sinar Sentosa dan perlahan menurunkan sling load yang berisi kandang-kandang Kent dan Wani, kemudian mendarat dengan sempurna. Pilot helikopter mengatakan bahwa ia mencoba dua jalur untuk masuk ke dalam hutan, namun awan-awan tebal nan gelap menghalanginya. Hujan pun turun dengan derasnya di sana, yang semakin mengganggu jarak pandang. Ia pun memutuskan untuk kembali ke Muara Wahau. Tentu saja kami kecewa, tapi kami menyadari bahwa inilah yang terbaik. Tidak ada gunanya melawan alam.

Kami pun mengeluarkan kandang transportasi orangutan dan membawa mereka ke area pepohonan yang memagari bandara. Setelah melakukan koordinasi dengan semua tim di Kantor Pusat, Samboja Lestari, dan Camp 103 di Hutan Kehje Sewen, serta dengan tim dari Airfast, Hevilift, dan PT. Swakarsa Sinar Sentosa, kami memutuskan bahwa Kent dan Wani akan menginap di Muara Wahau dan kami akan mencoba untuk membawa mereka pulang ke rumah baru mereka di hutan besok pagi.

Pada pukul 4 sore, kami memindahkan kandang transportasi ke pondok yang kecil dan nyaman, yang biasanya digunakan sebagai area tunggu bandara. Drh. Agnes dan lima teknisi dari Samboja Lestari pun bermalam di sana menjaga kedua orangutan kita, memastikan bahwa mereka aman dan nyaman. Helikopter juga bermalam di Muara Wahau dan, jika cuaca mengizinkan, siap untuk terbang sepagi mungkin besok. Hari yang berat, memang. Tapi kami berharap esok akan lebih baik.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup