PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
22 Maret 2014 | Pelepasliaran Hari Ke-3
Kedelapan orangutan telah kembali ke rumah sejati mereka di Hutan Kehje Sewen pada 20 Maret 2014 lalu. Namun karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan pada keesokan harinya, Kent dan Wani belum bisa menyusul kedelapan temannya. Hari ini, setelah menginap satu malam di Muara Wahau dan menanti hingga kondisi cuaca cukup kondusif, helikopter B3 akhirnya dapat mengudara mengantar kedua orangutan ini pulang ke rumah sejatinya.
The Final Two Return Home!
Tim berangkat ke bandara pada pukul 06.30 pagi dengan semangat. Muara Wahau masih tertutup kabut tebal, tetapi berbeda dengan pagi sebelumnya, kicau burung terdengar dengan merdunya. Tim akan segera memberangkatkan Kent dan Wani pulang ke rumahnya di Hutan Kehje Sewen, setelah penundaan yang disebabkan cuaca buruk hari kemarin.
Pagi yang Berkabut
Tim tiba di bandara PT. Swakarsa Sinar Sentosa pada pukul 07.00. drh. Agnes dan lima teknisi yang menemani orangutan sepanjang malam sudah terlihat sibuk mengecek kondisi dan memberi makan pagi untuk Kent dan Wani. Wani tampak tidak sabar, tetapi siapa yang dapat menyalahkannya? Wani memukul kandang beberapa kali dan menggoncang-goncangkannya ke berbagai arah. Tetapi dia berhenti ketika drh. Agnes memberinya susu. Kent dan Wani dalam kondisi yang sehat. drh. Agnes mengatakan bahwa Kent dan Wani tampak tenang dan tidur dengan nyenyak sepanjang malam.
Laporan dan beberapa foto yang dikirim dari Kehje Sewen menunjukkan bahwa kondisi di sana juga masih berkabut tetapi tidak hujan, jadi kami berharap itu adalah sebuah pertanda baik. Maka Tim menunggu kepastian sambil makan pagi bersama dan berusaha menghibur satu sama lain dengan saling bercanda. Kami bisa menunggu seharian penuh. Kapanpun langit mulai terlihat cerah, kami akan segera memberangkatkan Kent dan Wani ke tempat di mana seharusnya mereka berada, Hutan Kehje Sewen.
Selamat Jalan, Kent dan Wani!
Pada pukul 11.00, sinar matahari mulai menyeruak muncul, mengusir kabut tebal yang sejak pagi menggantung. Tim di Kehje Sewen juga melaporkan bahwa langit sudah mulai cerah. Tim langsung bersiap. Setelah melakukan pengecekan akhir terhadap kedua orangutan oleh drh. Agnes, teknisi mulai membawa kandang transport dan memasukkannya ke dalam sling load. Hellicopter Landing Officer (HLO) melakukan pengecekan terakhir dan pilot helikopter segera menyalakan mesin.
Pada pukul 11.11, Kent dan Wani akhirnya diangkat ke udara sekali lagi, mereka dibawa menuju rumah baru mereka di Hutan Kehje Sewen. Tim megucapkan selamat tinggal dan berdoa untuk keselamatan mereka sampai di rumahnya. Tim lalu menunngu di sebuah pondok di sekitar bandara dan menunggu kabar baik dari Tim yang ada di Kehje Sewen.
Akhirnya, helikopter kembali dengan selamat di Muara Wahau pada pukul 12.48, membawa kandang kosong dari pelepasliaran dua hari yang lalu. Tidak lama setelah itu, helikopter kembali terbang menuju Balikpapan membawa empat orang Tim pelepasliaran orangutan. Team yang lain dengan senang hati kembali ke Balikpapan melalui jalan darat dan beristirahat dengan tenang sambil menunggu cerita seru dari pelepasliaran Kent dan Wani di Hutan Kehje Sewen.
Mereka yang Akhirnya Pulang
Tepat pukul 10:55, helikopter B3 yang membawa Kent dan Wani dalam kandang trasportasi, mendarat tepat dan selamat di helipad Camp 103 dipandu HLO Samboja Lestari, Masino.
Kedatangan Kent dan Wani disambut hujan. Segera, kedua orangutan ini pun diangkut menuju titik pelepasliaran mereka, sekitar 1,8 km dari Camp 103 mengarah ke Sungai Lembu. Titik pelepasliaran kedua orangutan ini dipilih secara khusus oleh Dr. Sri Suci Utami Atmoko, seorang ahli orangutan sekaligus konsultan ahli untuk Yayasan BOSF yang berkesempatan hadir dalam pelepasliaran orangutan Yayasan BOS kali ini.
Kandang Wani dibuka terlebih dulu sebelum kandang Kent. Dilepasliarkan oleh Sam Edri, teknisi Samboja Lestari pada pukul 12.30, orangutan betina ini langsung berlari keluar kandang dan memanjat pohon. Wani yang awalnya tak sabar dan terus menggedor kandang, terus memanjat dan mengamati sekitar lokasi pelepasliarannya dari atas pohon.
Giliran si jantan Kent untuk dilepasliarkan pun tiba. Kandang Kent yang terletak sejauh 200 meter dari kandang Wani, dibuka oleh Wondo, driver Pelangsiran yang sudah banyak terlibat dalam kegiatan pelepasliaran orangutan di Hutan Kehje Sewen dengan mengantarkan orangutan ke titik pelepasliaran. Kent yang dilepasliarkan 15 menit setelah pelepasliaran Wani, langsung memanjat pohon dan mengamati sekitar titik pelepasliarannya begitu kandangnya dibuka.
Kent dan Wani beruntung dapat segera pulang ke rumah mereka di Kalimantan Timur begitu hasil tes DNA mereka diketahui. Tes DNA membutuhkan biaya besar dan proses yang tidak sebentar, sementara mereka tidak mungkin menunggu lebih lama lagi untuk dapat pulang ke habitat alami mereka.
Hasil tes DNA kedua orangutan ini diketahui di saat-saat yang sempit di mana Tim sedang berada di tengah kesibukan pelepasliaran 8 orangutan. Berutung, hasil tes DNA Kent dan Wani menunjukkan bahwa mereka adalah orangutan Kalimantan Timur sehingga mereka dapat segera diberangkatkan menyusul kedelapan temannya. Akhirnya mereka dapat pulang ke habitat alami mereka di Kalimantan Timur meski sempat menghadapi kendala cuaca. Selamat menempati rumah baru, Kent dan Wani.