Apakah kamu member?

SORE DI BUKIT SIWIE BERSAMA YAYANG & SAYANG

Pagi yang cerah mengawali patroli mencari sinyal orangutan hari ini, setelah seminggu hujan mengguyur Hutan Kehje Sewen. Dalam patroli kali ini, saya, Yosi dan Bariyo mendapat tugas untuk menyusuri transek Wani sampai Sungai Tyo. Dua tim Post Release Monitoring (PRM) lainnya ditugaskan ke transek Gunung Belah dan ke transek Martin. Kami berangkat bersama-sama dari Camp Lesik dan setibanya di Sungai Gunung Belah, tim patroli berpisah untuk menuju ke jalur patroli masing-masing.

Saya, Yosi, dan Bariyo menuju transek Wani. Seperti biasa, setiap 100 meter kami mengecek keberadaan sinyal orangutan mengunakan radio telemetri, tapi hasilnya nihil. Kami masih berusaha untuk mendapatkan sinyal orangutan dengan naik ke punggungan bukit di transek Mobil Mogok, namun hasilnya tetap sama, tidak terdeteksi satu pun sinyal orangutan.

Setelah beberapa lama, kami pun memutuskan untuk turun kembali ke jalan utama dan melanjutkan patroli ke Sungai Tyo, karena dari informasi yang kami peroleh kemarin, ada masyarakat setempat yang melihat pergerakan orangutan di Sungai Tyo. Setibanya di Sungai Tyo kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah bersamaan rintik hujan yang mulai turun lagi.

Beberapa minggu terakhir ini, hujan selalu turun di siang hari. Cuaca yang tidak bersahabat tidak mematahkan semangat kami untuk melanjutkan patroli. Namun saat hujan kami tidak bisa menggunakan alat radio telemetri yang tidak waterproof ini untuk melacak sinyal orangutan, sehingga kami pun melanjutkan patroli di sekitar Sungai Tyo dengan cara “manual”, yaitu melihat apakah ada patahan ranting, sisa-sisa pakan, atau feses yang mungkin menandakan keberadaan orangutan di sekitar jalur yang dilewati.

Untunglah, tidak berapa lama hujan pun reda. Setelah itu, kami mendapat informasi melalui handy talky (HT) bahwa salah satu tim patroli mendapat sinyal Yayang dari arah Bukit Siwie. Setelah berdiskusi dengan dua tim yang lain, kami sepakat untuk mencari Yayang bersama-sama. Tapi upaya gabungan tiga tim ini tidak membuahkan hasil. Setibanya di Bukit Siwie, Yayang tidak ditemukan. Ketiga tim pun akhirnya berpisah lagi dan kembali ke jalur transeknya masing-masing.

Saya, Yosi dan Bariyo melanjutkan patroli mengikuti punggungan Bukit Siwie. Menjelang sore, kami melihat Yayang yang tengah asyik menikmati ‘kudapan’ sore berupa umbut jahe-jahean dan rayap. Akhirnya kami bertemu juga dengan Yayang!


Sore di Bukit Siwie bersama Yayang & Sayang (Kredit foto: BOSF-RHOI 2015)

Sore di Bukit Siwie bersama Yayang & Sayang (Kredit foto: Luy)

Sore di Bukit Siwie bersama Yayang & Sayang (Kredit foto: Deny)

Sore di Bukit Siwie bersama Yayang & Sayang (Kredit foto: Agus)

Yayang
Tidak jauh dari tempat Yayang duduk, di atas pohon, ada Sayang yang langsung menunjukkan ketidaksukaannya melihat kedatangan kami dengan mengeluarkan suara kiss-squeak (seruan yang menunjukkan ketidaksukaan atau ketidaknyamanan dengan cara seperti bersiul atau mencicit).

Sayang
Kami lalu menjaga jarak agar Sayang tenang. Lalu mulai mengamati pasangan ibu dan anak ini, Yayang yang sedang hamil terlihat sehat dan banyak makan. Dari pengamatan kami, ia dan putrinya Sayang banyak makan buah dan daun muda.

Sayang and Yayang
Setelah melakukan observasi selama dua jam dan mengumpulkan dokumentasi, kami meninggalkan keduanya dalam tenang. Kami berharap kehamilan Yayang berjalan lancar dan dapat melahirkan bayi orangutan liar pertama di Hutan Kehje Sewen, yang juga sehat dan aktif seperti kakaknya, Sayang.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup