Apakah kamu member?

YAYASAN BOS PERKUAT KESIAPSIAGAAN KEBAKARAN KALTENG

Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di berbagai wilayah di Kalimantan Tengah. Sungai-sungai yang menjadi sumber air bagi masyarakat dan ekosistem semakin menyusut, sementara kondisi lahan gambut yang semakin kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Di sejumlah wilayah, periode tanpa hujan telah berlangsung selama beberapa pekan, sementara curah hujan pada awal Agustus berada pada kategori rendah. Kondisi ini meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kekeringan dan kebakaran, terutama pada ekosistem gambut 

Bagi Yayasan BOS, kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Sebagian wilayah kerja Yayasan BOS berada di ekosistem gambut yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Ketika muka air menurun dan kanal-kanal mulai mengering, gambut menjadi lebih rentan terbakar 

Ketika Air Surut, Risiko Kebakaran Meningkat

Gambut yang tetap basah secara alami relatif sulit terbakar. Namun, ketika muka air turun akibat kondisi kering berkepanjangan dan drainase yang buruk, lapisan gambut menjadi semakin kering dan mudah terbakar 

Kebakaran gambut juga memiliki karakteristik yang berbeda dari kebakaran vegetasi biasa. Api dapat menjalar dan membara di bawah permukaan tanah, sulit dideteksi dan dipadamkan, serta menghasilkan asap dalam jumlah besar. Kebakaran gambut juga melepaskan karbon dalam jumlah besar dan dapat merusak fungsi ekologis serta hidrologis di kawasan tersebut 

Karena itu, menjaga ketersediaan air menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran. Tim Yayasan BOS terus memantau kondisi kanal, embung, sumur bor, serta sumber air lainnya untuk memastikan ketersediaan air dan kesiapan pemadaman apabila diperlukan.

Sungai Surut, Pengawasan Pulau Pra-Pelepasliaran Diperketat

Dampak musim kemarau juga mulai terlihat di sekitar kawasan pulau pra-pelepasliaran orangutan 

Di beberapa lokasi, permukaan sungai yang selama ini menjadi batas alami antara pulau dan daratan utama telah surut hingga setinggi mata kaki. Kondisi ini membuat batas alami tersebut lebih mudah dilalui. Bagi orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi dan dipersiapkan untuk hidup mandiri di alam, meninggalkan kawasan yang telah ditentukan dapat meningkatkan risiko interaksi dengan manusia, konflik, serta berbagai ancaman lainnya 

Karena itu, tim Yayasan BOS mulai meningkatkan penjagaan di zona sekitar pulau untuk memastikan orangutan tetap berada di kawasan yang aman, sekaligus memantau perubahan kondisi sungai dari hari ke hari 

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak musim kemarau terhadap konservasi orangutan tidak selalu muncul dalam bentuk kebakaran secara langsung. Perubahan kondisi lingkungan juga dapat menciptakan risiko baru yang memerlukan penyesuaian dalam pengelolaan dan pengawasan terhadap satwa.

Asap Mulai Terasa di Sekitar Pusat Rehabilitasi

Sementara itu, asap dari kebakaran di sekitar wilayah Kalimantan Tengah mulai terasa di sekitar Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng 

Hingga saat ini, Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng belum terdampak langsung oleh kebakaran dan belum ada orangutan yang harus dievakuasi akibat karhutla. Namun, paparan asap mulai menjadi perhatian karena kualitas udara yang terus memburuk dapat berdampak pada kesehatan orangutan maupun staf apabila berlangsung dalam waktu lama. Untuk saat ini, belum terdapat kasus ISPA pada orangutan di pusat rehabilitasi. Tim di Nyaru Menteng terus memantau kondisi kesehatan dan memberikan pembaruan situasi setiap hari. 

Kondisi kualitas udara di Palangka Raya juga menunjukkan dampak karhutla yang terjadi di wilayah sekitarnya. Pada 18 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 166,4 µg/m³ di Palangka Raya, yang berada dalam kategori sangat tidak sehat. Pantauan Kualitas Udara BMKG 

Meskipun kondisi saat ini belum berdampak langsung terhadap pusat rehabilitasi, situasi tersebut terus dipantau karena perubahan arah angin, peningkatan titik api, maupun perubahan kondisi cuaca dapat memengaruhi kualitas udara dan risiko kebakaran dalam waktu relatif singkat. 


Mawas: Kebakaran Sudah Berdampak pada Lanskap Konservasi

Ancaman tersebut bukan lagi sekadar potensi.

Di kawasan konservasi Mawas, salah satu wilayah kerja Yayasan BOS di Kalimantan Tengah, kebakaran telah berdampak pada sekitar 48 hektare kawasan hutan rawa gambut, berdasarkan pemantauan terakhir tim lapangan.

Mawas merupakan salah satu lanskap penting bagi konservasi orangutan. Ketika kebakaran terjadi di ekosistem gambut, dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama daripada durasi api itu sendiri. Hilangnya vegetasi berarti hilangnya sumber pakan dan tempat berlindung bagi satwa, sementara kerusakan gambut dapat mengganggu fungsi hidrologis kawasan dan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran berikutnya.

Kebakaran juga dapat memaksa orangutan berpindah dari habitatnya dan meningkatkan kemungkinan mereka mendekati wilayah yang digunakan manusia. Dalam kondisi ekstrem, kerusakan habitat dapat meningkatkan kebutuhan akan penyelamatan dan penanganan satwa.

Read more:

Yayasan BOS Meningkatkan Kesiapsiagaan Setiap Hari

Menghadapi kondisi yang semakin kering, Yayasan BOS tidak menunggu sampai api mendekati fasilitas rehabilitasi.

Di Nyaru Menteng, Satgas Fire melakukan patroli setiap hari di sepanjang batas kawasan, termasuk memeriksa dan memastikan kondisi sekat bakar tetap siap berfungsi sebagai penghalang apabila terjadi kebakaran. Pemantauan hotspot juga dilakukan setiap hari dengan memanfaatkan data satelit dan informasi lapangan, sehingga potensi ancaman dapat terdeteksi dan direspons sedini mungkin.

Kesiapsiagaan Yayasan BOS menggunakan sistem tingkat risiko bertahap, mulai dari kondisi normal hingga situasi darurat. Tingkat respons ditentukan berdasarkan indikator seperti kemunculan hotspot di sekitar kawasan, jarak titik api dari lokasi Yayasan BOS, keberadaan asap, kondisi kering yang berkepanjangan, hingga adanya kebakaran yang secara langsung mengancam kawasan.

Pada kondisi risiko rendah, tim secara rutin melakukan pemantauan dan pemeriksaan terhadap peralatan. Ketika risiko meningkat, patroli dan pemantauan hotspot diperkuat serta kesiapan sumber daya ditinjau kembali. Jika terdapat hotspot aktif di sekitar kawasan atau asap mulai terdeteksi, tim respons kebakaran disiagakan dan sumber daya pemadaman diposisikan agar dapat segera digunakan. Apabila kebakaran telah terkonfirmasi mengancam kawasan Yayasan BOS, mekanisme respons darurat dan koordinasi eksternal akan diaktifkan.

Pendekatan bertingkat ini memungkinkan tim mengambil tindakan sebelum situasi berkembang menjadi keadaan darurat. 

Selain patroli dan pemantauan, kesiapan infrastruktur juga terus diperiksa, termasuk kondisi pompa, peralatan pemadam, sumur bor, embung, kanal, serta akses menuju sumber air. Di beberapa lokasi, peningkatan aksesibilitas terus dilakukan untuk memastikan personel dan peralatan dapat dimobilisasi dengan cepat apabila diperlukan.

Koordinasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan di sekitar kawasan juga menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. Deteksi dini dan respons cepat sangat bergantung pada kemampuan berbagai pihak untuk berbagi informasi dan bertindak sebelum api meluas.

Belajar dari Kebakaran 2015

Pengalaman Yayasan BOS menghadapi kebakaran besar pada 2015 menjadi salah satu dasar penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan saat ini.

Pada saat itu, kebakaran yang diperparah oleh fenomena El Niño menghancurkan 266 hektare area reforestasi di Samboja Lestari dan berdampak pada sekitar 15.442 hektare habitat alami orangutan di lanskap Mawas. Kebakaran juga mengganggu operasional konservasi, termasuk memaksa penutupan Sekolah Hutan di Nyaru Menteng akibat kualitas udara yang berbahaya.

Yayasan BOS juga melakukan operasi penyelamatan terhadap orangutan yang terdesak akibat kerusakan habitat dan kebakaran. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketika kebakaran sudah berkembang menjadi krisis, dampaknya dapat meluas jauh melampaui area yang terbakar.

Karena itu, pelajaran terpenting dari pengalaman tersebut adalah bahwa kesiapsiagaan tidak dapat dibangun ketika krisis sudah terjadi.

Mencegah Api Sebelum Menjadi Krisis

Kondisi saat ini mengingatkan kita bahwa musim kebakaran belum berakhir. Sungai yang semakin surut, gambut yang semakin kering, asap yang mulai terasa, dan kebakaran yang telah berdampak di Mawas menunjukkan bahwa risiko tersebut sudah nyata di lapangan.

Bagi Yayasan BOS, menjaga orangutan bukan hanya berarti merawat mereka di pusat rehabilitasi. Perlindungan juga berarti menjaga hutan tempat mereka akan kembali hidup dan memastikan habitat tersebut tetap tersedia serta aman.

Setiap hari tanpa kebakaran besar adalah kesempatan untuk mencegah kerusakan yang jauh lebih besar.

Selama masih ada waktu untuk mencegah api meluas, kesiapsiagaan harus dimulai sekarang.  




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup