PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Ada BANYAK HAL yang bisa kita pelajari dari orangutan. Seperti misalnya, bagaimana cara bertahan hidup di hutan? Berikut adalah beberapa contoh yang kami sempat praktikkan.
Dalam cerita sebelumnya, kami telah menggambarkan tim Post Release Monitoring (PRM) mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan lauk saat persediaan makanan menipis di kamp. Sebenarnya bukan hanya ikan yang kami manfaatkan. Melalui hasil pengamatan terhadap orangutan, kami memahami sumber pakan apa yang kira-kira aman dikonsumsi manusia.
Ekosistem hutan memiliki banyak jenis tumbuhan yang bisa menjadi sumber makanan bagi kita. Namun, bagi mereka yang tidak mengenal baik jenis-jenis tumbuhan ini pasti mengalami kesulitan menentukan makanan yang aman saat membutuhkan. Ada banyak buah atau jamur beracun yang yang tampak menggugah selera, namun beracun dan berbahaya untuk kita. Dalam hal ini, kita bisa meniru orangutan!
Setiap kali mengamati orangutan, kami selalu mendata jenis pakan alami apa saja yang mereka konsumsi hari itu, yang menunjukkan kepada kami jenis tumbuhan yang aman dimakan. Seperti saat mengobservasi Desi dan Kimi, dua orangutan yang hidup di Pulau Juq Kehje Swen.
Desi yang sebelumnya menjalani rehabilitasi di Samboja Lestari, memiliki perbedaan kebiasaan yang mencolok dengan Kimi, orangutan liar yang beberapa waktu lalu kami temukan di dekat Pulau Juq Kehje Swen. Kimi tentu mengenal lebih banyak jenis pakan alami di hutan, dan saat mengamati Kimi, kami mendapat pengetahuan baru. Kami pernah mencoba beberapa buah favorit Kimi, yaitu lunuk (Ficus sp.) atau yang umum disebut ara, dan loa (Ficus racemose) yang banyak ditemukan di Pulau Juq Kehje Swen. Setelah mencoba buah-buahan tersebut, kami baru tahu bahwa rasanya cukup enak!
Sementara dari Desi kami menemukan bahwa drewak (Microcos sp.) atau lempaung (Baccaurea lanceolate) bisa dimakan dengan aman, namun terasa masam di lidah kami!
Di pulau, kami sering melihat buah berwarna merah merona, bernama mondokaki atau bongang (Tabernaemontana macrocarpa), namun, kami tak pernah sekali pun melihat Desi atau Kimi mententuhnya. Kami tahu bahwa tumbuhan ini bisa dimanfaatkan sebagai obet, namun jika salah mengolahnya, bisa berbahaya, lebih baik kami jauhi, kalau begitu!
Kami juga mencoba dedaunan atau umbut tumbuhan, termasuk umbut jenis jahe-jahean, salah satu kesukaan orangutan, kendati sedikit terasa pedas khas rempah-rempah.
Pada akhirnya, saat kita sangat membutuhkan makanan di hutan, siapa yang terlalu peduli soal rasa? Yang penting adalah, jika kami kehabisan bekal di hutan, sementara misi kami belum selesai, kami akan melnitu orangutan untuk mencari sumber makanan yang aman!