KEKUATAN KITA, PLANET KITA
Setiap tanggal 22 April, jutaan orang di seluruh dunia berhenti sejenak untuk mengingat satu hal sederhana sekaligus penting: Bumi adalah rumah kita bersama.
Gugusan Pulau Salat saat ini tergenang banjir akibat curah hujan tinggi, yang juga menyebabkan banjir di berbagai daerah di Kalimantan. Pemantauan ketat kami lakukan untuk menjaga orangutan tetap aman di pulau-pulau mereka.
Dalam beberapa hari terakhir, tiga dari lima provinsi di Kalimantan dilanda banjir besar. Di Kalteng saja, enam kabupaten, termasuk ibu kota provinsi, Palangka Raya terkena banjir sejak pekan lalu, yang berdampak pada ribuan orang.
Kepulauan Salat di Kabupaten Pulang Pisau yang dikelilingi sungai besar mengalami banjir besar akibat curah hujan yang tinggi dan terus menerus. Sebagian besar dari gugusan pulau seluas 2.089 hektar itu saat ini dalam kondisi terendam air.
Tim teknisi segera merespons banjir ekstrem ini dan mulai memantau situasi di semua pulau, termasuk di Pulau Pra-Pelepasliaran Badak Besar dan di Pulau Suaka Badak Kecil.
Hermansyah dari Tim Komunikasi mengatakan, “Staf kami telah berada di lokasi sejak awal banjir untuk menangani permukaan air yang naik dan kondisi yang terus berubah. Kami semua dimobilisasi.” Untungnya, sejauh ini tidak ada fasilitas di pulau yang mengalami kerusakan struktural. Karena air baru mulai surut, tim masih membutuhkan waktu untuk menilai potensi kerusakan, tambahnya.
Sampai saat ini, tampaknya banjir tidak menimbulkan masalah bagi penduduk pulau, tetapi tim terus memantau kondisi setiap hari. “Kami lega makanan masih bisa dengan mudah disediakan karena feeding platform belum terendam air,” kata Hermansyah lagi.
Sementara itu, Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng yang terletak di luar ibu kota Palangka Raya juga sedikit terkena dampak banjir. Air masuk ke beberapa unit akomodasi di sekitar Nyaru Menteng, yang umumnya berisi kamar tidur untuk staf kami.
Di Kawasan Konservasi Mawas, tempat BOS Foundation melaksanakan berbagai proyek penghijauan, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan orangutan liar, banjir juga meluas. Bahkan untuk mencapai area kerja merupakan tantangan bagi tim kami karena jalan raya terendam sehingga masyarakat membutuhkan perahu untuk menyeberang, sementara mobil sama sekali tidak bisa digunakan.
Di wilayah seluas 306.000 ha, ketinggian air bervariasi, tetapi di beberapa stasiun pemantauan kami, dari Rantau Upak hingga Camp Release, air hanya terpisah beberapa sentimeter dari lantai. Di banyak desa setempat, termasuk Tumbang Muroi, Tumbang Mangkutub, Batampang, Batilap, Mangkatip, dan Sungai Jaya, warga terpaksa menghadapi genangan yang merendam rumah-rumah mereka. Tim pemberdayaan masyarakat kami untuk sementara menghentikan kegiatan rutin dan berfokus pada pengelolaan banjir.
Sementara itu, di Kalimantan Timur, sejauh ini tidak ada laporan kerusakan atau erosi tanah lebih lanjut dari lokasi-lokasi kerja program BOS Foundation. Kendati upaya mitigasi banjir kami terfokus di Kalimantan Tengah, kami bersyukur melihat air mulai surut di sejumlah tempat lain. Namun, kondisi cuaca di musim hujan ini sulit diprediksi dan cuaca ekstrem muncul lebih kerap dan efek perubahan iklim semakin tampak jelas. Tim kami akan terus waspada melindungi orangutan dan mendukung masyarakat karena kita semua hidup bersama di planet ini dan kita berbagi masa depan yang sama.
TENTANG PULAU SALAT
Gugusan pulau seluas 2.089 hektar ini meliputi Pulau Badak Besar (496 hektar) dan Badak Kecil (104 hektar), dan terletak di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Di sini beberapa orangutan menjalani satu tahap akhir sebelum menuju kebebasan, sementara yang lain hidup di hutan yang aman, suaka tempat mereka hidup nyaman di bawah dukungan tim teknisi dan dokter hewan kami. Di seluruh wilayah pulau, terdapat 30 orangutan yang dirawat oleh BOS Foundation.
Ketahui kami lebih jauh melalui peta wilayah kerja kami.