PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Untuk memperingati ulang tahun yang ke-25 sekaligus merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni, BOS Foundation akan memberangkatkan lima orangutan dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari menuju titik-titik pelepasliaran yang telah ditentukan sebelumnya di Hutan Kehje Sewen. Inilah profil mereka.
Angely
Angely adalah orangutan betina yang diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II di Tenggarong dari seorang warga di Kecamatan Kaliorang Kutai Timur yang menjadikannya hewan peliharaan. Ia tiba di Samboja Lestari pada 18 Juni 2010 saat usianya 1 tahun. Ketika pertama kali tiba di Samboja Lestari, Angely sangat ketakutan dan trauma, bahkan ia tidak mau digendong maupun dipegang oleh teknisi.
Seiring berjalannya waktu, Angely tumbuh menjadi orangutan betina yang cerdas dan mandiri. Di Sekolah Hutan Level 2 ia menghabiskan hari-harinya dengan penuh semangat menjelajah hutan dan aktif bergerak di atas pohon.
Angely yang memiliki rambut tipis berwarna coklat kehitaman dan senang menyendiri ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 23 kg. Selama hampir enam tahun tinggal di Samboja Lestari, Angely telah banyak mempelajari keterampilan bertahan hidup di hutan. Ia pun siap menyongsong kebebasannya di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.
Kenji
Kenji merupakan orangutan jantan yang diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II di Tenggarong dari seorang warga di Tenggarong yang mengatakan bahwa ia telah menemukan Kenji di dekat sebuah perkebunan kelapa sawit di Desa Wanasari. Kenji ditemukan dalam kondisi yang buruk dengan luka di pinggulnya yang diduga disebabkan oleh tusukan parang. Kenji yang saat tiba berusia 1 tahun, tampak sangat tertekan dan trauma, sehingga ia menolak untuk dipegang saat tim medis melakukan tindakan pengobatan.
Kenji mengawali proses rehabilitasi di Samboja Lestari dengan belajar di Sekolah Hutan grup bayi pada 17 Oktober 2010. Enam tahun sudah Kenji belajar di Sekolah Hutan Level 2 dan tumbuh sebagai orangutan yang cerdas dan pintar mengidentifikasi pakan alami di hutan. Setiap malam, Kenji yang mudah dikenali karena ia memiliki rambut yang tipis dengan warna coklat kehitaman ini lebih senang tidur di Hutan daripada di kandang inap.
Setelah mempelajari semua hal tentang bertahan hidup di alam di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kenji tidak lama lagi akan segera berangkat ke Hutan Kehje Sewen untuk menjalani hidup barunya sebagai orangutan liar sejati.
Hope
Hope merupakan orangutan jantan yang diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dari seorang warga di Balikpapan pada 17 Oktober 2010. Hope datang ke Samboja Lestari dengan kondisi yang kritis; tidak bisa duduk dan makan. Saat Hope tiba, Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari sangat penuh, namun Hope yang saat itu masih berusia satu tahun membutuhkan perawatan segera, sehingga kami segera menyiapkan tempat dan tim medis untuk memberikan perawatan intensif kepadanya. Dua bulan lamanya Hope mendapatkan perawatan intensif dari tim yang sangat berdedikasi, ia pun berangsur pulih dan dapat menjalani proses rehabilitasi di Sekolah Hutan.
Hope dan teman-temannya belajar dan bermain bersama di Sekolah Hutan setiap harinya dan perkembangannya semakin mengesankan. Hope tumbuh menjadi orangutan jantan yang mandiri dan sangat baik dalam mencari pakan alami di hutan maupun membuat sarang.
Hope kini berusia enam tahun dengan berat badan 27 kilogram, dan memiliki postur tubuh yang berisi. Ia akan segera kembali ke habitat alaminya di Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur.
Gadis
Gadis merupakan orangutan betina yang diserahkan oleh PT. Gunung Bayan Prima Coal, Kutai Barat kepada BOS Foundation di Samboja Lestari pada 20 Februari 2014. Ia datang dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat menderita tipus, dan tim medis kami segera memberikan perawatan intensif di klinik Samboja Lestari. Gadis yang saat itu usianya masih 5 tahun dengan berat badan 23 kg berangsur sehat dan mulai menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari.
Selama menjalani proses rehabilitasi di Sekolah Hutan, setiap hari perkembangannya sangat mengagumkan. Gadis yang mempunyai rambut coklat kehitaman ini sangat popular di kalangan orangutan jantan di Sekolah Hutan Level 2, namun ia lebih suka menyendiri. Gadis dapat dengan mudah mengidentifikasi pakan alami di hutan, lebih sering beraktifitas di pohon, dan memiliki kemampuan membuat sarang yang sangat baik.
Gadis yang berparas cantik ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 33 kilogram, dan siap untuk memulai perjalanan menuju kehidupan baru sebagai orangutan liar di Hutan Kehje Sewen.
Raymond
Raymond tiba di Samboja Lestari pada 27 April 2007 setelah diselamatkan oleh BKSDA Kalimantan Timur dari seorang warga di Bontang, Kalimantan Timur. Saat itu ia masih berusia delapan bulan dengan berat badan 3,6 kg, dan mengalami trauma. Secara naluriah ia menghindari kontak dengan manusia. Setelah melewati masa karantina, Raymond bergabung dengan orangutan bayi lainnya di Sekolah Hutan Nursery Group. Seiring berjalannya waktu, Raymond pun tumbuh menjadi orangutan jantan yang mengagumkan dan naik tingkat sampai ke Sekolah Hutan Level 2.
Raymond memiliki rambut tipis berwarna coklat kehitaman dan mudah dikenali karena memiliki dahi lebar dan mata kecil. Ia dominan dan sangat agresif setiap bertemu seseorang yang tidak dikenalinya. Di Sekolah Hutan, Raymond lebih sering beraktivitas di atas pohon dan dikenal sebagai penjelajah yang handal, serta pandai menemukan pakan alami di hutan.
Raymond kini berusia 9 tahun dengan berat badan 29 kg. Dengan semua keterampilan yang sudah dipelajari di Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari, ia telah siap untuk mengawali fase baru sebagai orangutan liar di Hutan Kehje Sewen.