SAAT JERAT HAMPIR MENGHENTIKAN HIDUPNYA
Seekor beruang madu betina tiba di Samboja Lestari dalam kondisi lemah, terluka akibat jerat, dan menanggung luka-luka yang mencerminkan kisah penderitaan panjang. Inilah perjalanan pemulihannya.
Kemampuan mengenali sumber pakan alami merupakan salah satu syarat penting sebelum orangutan dilepasliarkan ke habitat alaminya. Karena itu, selama menjalani proses rehabilitasi, orangutan belajar mengenali berbagai jenis tumbuhan, buah, hingga sumber protein alami yang tersedia di hutan. Kemampuan ini menjadi bekal penting agar mereka mampu bertahan hidup secara mandiri setelah kembali ke alam.
Dalam salah satu kegiatan pemantauan rutin, tim Post-release Monitoring (PRM) di Hutan Lindung Bukit Batikap berkesempatan mengamati induk dan anak orangutan, Manggo dan Melki, selama tiga hari berturut-turut di sekitar transek utama. Selama periode tersebut, tim mencatat berbagai perilaku menarik yang memperlihatkan bagaimana seekor induk mengajarkan anaknya untuk mengenali kehidupan di hutan.
Saat pertama kali ditemukan, Manggo dan Melki sedang menikmati buah Sengkuang (Dracontomelon dao). Pengamatan dimulai pada pukul 13.40 WIB dan berlangsung hingga keduanya membangun sarang untuk beristirahat pada malam hari sekitar pukul 18.00 WIB.
Pada hari pertama, sebagian besar aktivitas Manggo dihabiskan untuk mencari makan. Selain buah Sengkuang, ia juga mengonsumsi daun muda Lunuk (Ficus spp.). Melki terus mengikuti induknya dan beberapa kali terlihat makan bersama. Bagi orangutan muda, momen-momen seperti ini merupakan bagian penting dari proses belajar mengenali sumber pakan alami yang kelak akan menopang hidupnya di alam liar. Anak orangutan menghabiskan sekitar 7–9 tahun bersama induknya, masa pengasuhan terpanjang di antara mamalia darat. Selama periode ini, mereka mempelajari hampir seluruh keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam liar, termasuk mengenali ratusan jenis sumber pakan.
Pengamatan berlanjut keesokan harinya menggunakan metode nest-to-nest, yaitu mengikuti aktivitas orangutan sejak meninggalkan sarang pada pagi hari hingga kembali membangun sarang menjelang malam.
Sepanjang hari kedua, Manggo mengonsumsi beragam jenis pakan, antara lain buah Sengkuang, buah Hampaning (Lithocarpus sp.), umbut atau pucuk muda palem, serta rayap sebagai sumber protein. Melki kembali terlihat makan bersama induknya beberapa kali, yang menunjukkan bahwa anak orangutan belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap perilaku induknya.
Baca juga:
Ekspedisi Monitoring Orangutan & Inventarisasi Biodiversitas
Belajar Bertahan Hidup Dari Sisi dan Sijalu di Tepian Sungai
Pada hari ketiga, pola aktivitas keduanya relatif serupa. Manggo memakan buah Sengkuang, buah Banuang, dan daun muda Lunuk, sementara Melki tetap berada di dekat induknya dan kembali terlihat makan bersama. Kedekatan antara induk dan anak saat mencari makan menjadi bagian penting dari proses belajar orangutan muda, mulai dari mengenali jenis makanan, memilih bagian tumbuhan yang dapat dimakan, hingga memahami cara memperoleh makanan dengan aman.
Selama tiga hari pengamatan, Manggo dan Melki tampak sehat dan aktif. Hal tersebut tercermin dari pola makan yang konsisten serta aktivitas harian yang berjalan normal.
Sarang terakhir yang mereka bangun berada di dekat transek utama pada ketinggian sekitar 16–20 meter dari permukaan tanah. Sarang tersebut termasuk tipe A dengan diameter sekitar 1–1,5 meter dan dibangun di pohon setinggi sekitar 21–25 meter. Melki masih tidur bersama induknya, menunjukkan bahwa ia masih berada pada fase ketergantungan yang tinggi, sesuatu yang wajar bagi anak orangutan seusianya.
Bagi tim monitoring, pengamatan terhadap pasangan induk dan anak, seperti Manggo dan Melki, memberikan informasi penting mengenai pola aktivitas harian, pilihan pakan, proses belajar anak orangutan, hingga kondisi kesehatan individu di alam liar. Informasi ini membantu mengevaluasi kemampuan adaptasi orangutan setelah dilepasliarkan sekaligus memastikan mereka mampu bertahan hidup secara mandiri di habitat alaminya.
Kisah Manggo dan Melki menunjukkan bahwa proses belajar seekor orangutan tidak berhenti setelah dilepasliarkan. Di dalam hutan, setiap hari menjadi kesempatan baru bagi anak orangutan untuk belajar dari induknya, mengenali makanan, membangun sarang, dan memahami kehidupan yang suatu hari nanti harus dijalani secara mandiri.
Dengan melindungi hutan, kita turut memastikan bahwa proses belajar ini dapat terus berlangsung, sehingga generasi orangutan berikutnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang di rumah mereka yang sesungguhnya.